Jangan Takut Gagal, Ini Untungnya Merawat Mimpi Sejak Remaja
TEMPO.CO | 21/09/2020 05:39
Ilustrasi remaja (pixabay.com)
Ilustrasi remaja (pixabay.com)

TEMPO.CO, Jakarta - Banyak remaja yang tidak yakin dengan mimpi besarnya. Hal itu pernah dirasakan presenter Daniel Mananta. Saat duduk di Sekolah Menengah Atas, ia tidak pernah berpikir menjadi pembawa acara. Ia bahkan tidak tahu bahwa menjadi presenter itu adalah bakat. "Buat gue dulu, bakat itu contohnya ngedance. Gue jadi mengecilkan bakat gue sendiri," kata Daniel Mananta pada konferensi pers virtual acara Pocari Bintang SMA 2020 pada 3 September 2020.

Tidak disangka ternyata keahlian yang permah dikecilkannya itu membuat Daniel menjadi presenter membuatnya bisa berkembang. Keahliannya itu pun bisa membuat Daniel memandu berbagai acara, salah satunya Indonesia Idol.

Aktor Gading Marten pun tidak pernah bermimpi menjadi seorang aktor. Semua berawal dari tugasnya yang mewakili sang ayah, Roy Marten, mengambil honor setiap Selasa. "Karena sering dilihat sutradara, mereka bilang 'Kenapa tidak suruh casting saja'. Dan ternyata bakat gue di sini," kata Gading yang tidak kalah prestasinya di dunia film dari sang ayah.

Kisah Kunto Aji lain lagi. Dulu, bernyanyi hanya sekedar hobi untuk Kunto Aji. Ia hanya berani bernyanyi di berbagai acara sekolah di Yogyakarta. "Mau ke Jakarta itu kayaknya susah banget. Tapi akhirnya, malah jadi penyanyi profesional juga. Mimpi itu ternyata harus dipupuk," katanya.

Jurnalis sekaligus Presenter Najwa Shihab mengatakan penting sekali untuk setiap orang, khususnya anak muda untuk merawat mimpi. "Dan merawat mimpi bisa bermula dari ketertarikan tentang hal yang kecil," kata Najwa.

Najwa mencontohkan tentang hobi suka nonton drama Korea. Berawal dari suka nonton, lama-lama pasti belajar bahasa Korea. Siapa tahu nanti bisa menjadi ahli soal Korea. "Ingat, merawat ketertarikan dari hal kecil, bisa menjadi sesuatu yang besar," kata Najwa.

Konferensi Pers Pocari Sweat Bintang SMA 2020 pada 3 September 2020/Pocari Sweat

Sebelumnya, Pocari Sweat kembali menggelar BINTANG SMA 2020, ajang pencarian bakat daring untuk anak SMA/sederajat di Indonesia. Pada kompetisi yang dilakukan secara daring ini, diharapkan semakin banyak anak SMA yang menunjukkan talenta dan mewujudkan mimpinya. Marketing Director PT Amerta Indah Otsuka Puspita Winawati mengatakan timnya bergharap agar anak-anak setingkat SMA ini bisa tetap berusaha dan percaya bahwa tidak ada yang dapat membatasi diri kita untuk mewujudkan mimpi di kondisi apapun. “Sesuai dengan tema tahun ini Sweat for Dream, Pocari Sweat percaya, apapun mimpinya, apabila mereka mau berkeringat dan berusaha, mereka akan mampu meraihnya,” kata Wina, sapaan Puspita Winawati, dalam kesempatan yang sama.

Wina berharap kegiatan ini bisa menginspirasi anak muda menunjukkan bakat mereka. Tim Pocari Sweat akan merangkul anak muda agar lebih berani dalam mewujudkan mimpinya. Acara ini juga akan menghadirkan juri-juri yang terkenal dan ahli di bidangnya seperti Gading Marten, Kunto Aji, Anindya Putri, Ufa Sofura, dan Najwa Shihab. Untuk keterangan lebih lanjut bisa melihat di media sosial Pocari Sweat atau di situs www.pocarisweat.id/bintangsma.

Najwa Shihab mengatakan penting sekali anak muda, khususnya anak setingkat SMA, agar mau mengikuti lomba dan menunjukkan bakatnya. Tidak masalah apakah bakat itu memalukan atau sering dinilai aneh oleh banyak orang. Tidak apa-apa pula bila ternyata gagal di kompetisi saat duduk di bangku SMA. "Justru gagal di SMA itu waktu yang baik. Karena di masa itu, anak belum dipaksa untuk melangkah ke mana," katanya.

Bila gagal di lomba saat di bangku SMA pun risikonya tidak besar. Tidak seperti para pekerja kantoran yang harus hati-hati dan jangan sampai mengakibatkan perusahaan rugi. Selain itu, berkarya dan berkompetisi saat di bangku SMA pun dianggap bisa memberikan pengalaman dan tentu saja pelajaran yang baik bagi si remaja itu. "Pengalaman itu nggak bisa dibeli, kalian ada waktu untuk belajar. Menang karena karya dan kerja keras itu penting untuk ditanamkan sejak remaja. Dengan mengikuti kompetisi, maka anak bisa menjadi pribadi yang lebih baik. Kompetisi juga bisa menjadi investasi diri dari pengalaman dan kepribadian," kata Najwa.

Ada beberapa keunggulan yang dialami anak remaja zaman now dengan remaja di tahun-tahun 90an. Remaja saat ini memiliki kebebasan untuk berekspresi di dunia digital. Di zaman digital ini, bakat seseorang bisa dilihat dari Sabang sampai Merauke, berbeda dengan zaman dulu yang bakat seseorang mungkin hanya bisa dilihat oleh tetangga. "Panggungnya semakin besar, dan peluang menunjukkan bakat semakin besar. Kesempatan kita belajar macem macem semakin luas," kata Najwa.

Agar tidak menunda kesuksesan di masa SMA, ada beberapa tips untuk remaja tingkat SMA yang bisa ikuti. Pertama adalah merawat mimpi. Najwa mengatakan passion itu bukan wangsit yang datang secara tiba-tiba melalui mimpi. Usai bangun tidur, tidak bisa kita ujug-ujug mengatakan 'itu passion kita'. "Namun passion yang terus dirawat agar bisa dilihat oleh semua orang," kata Najwa.

Penting pula agar setiap anak mengenali diri sendiri. Gading Martin mengatakan setiap anak penting untuk tahu bakat apa yang tersembunyi di dalam diri. "Untuk tahu bakat kita itu apa kamu harus latihan menggali lebih dalam, siapa kamu, suka apa, jati diri kamu bakal terlihat," katanya.

Para remaja pun diminta untuk totalitas menyampaikan keahlian mereka. "Keluarin 100 persen bakat kamu. Itu bikin kita jadi percaya diri," kata Kunto Aji.

Jangan pula mengecilkan kemampuan diri. Gading yakin orang yang suka mengecilkan diri justru bisa menghambat kesuksesan seseorang. "Justru sekecil apapun bakat kamu kalau dilatih serius akan jadi sesuatu yang besar," kata Gading.

Jadi, apa mimpimu?


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT