Yusuf Mansur Sebut Protokol Kesehatan Ibadah Baru di Masa Pandemi
TEMPO.CO | 23/10/2020 20:53
Ilustrasi protokol kesehatan / menjaga jarak atau memakai masker. ANTARA FOTO/Nova Wahyudi
Ilustrasi protokol kesehatan / menjaga jarak atau memakai masker. ANTARA FOTO/Nova Wahyudi

TEMPO.CO, Jakarta - Ayo disiplin menjalankan protokol kesehatan karena itu juga merupakan bagian dari ibadah. Pimpinan Pondok Pesantren Daarul Quran, Ustadz Yusuf Mansur, mengatakan menjalankan protokol kesehatan menjadi ibadah baru di masa pandemi COVID-19, karena dapat menjaga keselamatan diri sendiri dan orang lain.

"Memang kita perlu kampanyekan ada ibadah yang sebelumnya tidak pernah ada sebelum pandemi, yaitu ibadah menjaga keselamatan orang lain dengan cara mematuhi protokol kesehatan. Dengan menjalankan protokol kesehatan itu kita sedang beribadah," katanya dalam bincang-bincang virtual "Sosialisasi Pesantren Daarul Quran: Iman, Aman, Imun" yang diselenggarakan Satuan Tugas (Satgas) Penanganan COVID-19 di Jakarta, Jumat, 23 Oktober 2020.

Yusuf Mansur mengatakan #pakaimasker dengan benar itu menjadi ibadah paling tinggi di ajaran Islam maupun agama lain di masa pandemi ini karena dengan berarti sedang menjaga keselamatan diri sendiri dan orang lain. Selain itu, ketika seseorang mengikuti aturan protokol kesehatan dengan #jagajarak, tidak berkerumun, dan #cucitangan, itu artinya mereka juga sedang beribadah.

"Karena sebelumnya tidak ada, sekarang ada, artinya Allah SWT menambah jenis ibadah kita untuk menutup segala kekotoran, kebusukan, kekurangan, kejahatan, dan kemaksiatan sehingga, mudah-mudahan dengan kita memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, tanpa sadar kita malah dapat banyak amal saleh dan pahala untuk menutup hal buruk tadi," ujar Yusuf Mansur.

Ia mengimbau para santri dan masyarakat lain untuk selalu menjaga keselamatan diri sendiri dan orang lain di masa pandemi COVID-19 dengan cara patuh menjalankan protokol kesehatan.

"Di sana Islam bisa berperan. Percuma kita lakukan banyak hal tapi malah mendatangkan bahaya untuk sendiri dan orang lain," ucapnya.

Ketua Bidang Perubahan Perilaku Satgas COVID-19, Dr. Sonny B. Harmadi pada kesempatan yang sama mengatakan protokol kesehatan 3M, yakni memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan dengan sabun itu ada berdasarkan pengalaman menghadapi wabah dan pandemi di masa lalu, didasarkan riset dan kajian juga.

Jadi, pada negara yang masyarakatnya menggunakan masker secara ketat, dalam tiga minggu kasus positif COVID-19 turun drastis, tersisa 20-25 persen saja kasus hariannya. Sonny mengatakan melakukan jaga jarak juga sudah diteliti secara ilmiah bermanfaat dalam mencegah penularan virus yang menyebar dari droplet dan aerosol.

"Contohnya orang berbicara akan menyebarkan aerosol. Jadi, jaga jarak 2 meter bisa membuat kita menjadi lebih aman," tuturnya.

Sedangkan untuk mencuci tangan dengan sabun juga sudah diteliti secara ilmiah manfaatnya dapat membunuh virus dan bakteri yang menempel di badan seseorang. Ia mencontohkan masyarakat Jepang yang sudah memiliki kesadaran memakai masker ketika sedang kurang enak badan. Mereka tidak mau menulari orang lain virus atau penyakit yang sedang ada dalam tubuhnya.

"Selain itu juga sadar bahwa dalam kondisi imun yang sedang menurun harus mencegah agar tidak ada virus atau bakteri lain yang justru masuk ke tubuhnya. Jadi, itu juga bentuk kepedulian sosial. Selain melindungi diri sendiri, juga sadar untuk melindungi orang lain," kata Sonny.

*Konten ini merupakan kerja sama Tempo.co dengan #SatgasCovid-19 demi memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Tegakkan protokol kesehatan, ingat selalu #pesanibu dengan #pakaimasker, #jagajarakhindarikerumunan, dan #cucitanganpakaisabun.


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT