Masih Banyak Pekerja WFH Saat New Normal, Waspadai Kebakaran di Gudang Kantor
TEMPO.CO | 08/08/2020 00:10
Pasukan tanggap bencana nasional bersama personel pemadam kebakaran mencari korban selamat yang terperangkap di bawah puing bangunan runtuh di Mumbai, India, Kamis, 16 Juli 2020. Bangunan tempat tinggal berlantai 5 tersebut runtuh di tengah hujan lebat. R
Pasukan tanggap bencana nasional bersama personel pemadam kebakaran mencari korban selamat yang terperangkap di bawah puing bangunan runtuh di Mumbai, India, Kamis, 16 Juli 2020. Bangunan tempat tinggal berlantai 5 tersebut runtuh di tengah hujan lebat. REUTERS/Francis Mascarenhas

TEMPO.CO, Jakarta - Pandemi COVID-19 mengharuskan limitasi jumlah kehadiran tenaga kerja. Banyak yang akhirnya bekerja di rumah alias Work From Home (WFH). Petugas operasional yang rutin mengontrol keamanan dan keselamatan bangunan atau venue, seperti gudang, hanggar, dan terminal bandara pun beberapa akhirnya tetap di rumah karena kondisi wabah ini.

Ancaman kebakaran menjadi rentan dengan keterbatasan pemeriksaan secara berkala. Di sisi lain, wabah membawa pertumbuhan positif pada kegiatan berbelanja online masyarakat sehingga turut meningkatkan penggunaan ruang simpan barang/pergudangan. Sering pula gudang dan ruang penyimpanan itu tanpa antisipasi matang, sehingga bisa berpotensi menimbulkan kebakaran.

"Saat banyak WFH seperti ini, tetap ada potensi kebakaran di gedung perkantoran," kata Sales Country Manager Building Technology Division Bosch Indonesia, Dapot Sitanggang dalam konferensi pers virtual bertajuk 'Bosch Perkenalkan Solusi Keamanan Gedung/Bangunan untuk Manajemen Kerumunan dan Deteksi Cepat Api' pada 6 Agustus 2020.

International Labour Organization pun mencatat, kebakaran bisa disebabkan antara lain oleh penumpukan bahan yang mudah terbakar di tempat kerja, adanya sumber pemantik api secara tidak disengaja, ketidakmampuan mendeteksi kebakaran dengan cepat, juga ketidakmampuan mengendalikan kebakaran dan memadamkannya. “Menjawab tantangan ini, Bosch memperkenalkan Bosch Aviotec kamera keamanan yang di dalamnya telah tertanam teknologi deteksi api pintar. Bukan hanya mampu menganalisa kemungkinan sumber api dengan cepat, Aviotec juga tinggi efisiensi, termasuk dari sisi sumber daya manusia, karena tidak memerlukan tenaga tambahan khusus,” kata Dapot Sitanggang.

Aviotec/Bosch

Bosch Aviotec menggunakan teknologi yang menggabungkan kecepatan tinggi deteksi asap dan api untuk mencegah terjadinya kebakaran. Alat ini fokus pada area pergudangan dengan dinding tinggi, yang rentan terhadap kecelakaan. Terdapat pula kamera keamanan dengan teknologi deteksi api yang telah tertanam di dalamnya, serta dapat diintegrasikan dengan sistem alarm kebakaran atau sistem public address untuk evakuasi di suatu gedung atau bangunan.

Menurut Dapot, alat itu bisa mendeteksi api hingga sejauh 114 meter dan asap hingga sejauh 116 meter. "Selama ini orang mungkin pakai detektor atau laser, tapi untuk cakupan yang luas bisa gunakan Aviotec. Waktu mendeteksinya hanya dalam hitungan detik," kata Dapot. Harapannya, pengendalian api bisa lebih cepat dilakukan untuk mengurangi kerugian lebih besar saat kecelakaan terjadi.

Selain itu, Bosch pun merilis kemampuan PeopleCount pada kamera mereka.Bermitra dengan Philips, PeopleCount, memungkinkan pengguna untuk menghitung jumlah pelanggan atau pengunjung yang masuk dan keluar sebuah lokasi (misalnya toko atau restoran). Harapannya, hal ini bisa membantu masyarakat saat mengikuti anjuran jaga jarak agar terhindar dari virus corona. Dengan mengetahui jumlah orang yang keluar dan masuk di dalam gedung, pihak manajemen gedung bisa memastikan kuota ruangan atau membuat pelanggan lebih bisa bergerak dan menjaga jarak.


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT