Tidak Perlu Pura-Pura Sempurna untuk Pasangan, Ini 3 Alasannya
TEMPO.CO | 26/07/2020 21:16
Ilustrasi pasangan bulan madu. Unsplash.com/Mahkeo
Ilustrasi pasangan bulan madu. Unsplash.com/Mahkeo

TEMPO.CO, Jakarta - Memiliki pasangan yang sempurna tentu menjadi keinginan semua orang, tetapi memilikinya adalah perkara lain. Tak jarang, mengupayakan pasangan dan hubungan yang sempurna justru membuat orang tidak bahagia.

Ada sejumlah faktor yang mendorong orang untuk mendapatkan pasangan yang tak bercelah dan ada sejumlah alasan juga kenapa kita tidak perlu ‘menciptakan’ hubungan yang sempurna.

Dilansir dari Bolde, Sabtu 25 Juli 2020, berikut ini beberapa hal penting yang perlu diketahui tentang mencari atau mengupayakan hubungan yang sempurna dari pasangan.

  1. Pengaruh Media Sosial dan Film
    Saat ini, kita seperti terus-menerus melakukan pembandingan berkat adanya jejaring sosial seperti Instagram, Twitter, Facebook, dan lain sebagainya. Orang-orang memproyeksikan gambar tertentu dari kehidupan mereka, termasuk soal hubungan.

    Akan tetapi, hal ini sama sekali bukan representasi yang sebenarnya dari kejadian dan kehidupan nyata. Tak semua orang mendapatkan pasangan yang bisa memberikan banyak hadiah bagus, dan tak semua dari mereka benar-benar menjalin hubungan baik seperti yang ditampilkan.

    Selain media sosial, film-film khususnya yang bergenre komedi romantis juga mayoritas melukiskan gambaran lelaki atau perempuan sempurna, dan itu tidak benar. Gambaran film-film tentang ratu dan pangeran selalu ditampilkan padahal kisah itu barangkali tak ada hubungannya di kehidupan nyata. Kenyataannya, ada banyak jalan menantang dan tidak semua berjalan sesuai keinginan pada akhirnya. Ada mereka yang bisa melewatinya tapi ada juga yang tidak demikian.

  2. Keinginan Pasangan yang Tidak Realistis
    Berkat adanya pengaruh dari media sosial dan film-film romantis, banyak orang yang memiliki harapan sangat tinggi terhadap pasangannya. Padahal hampir tidak mungkin bagi banyak orang untuk bertemu dengan orang lain yang sempurna baginya. Selain itu, salah satu tuntutan bagi pasangan yang sempurna adalah kehadirannya setiap waktu. Si pasangan harus ada di berbagai saat kekasihnya, membukakan pintu, membelikan makanan, menghibur saat sedih, dan lain sebagainya. Padahal sebetulnya hal ini bisa jadi tindakan melelahkan bagi kedua belah pihak.

    Masalah yang timbul dengan punya harapan yang tidak realistis adalah bahwa pasangan itu dapat dengan mudah runtuh pada saat tertentu, dan itulah yang cenderung terjadi. Selain itu, efeknya juga terjadi pada diri sendiri karena harapan kita juga tak kunjung tercapai.

  3. Mencintai Sebagaimana Adanya
    Hubungan yang lebih baik daripada mengupayakan kesempurnaan adalah hubungan yang apa adanya. Alih-alih menghabiskan waktu dengan hal-hal negatif yang telah atau belum dilakukan oleh pasangan, lebih baik mulai berfokus pada aspek positif dari hubungan yang dijalani. Menyadari bahwa tidak ada yang sempurna, termasuk pasangan kita adalah hal yang sangat penting dalam menjalani hubungan.

REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT