Meminimalisir Konflik Saat Menikah dengan Duda Cerai
TEMPO.CO | 02/07/2020 06:40
Ilustrasi pasangan bertengkar. shutterstock.com
Ilustrasi pasangan bertengkar. shutterstock.com

TEMPO.CO, Jakarta - Tak bisa dimungkiri sebagian masyarakat ada yang beranggapan bahwa menikah dengan duda cerai akan rentan menimbulkan masalah. Hal ini karena orang yang bercerai, dianggap pernah terlibat konflik dengan mantan pasangannya. Selain itu, berakhirnya pernikahan juga diartikan sebagai kegagalan dalam membina dan mempertahankan rumah tangga.

Namun menurut psikolog Anisa Cahya kenyataannya tidak selalu demikian. Menikah dengan duda cerai bukan berarti secara otomatis akan bermasalah. Pernikahan setelah perceraian masih memiliki kemungkinan untuk menjadi lebih baik, jika pasangan bisa belajar dari kesalahan yang terjadi sebelumnya. Bahkan bisa lebih hati-hati dalam bertindak agar tidak mengulang kesalahan yang sama.

"Menikah setelah bercerai adalah upaya untuk melanjutkan kehidupan, agar terus berlangsung dengan lebih baik. Perceraian tidak selalu diartikan sebagai kegagalan dalam segala aspek kehidupan. Tidak perlu juga disamakan dengan ketidakmampuan mengatasi konflik, karena penyebab perceraian sangatlah beragam," ucap Anisa saat dihubungi Tempo, Rabu 1 Juli 2020.

Ada beberapa hal yang perlu Anda siapkan jika sudah mantap memutuskan akan menjalani hidup dengan duda cerai

1. Kenali lebih jauh tentang calon pasangan, agar bisa memahami karakter yang dimilikinya, sehingga penyesuaian diri bisa lebih optimal

2. Jika calon pasangan berkenan untuk bercerita tentang penyebab perceraian, maka ini bisa menjadi bahan pertimbangan untuk menyiapkan diri menghadapi permasalahan di kemudian hari.

3. Bersikaplah terbuka, agar calon pasangan juga bisa memahami kepribadian dan saling menyesuaikan.

4. Kenali dan berinteraksilah dengan keluarganya, agar semakin mudah memahami dan bisa mencari cara-cara yang tepat dalam berinteraksi. "Khususnya jika calon pasangan sudah memiliki anak, maka sangatlah penting untuk mengenal lebih dekat agar sang anak merasa nyaman jika nanti terjadi pernikahan," ucap Anisa.

Bila perlu, pelajari psikologi anak dan remaja untuk bisa memahami kebutuhan mereka, dan bisa mengambil langkah yang tepat ketika melakukan pendekatan dan berinteraksi.

5. Jika keduanya sepakat dan memang dianggap perlu, buatlah beberapa komitmen yang sudah dibicarakan dan disepakati bersama.

6. Perlu juga dipastikan, bahwa calon pasangan tidak memiliki potensi melakukan KDRT, agar tidak menghadapi masalah di kemudian hari.

Baca juga: Sebelum Cerai, Ini Solusi yang Disarankan Pakar untuk Pasangan

Menurut Anisa, upaya yang bisa dilakukan untuk meminimalkan konflik dengan menunjukkan kasih sayang yang tulus kepada pasangan, agar muncul rasa nyaman bagi keduanya. Sadarilah bahwa pasangan memiliki latar belakang yang khas yang dijalani sepanjang kehidupannya. "Kita perlu memahami, bahwa hal itu akan membentuk kepribadiannya, yang mungkin berbeda dengan diri kita sendiri, tidak perlu mengungkit-ungkit kesalahan pasangan, karena ini akan menimbulkan perasaan bersalah dan juga menimbulkan rasa jengkel," ucapnya.

Hindari menyalahkan secara berlebihan. Jika kita tidak menyukai sikap pasangan, maka sampaikanlah apa yang kita harapkan, bukan semata-mata menunjukkan kesalahannya. Misalnya dengan mengucapkan “Saya ingin kamu memberi kabar jika pulang terlambat”, untuk menggantikan kalimat menyalahkan, “Kok kamu terlambat lagi sih? Kemana aja?”

"Ketika merasa kecewa pada pasangan, sampaikan dengan kalimat yang tidak memojokkan, namun cukup dengan mengekspresikan perasaan. Misalnya, “Saya sedih, jika kamu berkata dengan nada yang tinggi…” dibandingkan dengan kalimat, “Kok kamu ngotot sih?” saran Anisa.


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT