Pesan Pakar dan Penyintas Covid-19 agar Masyarakat Lebih Sadar Penyakit Ini
TEMPO.CO | 26/11/2020 17:51
Ilustrasi Vaksin Covid-19. REUTERS/Dado Ruvic
Ilustrasi Vaksin Covid-19. REUTERS/Dado Ruvic

TEMPO.CO, Jakarta - Perlindungan terhadap kesehatan masyarakat menjadi prioritas, pemerintah terus melakukan upaya Testing, Tracing, dan Treatment atau 3T serta edukasi 3M guna menekan penularan COVID-19. Pemerintah juga menanggung biaya perawatan rumah sakit bagi pasien COVID-19, yang berdasarkan hasil survei menunjukkan rata-rata dikeluarkan biaya perawatan Rp 184 juta per orang.

Selain biaya yang besar masyarakat yang terdampak COVID-19 tidak bisa bekerja secara produktif sehingga menurunkan pendapatan. Belum lagi kerugian apabila ada warga negara yang meninggal di usia produktif, beban biaya keluarga yang ditinggalkan pasien.

“Apabila kita bisa disipilin menjalankan protokol kesehatan 3M (memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak aman), dan pemerintah aktif menjalankan 3T, kita dapat menghemat kerugian negara yang lebih besar lagi. Kita bisa menghemat sampai Rp 500 triliun dan menggunakannya untuk membangun ekonomi Indonesia," terang Prof. dr. Hasbullah Thabrany, MPH., Dr.PH, Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, pada acara Dialog Produktif bertema “Memaksimalkan Pengelolaan Kesehatan Lewat Vaksinasi” yang diselenggarakan Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN), Kamis, 26 November 2020.

Tidak hanya merugikan secara ekonomi, namun juga penyakit ini sangat serius, seperti diungkap Icha Atmadi ST, salah seorang penyintas.

“COVID-19 ini serius sekali. Untuk gejala paling ringan pun bisa terasa sakit, baik bagi fisik maupun mental. Apalagi bagi mereka yang mengalami gejala berat, seperti yang dialami ayah saya waktu itu, yang memerlukan alat bantu pernapasan. Perasaan cemas yang dirasakan itu seperti setiap hari akan menghadapi kematian," terangnya.

Apabila biaya perawatan Icha dihitung dan ditanggung secara mandiri, bisa mencapai ratusan juta rupiah selama 45 hari. Hanya saja biaya perawatan Icha dan keluarga serta pasien COVID-19 lain saat ini ditanggung negara.

“Saat ini pemerintah memang menanggung biaya rumah sakit melalui anggaran Kementerian Kesehatan. Saya kira kalau dirawat lebih dari 30 hari, apalagi harus masuk ICU yang biayanya bisa Rp 15 juta per hari, pengeluarannya bisa lebih dari seratus juta. Tapi masyarakat perlu pahami, meski ditanggung negara maka jangan merasa nyaman dan tidak peduli menjalankan protokol kesehatan," ujar Hasbullah.

“Ingat, pada saat dirawat kita menjadi tidak produktif. Itu sudah kehilangan banyak pendapatan per hari. Belum lagi setiap hari pasien merasa khawatir dengan kondisi kesehatannya, ini yang tidak bisa dihitung oleh uang," tambahnya.

Dari pengalaman, Icha membenarkan pernyataan Hasbullah tersebut. “Semua pasien COVID-19, baik yang gejalanya ringan, sedang, maupun berat, mengalami titik terendah sehingga membuat kita lebih introspeksi. Ayah saya sampai mendapatkan beberapa suntikan infus, belum lagi ditambahkan alat bantu pernapasan, serta alat pendukung dan tindakan medis lainnya. Jadi benar-benar mencemaskan waktu itu," paparnya.

Cara terbaik agar masyarakat dan negara tidak merugi lebih besar lagi adalah dengan mencegah, jangan sampai terkena COVID-19. Oleh karena itu Hasbullah menyarankan untuk disiplin menjalani protokol kesehatan 3M.

“Kalau nanti sudah ada vaksin, kita tambah dengan vaksin. Meskipun harga vaksin belum keluar nilainya, tapi misalnya harganya nanti katakanlah Rp 200.000, investasi ini akan memberikan peluang lebih aman daripada berisiko besar terinfeksi dan memerlukan pengobatan," terangnya lebih lanjut.

“Biayanya sangat berat kalau terkena COVID-19, apalagi nanti tidak mau divaksinasi. Hidup bisa tidak nyaman karena risiko mengeluarkan Rp 200-300 juta apabila terinfeksi. Vaksin terbukti mampu memberikan ketenangan, contohnya kasus penyakit TBC, karena hampir semua orang sudah divaksinasi BCG, kita bisa tenang menjalani kehidupan", kata Hasbullah.

*Artikel ini merupakan kerja sama Tempo.co dengan #SatgasCovid-19 demi memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Tegakkan protokol kesehatan, ingat selalu #pesanibu dengan #pakaimasker, #jagajarakhindarikerumunan, dan #cucitanganpakaisabun.


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT