Pasien Penyakit Jantung Bisa Tetap Berpuasa, Asal Pilih Makanan..
TEMPO.CO | 07/05/2020 18:10
Ilustrasi kurma. TEMPO/Dian Triyuli Handoko
Ilustrasi kurma. TEMPO/Dian Triyuli Handoko

TEMPO.CO, Jakarta - Berpuasa di Bulan Ramadan memiliki sederet manfaat untuk tubuh, termasuk bagi para penderita penyakit jantung. Salah satu manfaat baiknya adalah sarana berlatih menahan diri dan memilih makanan yang bergizi.

Lalu apa saja makanan yang harus diperhatikan? Berikut paparan dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, Vito Anggarino Damay dalam diskusi via daring, ditulis Kamis 7 Mei 2020.

1. Pilih serat, sayuran dan karbohidrat kompleks
Saat sahur pilih makanan mengandung serat antara lain dari sayuran dan pilihlah karbohidrat kompleks seperti nasi merah atau gandum supaya tahan lapar lebih lama karena gulanya lebih lama dalam darah jadi lebih stabil.

Kalau ingin menyantap makanan yang digoreng, jangan lupa konsumsi sayuran karena kandungan fitosterolnya bisa membantu membuang kolesterol dari gorengan sehingga menghalangi penyerapan kolesterol jahat di dalam usus.

2. Aturan saat berbuka puasa
Saat berbuka puasa, pilihlah kurma karena cepat meningkatkan gula darah. Tubuh membutuhkan gula darah naik secara cepat karena saat berpuasa masuk dalam taraf biasanya hampir hipoglikemi. Karena Anda tidak mengonsumsi makanan apapun di siang hari, gula darah cenderung lebih rendah.

"Kita mau cepat naikkan (gula darah) biar cepat segar maka makan sari gula sederhana. Makan nasi putih juga boleh tapi tentunya porsinya, yang paling penting saat buka puasa rehidrasi kembali supaya enggak kurang cairan karena seharian kan kurang cairan. Segera rehidrasi minum air putih," kata Vito.

Sebaiknya jangan langsung menyantap makanan yang digoreng atau kopi dulu karena membuat lambung menjadi kuncup, sulit dicerna tubuh. "Gorengan itu kan lambat memberikan tenaga sebenarnya dan kalorinya banyak. Kalori sudah banyak dia juga meningkatkan kolesterol jahat dalam tubuh. Jadi secara jangka panjang enggak bagus, jangka pendek juga enggak bagus," tutur dia.

Kolesterol jahat dalam gorengan bisa memicu penumpukan di pembuluh darah yang berisiko serangan jantung di kemudian hari. "Jadi kalau minyak digoreng kalorinya lebih banyak. Contoh nih kalau kita makan nasi, nasi saja sama nasi yang digoreng lebih banyak kalori nasi goreng padahal jumlahnya terlihat sama, setangkup nasi misalnya," kata Vito.

3. Waspadai makanan berisiko untuk penyakit kardiovaskular
Makanan bersantan, daging dan lemak berlebihan berbahaya untuk tubuh sehingga jagalah porsinya. Selain itu, makanan manis juga perlu diperhatikan takarannya karena bisa jadi gula darah naik tidak terkontrol.

"Tubuh kita sudah enggak bisa lagi tahan nah nanti jadi penyakit lagi yang baru. Bikin orang diabetes, kolesterol tinggi, bikin orang jadi rentan potensi risiko serangan jantung di kemudian hari," kata Vito.


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT