Pramono Edhie Wibowo Wafat, Waspadai Gejala Serangan Jantung
TEMPO.CO | 14/06/2020 09:16
Ketua Badan Pembina, Organisasi, Keanggoataan dan Kaderisasi (BP-OKK) DPD Partai Demokrat tersebut, Pramono Edhie Wibowo dicekal pada Oktober 2009. Saat itu ia menjabat sebagai Mayor Jenderal TNI (Purnawirawan). Ia diduga terlibat kejahatan perang di Timo
Ketua Badan Pembina, Organisasi, Keanggoataan dan Kaderisasi (BP-OKK) DPD Partai Demokrat tersebut, Pramono Edhie Wibowo dicekal pada Oktober 2009. Saat itu ia menjabat sebagai Mayor Jenderal TNI (Purnawirawan). Ia diduga terlibat kejahatan perang di Timor Leste pada 1999. Dok.TEMPO/Dian Triyuli Handoko

TEMPO.CO, Jakarta - Pramono Edhie Wibowo, adik dari almarhumah Ani Yudhoyono atau adik ipar dari Susilo Bambang Yudoyono meninggal dunia karena serangan jantung, 13 Juni 2020. Kabarnya, dia menderita sakit jantung sejak Maret 2020.

Serangan jantung memang merupakan salah satu penyakit mematikan yang kadang tidak disadari serangannya. Banyak kasus serangan jantung tidak menunjukkan gejala. Umumnya, gejala serangan jantung adalah nyeri dada.

Faktanya, ada empat tanda peringatan dapat terlihat di wajah yang menunjukkan Anda mungkin berisiko tinggi terkena serangan. Serangan jantung sebagian besar disebabkan oleh penyakit jantung koroner (PJK), suatu kondisi di mana arteri koroner menyempit oleh penumpukan lemak secara bertahap yang disebut atheroma.

Yayasan Jantung Britania menjelaskan jika sepotong ateroma pecah, gumpalan darah terbentuk di sekitarnya untuk mencoba dan memperbaiki kerusakan pada dinding arteri.

"Gumpalan ini dapat menyumbat arteri koroner, baik penyumbatan parsial (dikenal sebagai NSTEMI) atau penyumbatan total (STEMI)," kata badan kesehatan tersebut, dikutip dari Express.co.uk.

Penyumbatan menyebabkan otot jantung kekurangan darah dan oksigen sehingga memicu serangan jantung. Sebagian yang membuat serangan jantung begitu mengerikan adalah risiko kematian. Ada persepsi itu akan menyebabkan Anda tiba-tiba jatuh dengan nyeri dada yang menyakitkan dan setiap detik berarti.

Meskipun benar serangan jantung datang tiba-tiba dan nyeri dada adalah salah satu tanda peringatan utama, risiko terkena serangan jantung bisa menjadi sinyal jauh sebelum peristiwa mematikan itu. Ini penting karena memberi peringatan untuk memperhatikan tanda-tanda peringatan dan mengambil tindakan untuk menangkal ancaman.

Faktanya, sebuah studi komprehensif di Denmark yang melibatkan sekitar 10.500 orang menunjukkan risiko Anda terkena serangan jantung dapat digambarkan dalam fitur wajah.

"Temuan kami menunjukkan daun telinga mengerut, deposit kolesterol pada kelopak mata, bintik-bintik botak dan garis rambut yang surut mencerminkan usia biologis tubuh dan bukan hanya usia kronologis," kata Anne Tybjærg-Hansen, profesor klinis di Universitas Kopenhagen dan seorang dokter kepala di Departemen Biokimia Klinis di Rumah Sakit Universitas Kopenhagen.

"Penelitian kami menemukan hubungan antara tanda-tanda ini dan peningkatan risiko serangan jantung, yang tidak tergantung pada usia kronologis dan faktor risiko lain yang diketahui untuk penyakit jantung seperti kadar kolesterol tinggi, tekanan darah, dan merokok," lanjutnya.

Lebih dari 10.000 orang berusia 20 tahun ke atas diperiksa selama 35 tahun untuk melihat tanda-tanda penuaan, termasuk tingkat rambut yang mulai memutih dan keriput. Hasilnya, mereka menemukan empat gejala pada wajah seseorang yang mengalami serangan jantung, yakni kebotakan, di mana garis rambut semakin masuk ke dalam, kerutan daun telinga, dan endapan kolesterol pada kelopak mata dan kornea.

Para peneliti juga memeriksa berat badan, kadar kolesterol, tekanan darah, kebiasaan merokok, dan kemungkinan penyakit seperti diabetes. Sekitar 35 tahun kemudian, para peneliti dapat melihat kembali catatan medis para peserta. Di sini, mereka mencatat pasien mana yang diperiksa yang mengalami komplikasi jantung berikutnya.

Dari sekitar 10.500 orang dalam penelitian ini, 3.401 menderita penyakit jantung, sementara 1.708 menderita serangan jantung. Dalam analisis data, para peneliti harus memfilter data untuk fokus secara eksklusif pada korelasi antara tanda-tanda penuaan yang terlihat dan risiko pengembangan penyakit jantung, tidak tergantung usia dan faktor risiko lain yang diketahui untuk penyakit jantung.


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT