Perlunya Mengatur Intensitas Olahraga agar Aman bagi Jantung
TEMPO.CO | 15/03/2020 10:55
ilustrasi olahraga berpasangan (Pexels.com)
ilustrasi olahraga berpasangan (Pexels.com)

TEMPO.CO, Jakarta - Orang dengan kondisi jantung yang tidak stabil dan yang tidak berolahraga secara teratur memiliki risiko lebih besar terhadap kejadian kardiovaskular ketika melakukan latihan atau olahraga yang intens. Pernyataan tersebut dikeluarkan langsung oleh Asosiasi Jantung Amerika (AHA).

Mereka juga menyarankan orang dengan gaya hidup sehat tetap harus mengembangkan pola latihan perlahan untuk membangun latihan yang intens. AHA juga mengharuskan orang-orang dengan penyakit jantung untuk melakukan konsultasi terlebih dulu dengan dokter sebelum memulai program latihan olahraga tertentu.

Mereka menyatakan peningkatan kesadaran untuk hidup sehat melalui program olahraga intens telah mendorong banyak orang menjadi lebih aktif. Akan tetapi, ini juga meningkatkan jumlah orang yang melakukan latihan intens dengan kondisi tubuh yang tidak siap.

Penelitian telah secara definitif menunjukkan pentingnya aktivitas fisik untuk hidup yang lebih sehat. Dalam hal ini, olahraga memiliki berbagai manfaat, seperti penurunan risiko masalah kesehatan fisik dan memberi manfaat bagi kesehatan mental.

Secara khusus, sebuah studi yang diterbitkan di European Journal of Preventive Cardiology menunjukkan aktivitas fisik dapat mengurangi risiko terkena kardiovaskular hingga 35 persen dan menurunkan risiko kematian karena penyakit lain. Studi lain yang diterbitkan di British Journal of Pharmacology menyatakan olahraga berdampak sangat efektif bagi kesehatan sehingga dianggap sebagai obat. Para penulis studi menyatakan saat ini orang lebih banyak terlibat dalam aktivitas fisik dan olahraga.

“Partisipasi orang di seluruh dunia dalam pelatihan ketahanan, acara ketahanan yang kompetitif, dan pelatihan interval dengan intensitas tinggi telah meningkat tajam,” kata penulis studi, seperti dikutip Medical News Today.

Walaupun aktivitas fisik dan olahraga memberikan banyak manfaat bagi kesehatan, kegiatan tersebut juga dapat membawa risiko bagi kelompok tertentu. Barry A Franklin, seorang profesor fisiologi di Universitas Negeri Wayne mengatakan latihan fisik merupakan obat-obatan dan jelas aktivitas sedang hingga berat memberikan manfaat bagi kesehatan jantung.

“Namun, seperti juga obat-obatan, olahraga memiliki tingkat overdosis yang memiliki dampak tidak baik bagi kesehatan jantung, terutama ketika dilakukan oleh individu yang sebelumnya tidak aktif dan orang dengan penyakit jantung,” katanya.

Dia menjabarkan pernyataan yang dikeluarkan oleh AHA bertujuan untuk menempatkan manfaat dan risiko dari program latihan yang intens, sehingga diharapkan masyarakat memiliki kebijaksanaan dalam penentuan latihan yang akan dilakukan.

Dia melanjutkan, berdasarkan pernyataan ilmiah yang telah diperbarui dengan mempertimbangkan lebih dari 300 penelitian terkait, merekomendasikan orang untuk berolahraga lebih banyak. Akan tetapi, sekali lagi, untuk orang-orang yang tidak aktif secara fisik dan yang memiliki kondisi medis tertentu, tidak diperbolehkan secara tiba-tiba melakukan latihan intens secara signifikan karena dapat meningkatkan risiko kejadian kardiovaskular seperti serangan jantung.

Franklin menyarankan mereka yang tidak terbiasa berolahraga dan memiliki kondisi medis tertentu agar melakukan latihan secara perlahan, “Penting untuk mulai berolahraga, tetapi lakukan dengan lambat, bahkan jika Anda seorang atlet di sekolah,” katanya.

Dia mencontohkan untuk melakukan aktivitas fisik mulai dari berjalan kaki secara teratur, kemudian lambat laun beralih ke lari (jogging) ringan. Akhirnya, akan lebih bijak untuk melakukan konsultasi ke dokter sebelum melakukan kegiatan fisik berat dan intens.

Adapun, terlepas dari potensi risiko yang diuraikan, masyarakat tidak boleh beranggapan mereka harus menghindari olahraga berintensitas tinggi. Bagi sebagian orang, kegiatan itu memiliki banyak manfaat ketika dilakukan secara terkontrol.


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT