Pentingnya Peran Lingkungan dan Keluarga Dalam Mendukung Pasien Diabetes
TEMPO.CO | 07/12/2020 23:36
Ilustrasi diabetes. Freepik.com
Ilustrasi diabetes. Freepik.com

TEMPO.CO, Jakarta - Joeliady, 75 tahun, sudah menjadi diabetasi sejak usianya 60an. "Saya diabetes tingkat 2," kata Joeliady.

Walau mengalami penyakit itu, Joeliady terlihat sangat segar. Setelah bangun subuh, ia biasanya akan jalan santai di depan rumahnya selama 30 menit. Tidak lama setelah itu, ia akan mengurus tanamannya di halaman. Ia pun patuh meminum obat, dan mengatur pola makannya.

Salah satu sosok yang sangat diandalkannya adalah Ruki Yati. Yati selalu menyiapkan makanan Joeliady dengan porsi terbatas. "Eyang itu, kalau makan sedikit, tapi sering," kata Ruki Yati suatu hari.

Selain itu, Ruki Yati pun tahu makanan apa yang boleh dan tidak boleh dimakan oleh Joeliady sebagai seorang diabetasi. Sebelum pandemi, Ruki Yati pun rajin mengantar Joeliady sepekan sekali senam lansia di kawasan Pasar Minggu. Ruki Yati pula yang hingga saat ini terus mendampingi Joeliady periksa rutin kesehatannya ke dokter setiap bulan.

Hingga 14 Mei 2020, International Diabetes Federation (IDF) melaporkan 463 juta orang dewasa di dunia menyandang diabetes dengan prevalensi global mencapai 9,3 persen. Namun, kondisi yang membahayakan adalah 50,1 persen penyandang diabetes (diabetesi) tidak terdiagnosis. Ini menjadikan status diabetes sebagai silent killer masih menghantui dunia. Jumlah diabetesi ini diperkirakan meningkat 45 persen atau setara dengan 629 juta pasien per tahun 2045. Bahkan, sebanyak 75 persen pasien diabetes pada tahun 2020 berusia 20-64 tahun.

Executive Committee Member IDF Western Pacific Region (2009-2011 & 2012-2015) Sidartawan Soegondo menekankan bahwa pengendalian diabetes membutuhkan perhatian semua orang. Tidak hany keluarga peduli diabetes perlu meningkatkan kewaspadaan dan kesiagaan masyarakat dalam mengendalikan penyakit tidak menular ini.

Upaya yang dapat dilakukan keluarga diabetesi antara lain melakukan perencanaan makan, perencanaan olahraga, pengaturan obat, dan edukasi. Hal yang masih perlu ditingkatkan adalah upaya keluarga dalam mengatur pola makan sehat dan gizi seimbang, serta ajakan berolahraga. "Hasil penelitian terkait dukungan keluarga yang positif, mengarah pada kontrol gula darah yang lebih baik 42,2 persen diabetasi memiliki gula darah yang lebih terkontrol),” kata Sidhartawan pada awal November 2020 .

Menurut Sidharta, sering sekali keluarga membedakan makanan antara diabetasi dengan makanan untuk sisa anggota keluarga lain. "Sering kan 'diabetasi nanti khusus makan yang ini. Kamu makan yang ini, aku makan yang ini.' Jadi makanan terpisah. Itu kan tidak enak melihatnya," kata Sidharta.

Ia mengajak masyarakat tidak membeda-bedakan makanan antara diabetasi dan yang tidak. Harapannya agar tidak ada kecemburuan sosial antar masyarakat. "Harusnya makan sama-sama aja, menu yang sama juga. Bedanya yang non diabetes, bisa makan lebih banyak, yang diabetasi secukupnya saja," katanya.

World Diabetes Tahun ini yang diselenggarakan pada 14 November 2020 mengambil tema The Nurse and Diabetes.Melansir laman World Diabetes Day.org kampanye ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran seputar peran penting perawat dalam mendukung orang yang hidup dengan diabetes.

Sidharta menekankan ada monitoring porsi makan, jenis makanan, pengontrol obat dan juga olahraga teratur. Untuk diabetasi lanjut usia, seperti Joeliady ia pun mengimbau agar bagian olahraga dan nutrisi diwaspadai oleh para perawatnya. "Olahraga dan makanan diabetasi lansia itu berbeda. Makanannya harus disesuaikan, karena giginya juga berbeda," katanya.

Dari segi olahraga pun harus hati- hati. "Takutnya nanti encok kanan kiri lagi," katanya. Ia mengimbau agar para diabetasi lansia bisa berkonsultasi lebih lanjut dengan dokter geriatri.

Ilustrasi diabetes. Freepik.com

Ketua Umum Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI) Ketut Suastika mengingatkan agar semua paham dan waspada dengan kondisi kita. Gejala klasik diabetes yang bisa didiagnosa dari awal adalah banyak minum, banyak kencing, juga berat badan yang turun drastis. "Bagi diabetesi, penting untuk mengecek kadar gula darah secara rutin dan melakukan pencegahan, terlebih saat pandemi COVID-19 sekarang ini," katanya.

Suastika mengatakan belum tentu masyarakat yang sudah memiliki banyak gelar sudah mengerti soal diabetes. Ia mengatakan memang sudah banyak kampanye dan sosialisasi yang dilakukan pemerintah, swasta, dan organisasi profesi khusus Diabetes, namun jumlah kasus diabetes tidak juga menurun. Sehingga edukasi untuk diabetasi dan juga perawatnya perlu terus menerus dilakukan. "Banyak sarjana yang tidak mengerti diabetes. ," katanya.

Presiden Pengurus Besar Persatuan Diabetes Indonesia (PB PERSADIA) Terpilih periode 2020 - 2022 Sony Wibisono menjelaskan perencanaan pengelolaan diabetes harus dibicarakan antara diabetesi dan keluarganya. Diabetesi harus menerima perawatan medis secara terkoordinasi dan terintegrasi dari tim kesehatan. Sehingga keluarga perlu menyadari pentingnya keikutsertaan dalam perawatan diabetesi melitus agar kadar gula darah dapat terkontrol dengan baik.

Ia mengatakan perencanaan pengelolaan diabetes melitus harus dilakukan secara bersama antara pasien dengan keluarga agar kadar gula darah dapat terkontrol. "Diabetesi memerlukan diet gizi khusus untuk secara efektif mengatur kadar gula darah mereka serta memenuhi kebutuhan gizi mereka,” katanya.

Edukasi lain yang bisa dilakukan, kata Sony adalah memanfaatkan komunitas seperti Persadi. Untuk para perawat, menurut Sony, ada banyak media yang bisa meningkatkan diri memahami masalah perawatan diabetes. "Sumber informasi kan bayak saat ini. Tidak hanya teman, tapi ada juga media sosial yang dampaknya luar biasa. Melalui media sosial, Anda juga bisa bertemu dengan teman-teman dan penyandang diabetes," kata Sony.

Director of Special Needs & Healthy Lifestyle Nutrition KALBE Nutritionals Tunghadi Indra menegaskan, timnya melakukan edukasi diabetes tidak hanya di Indonesia, bahkan juga di beberapa negara di Asia, di mana Diabetasol juga hadir seperti di Filipina, Malaysia, Sri Lanka, dan Myanmar. Lebih lanjut Tunghadi mengatakan bahwa angka prevalensi diabetes di dunia dan Indonesia yang meningkat, ditambah risiko yang bisa terjadi kepada para diabetesi saat pandemi ini, menunjukkan kalau diabetes perlu perhatian khusus dari semua kalangan. "Diabetes memang tidak bisa disembuhkan, tetapi manajemennya sangat perlu diperhatikan. Selain itu dukungan dari support system di sekitar diabetesi juga sangat dibutuhkan,” ungkap Tunghadi.

Selama ini, kami memang telah secara aktif melakukan edukasi penanganan diabetes bagi diabetesi dan keluarganya sebagai caregiver. Edukasi yang dilakukan Diabetasol juga tidak sebatas offline berupa edukasi di rumah sakit, tetapi juga dalam bentuk online kepada masyarakat. Contohnya seperti kuliah Whatsapp yang diadakan rutin setiap bulan dan talk showsecara live. Selain itu, Diabetasol juga memberikan layanan konsultasi dengan dokter & nutritionist, serta menyediakan informasi mengenai cara mengatasi diabetes dan menghindari risiko komplikasi. Semuanya bisa diakses melalui websitehttp://diabetasol.com/id


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT