Memahami Henti Jantung serta Penanganannya
TEMPO.CO | 09/05/2020 04:25
ilustrasi jantung (pixabay.com)
ilustrasi jantung (pixabay.com)

TEMPO.CO, Jakarta - Sudden Cardiac Arrest (SCA) adalah kondisi jantung berhenti bekerja dan berkontraksi sehingga tidak ada aliran darah yang cukup untuk menghidupi otot jantung dan organ vital lain. Dr. Ivan Noersyid, Sp.JP dari RS Primaya Bekasi Timur menjelaskan pada dasarnya jantung dilengkapi dengan sistem listrik yang berfungsi untuk membangkitkan impuls-impuls penyebab timbulnya kontraksi otot jantung.

Henti jantung dapat terjadi dalam kondisi jantung tidak bekerja namun masih terdapat aliran listrik.

“Hal tersebut dapat terjadi karena gangguan irama atau beberapa faktor lain. Jadi, kontraksi jantungnya bergetar saja namun jantung tidak memompa aliran darah,” ujar Ivan.

Ivan menegaskan tidak semua pasien yang mengalami henti jantung akan meninggal dunia. Henti jantung harus melalui beberapa proses. Tahapan henti jantung dimulai dari kematian otot-otot jantung.

Dia memerinci, setiap 4 menit bagian-bagian otot jantung di dalam tubuh akan mengalami kematian. Semakin lama penanganan seseorang yang mengalami henti jantung, maka akan semakin banyak otot jantung yang mengalami kematian.

“Jika seseorang mengalami henti jantung namun tidak dilakukan tindakan medis lebih lanjut, maka orang tersebut dapat mengalami kematian,” sambungnya.

Seseorang yang mengalami henti jantung, dibuktikan dengan tidak teraba nadi karotis, akan dilakukan pengecekan irama jantung melalui Elektokardiogram (EKG). Ada dua kondisi irama jantung yang terlihat dari hasil EKG, yaitu kondisi irama asistol berupa garis datar atau dengan kata lain irama jantungnya datar (tidak berirama) dan irama pulseless electrical activity (PEA), dan kondisi irama seperti garis rumput alias ventrikular takikardi atau fibrilasi.

Untuk pasien dengan kondisi irama jantung asistol atau PEA, maka pasien akan dilakukan tindakan Resusitasi Jantung Paru, yaitu tindakan pertolongan pertama pada orang yang mengalami henti napas karena sebab-sebab tertentu.

“Hal yang dilakukan adalah kompresi dinding dada alias pemompaan jantung dari dinding luar dada, pemberian napas, baik melalui alat bantuan pernapasan, pemberian cairan atau obat,” sambungnya.

Proses Resusitasi Jantung Paru untuk pasien dengan irama jantung datar akan di evaluasi selama 10 hingga 20 menit. Jika dalam waktu lebih dari 30 menit tidak ada perubahan dari pasien, maka kemungkinan harapan hidup pasien sangat kecil.

Jika hasil EKG menunjukkan irama seperti garis rumput alias ventrikular takikardi atau fibrilasi, maka pasien akan dilakukan defibrilasi atau diestrum sebagai terapi utama selain di lakukam Resusitasi Jantung Paru (RJP).

Dengan dilakukan defibrilasi, gangguan irama jantung yang terjadi dapat direstart ulang. Jika iramanya kembali normal, akan dilakukan pemeriksaan gelombang listrik pada pembuluh nadi. Jadi seseorang dapat tampak seolah-oleh hidup dengan adanya gelombang listrik tersebut padahal jantungnya tidak bekerja. Jika denyut nadi tidak teraba, maka akan dilakukan proses Resusitasi Jantung Paru.

Di sisi lain, jika denyut nadi kembali berdenyut atau terdeteksi, maka akan ditinjau apakah pasien tersebut masih bernapas atau tidak. Jika masih bernapas, maka pasien akan diberikan bantuan pernapasan seperti pemasangan selang bantu pernapasan berupa ventilator.

Kemudian, akan dilakukan pengecekan terhadap tekanan darah dan dilakukan evaluasi lanjutan terhadap irama jantung, kecepatan nadi, dan pemeriksaan kondisi penyakit di tubuh pasien untuk melihat potensi penyebab henti jantung.

“Pada intinya, pasien henti jantung masih dapat diselamatkan jika dilakukan evakuasi ke rumah sakit dalam waktu yang cepat. Semakin cepat Resusitasi Jantung Paru dilakukan akan semakin tinggi harapan hidup pasien,” ujarnya.

Henti jantung tidak selalu disebabkan karena adanya riwayat penyakit jantung pada pasien. Pasien henti jantung dapat disebabkan oleh berbagai hal, seperti diare yang berakibat pada kekurangan cairan berlebih, tension pneumothorax, dan berbagai riwayat penyakit lain.

Sebagai contoh, jika kekurangan cairan, maka pembuluh darah akan kekurangan oksigen sehingga tidak dapat bekerja secara maksimal. Jika pasien mengalami tension pneumothorax, maka pasien akan mengalami kondisi di mana udara yang terkumpul pada rongga pleura tidak dapat keluar namun udara dari dinding dada dan paru-paru terus masuk ke rongga tersebut sehingga akan menekan paru-paru dan jantung.

Jika pasien telah ditemukan riwayat penyakit yang menyebabkan henti jantung, maka pasien tersebut akan diberikan pengobatan definitif (utama) yang berbeda, tergantung pada riwayat penyakit.

Jika pasien henti jantung didiagnosis mengalami serangan jantung, maka ia masih dapat dibantu melalui kateterisasi jantung. Jika pasien mengalami kekurangan cairan, maka akan diberikan cairan agar jantung bisa bekerja. Semua penyebab henti jantung akan dievaluasi untuk diberikan tindakan medis yang tepat.

“Untuk pasien dengan riwayat penyakit jantung, diharapkan ia tidak melakukan aktivitas atau olahraga berat agar terhindar dari henti jantung,” ungkap Ivan.


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT