Tanggap Darurat Covid-19 Yogyakarta Sampai 31 Oktober 2020, Nasib Pariwisata?
TEMPO.CO | 30/09/2020 08:30
Sebuah andong melintasi kawasan Malioboro Yogyakarta yang masih lengang pada Juli 2020. Jumlah wisatawan Malioboro sepanjang Juli ini masih minim karena pandemi Covid-19. TEMPO | Pribadi Wicaksono
Sebuah andong melintasi kawasan Malioboro Yogyakarta yang masih lengang pada Juli 2020. Jumlah wisatawan Malioboro sepanjang Juli ini masih minim karena pandemi Covid-19. TEMPO | Pribadi Wicaksono

TEMPO.CO, Yogyakarta - Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X telah meneken perpanjangan masa tanggap darurat bencana Covid-19 untuk kelima kalinya.

Perpanjangan akibat masih tingginya kasus Covid-19 ini tertuang dalam Surat Keputusan Gubernur DI Yogyakarta Nomor 286/KEP/2020 tentang Penetapan Perpanjangan Kelima Status Tanggap Darurat Bencana Covid-19 di DI Yogyakarta. Sultan Hamengku Buwono X menandatangani surat itu pada Selasa, 29 September 2020.

"Status tanggap darurat bencana Covid-19 Yogyakarta diperpanjang mulai 1 hingga 31 Oktober 2020," demikian tertulis dalam surat tersebut. Lantas, bagaimana nasib dunia pariwisata Yogyakarta dengan perpanjangan status tanggap darurat tersebut?

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman, Sudarningsih menuturkan secara umum, perpanjangan tanggap darurat dari Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta tidak mempengaruhi geliat pariwisata di Sleman. Tak ada kebijakan maupun program wisata kabupaten yang harus diubah atau dijadwal ulang.

Destinasi wisata Taman Pelangi Monumen Jogja Kembali di Kabupaten Sleman yang mulai menggeliat di masa pandemi Covid-19. TEMPO | Pribadi Wicaksono

"Uji coba operasional destinasi wisata tetap berjalan," kata Sudarningsih kepada Tempo pada Selasa, 29 September 2020. Namun untuk 53 desa wisata, menurut dia, belum ada satu pun yang menerima kunjungan, kecuali untuk para pesepeda yang bisa mampir mulai akhir pekan ini.

Wisata buat pesepeda hanya sekadar mampir untuk beristirahat, bukan bermain apalagi bermalam di desa wisata. Rute untuk wisata sepeda ini pun hanya melintasi beberapa desa wisata di Sleman. Desa wisata itu membuka tempat transit bagi pesepeda atau pos pit untuk melepas lelah sekaligus menyuguhkan pemandangan menarik.

Ada delapan pos pit di Kabupaten Sleman. Titik-titiknya adalah Warung Simbok di Desa Wisata Pentingsari, Cangkringan yang buka di hari Sabtu dan Minggu; Stanplat Pit Kelor di Desa Bangunkerto Turi yang buka di hari Minggu; Pos pit Embung Kaliaji Desa Wosata Wonokerto Turi yang buka pada Sabtu dan Minggu; Pecel Kembang Turi Bukit Teletubies Desa Sumberharjo Prambanan buka di hari Sabtu dan Minggu.

Pos pit Angkringan Nganggring Desa Wisata Girikerto Turi yang buka di hari Minggu; pos pit Lapangan Kemping Kampung Pulesari Wonokerto Turi; Pospit Desa Wisata Grogol Margodadi Seyegan; dan Pospit Bunker Tunggularum Wonokerto Turi yang hanya buka hari Minggu. "Para pesepeda bisa menikmati jajanan tradisional yang unik dan menarik sembari menikmati kesejukan udara dan pemandangan desa di setiap pos pit. Tapi tetap harus mematuhi protokol kesehatan," ujar Sudarningsih.

Pemerintah Kota Yogyakarta meresmikan jalur wisata sepeda pada Jumat, 25 September 2020. Jalur wisata sepeda itu terbagi dalam lima rute. TEMPO | Pribadi Wicaksono

Sudarningsih menambahkan, berdasarkan data terbaru kepariwisataan Kabupaten Sleman, terdapat 18 destinasi wisata yang telah beroperasi. Termasuk dua candi yang dikelola PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko yakni Candi Prambanan, Ratu Boko. Sedangkan 16 destinasi wisata di Sleman lainnya yang masih dalam tahap uji coba antara lain, Tebing Breksi, Kaliurang, Gardu Pandang Kaliurang, Jogja Exotarium, Candi Sambisari, Candi Ijo, Agrowisata Bhumi Merapi, Taman Kaliurang, Monumen Jogja Kembali, Museum Gunungapi Merapi, Grojogan Watupurbo, Sindu Kusuma Waterpark, The World Landmarks, dan Kaliadem.

Total kunjungan di 18 destinasi wisata tersebut selama Juli sampai 25 September 2020 sebanyak 237.046 wisatawan. Destinasi yang menjadi tujuan favorit wisatawan adalah Tebing Breksi sebanyak 87.159 pengunjung, dan candi-candi yang dikelola oleh PT TWC dengan total 82.706 wisatawan. Sementara waktu kunjungan tertinggi terjadi pada Agustus 2020, sebanyak 118.249 kunjungan. "Sebanyak 99,95 persen pengunjung adalah wisatawan domestik," katanya.


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT