Belum Bisa Liburan? Coba Tur Virtual ke 10 Desa Wisata Ini
TEMPO.CO | 28/01/2021 10:56
Wisatawan menyaksikan matahari terbit pertama tahun 2021 di Desa Pinggan, Kintamani, Bangli, Bali, Jumat 1 Januari 2020. Kawasan wisata alam dengan pemandangan Gunung Agung, Gunung Batur dan Gunung Abang tersebut menjadi salah satu lokasi di Pulau Dewata
Wisatawan menyaksikan matahari terbit pertama tahun 2021 di Desa Pinggan, Kintamani, Bangli, Bali, Jumat 1 Januari 2020. Kawasan wisata alam dengan pemandangan Gunung Agung, Gunung Batur dan Gunung Abang tersebut menjadi salah satu lokasi di Pulau Dewata yang dikunjungi wisatawan untuk menyaksikan matahari terbit pertama tahun 2021. ANTARA FOTO/Fikri Yusuf

TEMPO.CO, Jakarta - Tur virtual kini bisa menjadi pilihan bagi wisatawan yang ingin berlibur di tengah situasi pandemi. Bagi Anda yang mencari kesempatan tur virtual gratis, ada Virtual Indonesia - Surga yang Tersembunyi yang memperkenalkan 10 desa wisata di Indonesia.

"Bersama-sama kami akan melaksanakan tur virtual 10 desa dan kawasan wisata yang tersebar di seluruh Indonesia dari Indonesia barat hingga Indonesia timur," ujar Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno, Rabu, 27 Januari 2021.

Tur virtual itu merupakan hasil kerja sama antara Kemenparekraf dengan Traval.co dan Caventer Indonesia. Untuk mengikutinya, pengunjung tinggal mengakses Youtube Pesona Indonesia setiap Sabtu dan Minggu pukul 10.00 WIB sejak 30 Januari hingga 28 Februari 2021. Masyarakat juga dapat turut berpartisipasi memberikan donasi untuk membantu pembangunan desa dan kawasan wisata.

Dalam tur virtual itu, akan diperkenalkan 10 desa wisata yang memiliki budaya dan keindahan alam luar biasa namun masih belum diketahui secara luas oleh masyarakat.

Sebanyak 10 desa wisata yang akan ditampilkan dalam tur virtual ini di antaranya Pulau Banyak – Aceh Singkil, Desa Belibak – Kepulauan Anambas, Desa Karangduwur - Kebumen Kawasan, Desa Wisata Nanas Madu – Pemalang, Desa Bayan – Lombok Utara, Kawasan Kabola – Pulau Alor, Desa Aisandami – Teluk Wodam, Desa Bajo Mola – Kepulauan Wakatoba, Desa Ngilngof – Kepulauan Kei dan Desa Sebujit– Bengkayang.

Desa-desa ini dipilih berdasarkan keunikan dalam segi geografis, budaya, maupun aktivitas atau pengalaman yang ditawarkan, belum atau masih jarang diketahui serta melibatkan masyarakat dan komunitas lokal dalam pengembangan wisata sehingga seluruh potensi yang ada tergarap dengan baik.

Sandiaga menjelaskan pengembangan desa wisata dinilai penting sebab hal tersebut merupakan bentuk respons ide-ide inovatif lokal di tingkat grassroot serta melestarikan nilai-nilai warisan budaya yang menjadi identitas Indonesia. "Karena itulah Kemenparekraf mendukung pengembangan desa wisata di Indonesia, kita dukung all out," ujarnya.

Targetnya, kata Sandiaga, hingga 2024 ada 244 desa wisata maju, mandiri dan tersertifikasi desa wisata berkelanjutan, sesuai dengan RPJMN 2020-2024. "Koordinasi mengembangkan desa wisata ini telah dilakukan dengan Asosiasi Desa Wisata (Asidewi) maupun KemendesPDTT," ujarnya.

Founder Traval.co Julius Bramanto mengatakan tur virtual ini menjadi salah satu solusi untuk mengangkat semua potensi wisata suatu daerah di tengah pandemi Covid-19. “Virtual Indonesia - Surga yang Tersembunyi” ini dikemas dengan satu bentuk storyline yang didukung oleh audio dan visual yang menarik, sehingga diharapkan dapat memunculkan daya tarik masyarakat untuk berkunjung ke 10 desa wisata tersebut setelah pandemi berakhir," kata dia.

Sementara itu, Founder Caventer Fitri Ningrum berharap tur virtual tersebut dapat mempromosikan pariwisata dan ekonomi kreatif Indonesia ke seluruh dunia. "Harapan kami ini bisa menjadi motivasi untuk semuanya, seluruh desa, seluruh komunitas di berbagai daerah agar tetap semangat berinovasi mempelajari hal baru termasuk mempromosikan daerahnya dan terhubung ke seluruh Indonesia," ujarnya.

Baca juga: Keunikan Desa Bilebante Siap Manjakan Wisatawan MotoGP Mandalika


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT