Awas Infeksi Ulang Virus Corona pada Pemilik 5 Penyakit Ini
TEMPO.CO | 10/02/2021 10:35
Ilustrasi perawatan pasien Covid-19. REUTERS
Ilustrasi perawatan pasien Covid-19. REUTERS

TEMPO.CO, Jakarta - Ada penyintas Covid-19 yang mengalami infeksi ulang. Beberapa bahkan terinfeksi virus corona lagi dalam waktu kurang dari 50 hari.

Saat ini, tidak ada cukup bukti klinis atau studi untuk menunjukkan berapa lama seseorang memiliki kekebalan alami terhadap virus corona. Tapi, infeksi ulang adalah kemungkinan yang harus diperhitungkan.

Dokter juga percaya memiliki kondisi yang sudah ada sebelumnya juga membuat seseorang lebih rentan terhadap infeksi ulang, atau menderita komplikasi setelah pemulihan awal. Penyebab terbesar reinfeksi adalah kekebalan lemah dan gangguan fungsi vital.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh British Medical Journal (BMJ) kini menemukan orang dengan penyakit penyerta memiliki risiko lebih tinggi terkena infeksi ulang Covid-19, baik yang lebih ringan maupun yang parah. Oleh karena itu, pengidap kondisi dan risiko penyakit tersebut perlu sangat berhati-hati jika ingin terhindar dari risiko tertular COVID-19 lebih dari satu kali. Berikut daftar penyakit tersebut dilansir dari Times of India.

Diabetes
Diabetes tipe-1 dan tipe-2 adalah salah satu komorbid terbesar yang dapat memperburuk risiko terkena virus corona baru. Dari peningkatan infeksi kulit, kekebalan tubuh yang lemah, dan kerentanan terhadap penyakit lain, pasien diabetes memiliki kemungkinan lebih tinggi tertular COVID-19. Para peneliti juga mengamati pasien diabetes yang menderita COVID-19 sebelumnya memiliki kekebalan yang lebih cepat berkurang, membuat lebih rentan untuk tertular COVID lagi. Mereka yang paling berisiko termasuk mereka yang menderita kasus COVID-19 ringan tanpa gejala atau telah mengalami pemulihan COVID yang lebih dari enam bulan.

Usia
Orang yang berusia di atas 55 tahun mengalami kekebalan yang lemah, yang membuat rentan terhadap COVID-19. Jika penelitian diyakini, lansia, terutama yang memiliki komorbid juga berisiko lebih tinggi tertular penyakit lebih dari satu kali.

Baca juga: Bahaya Minum Minyak Kayu Putih untuk Tangkal Covid-19

Masalah tiroid
Tiroid adalah penyakit lain yang dapat mempengaruhi fungsi sistem kekebalan dan meningkatkan risiko COVID-19. Obat-obatan yang digunakan untuk tiroid yang kurang aktif atau tiroid yang terlalu aktif terkadang dapat menekan fungsi sistem kekebalan, membuat orang rentan sering terkena penyakit. Hormon disfungsional juga berarti kemampuan tubuh untuk melawan infeksi dan patogen lain juga dapat terganggu. Oleh karena itu, mereka yang memiliki masalah hormonal dan tiroid perlu ekstra hati-hati tentang risiko infeksi ulang.

Obesitas
Tingkat obesitas yang tinggi melemahkan sistem pertahanan alami tubuh, meningkatkan kerentanan terhadap COVID-19. Orang yang menderita obesitas juga lebih mungkin mengalami komplikasi yang parah dan lebih mematikan.

Tingkat peradangan dalam tubuh orang obesitas merusak fungsi vital yang membuat sistem kekebalan lebih sulit melakukan tugas dengan baik, terutama setelah pemulihan COVID-19. Studi yang lebih baru juga menemukan vaksin COVID-19 mungkin tidak memberikan hasil yang diharapkan untuk orang yang menderita obesitas. Oleh karena itu, di satu sisi, mereka berada pada risiko paling besar untuk infeksi ulang dan masalah pascapemulihan.

Orang dengan obesitas harus mengambil langkah-langkah perbaikan untuk mengubah gaya hidup dan mengembalikan kesehatan ke jalur yang benar jika ingin menghindari risiko dan komplikasi yang terkait dengan infeksi ulang virus corona

Penyakit pernapasan kronis
Virus corona adalah patogen yang menyebabkan kerusakan maksimal pada sistem pernapasan, ulai dari kesulitan bernapas, peningkatan risiko infeksi pernapasan, dan gangguan status kekebalan tubuh. Pemulihan pascaserangan COVID-19 dapat mengganggu sistem pernapasan atau membuat Anda memerlukan bantuan napas. Karenanya, ada peningkatan risiko infeksi ulang COVID-19 dan komplikasi bagi orang yang mengalami gangguan pernapasan.

Orang yang menderita masalah seperti COPD, asma, dan masalah pernapasan lain harus melakukan semua tindakan pencegahan yang diperlukan untuk mengurangi faktor risiko.

Apakah tanda-tanda Anda memiliki kekebalan jangka panjang terhadap virus?

Kekebalan bawaan (alami) dan tingkat antibodi dapat menentukan risiko infeksi ulang. Pada saat yang sama, gejala tertentu, pola infeksi, dan jenis kelamin seseorang dapat menunjukkan berapa lama kekebalan terhadap COVID-19 dapat bertahan. Misalnya, ada banyak penelitian yang membuktikan COVID-19 yang parah dapat mendukung kekebalan yang lebih tinggi, terutama untuk pria.

Sementara itu, adanya gejala khas COVID-19 yang dianggap berbahaya, seperti demam lebih dari lima hari, nafsu makan hilang, sakit perut, gangguan saraf, juga bisa menandakan seseorang mungkin memiliki kekebalan yang lama melawan virus. Gejala infeksi ulang COVID-19 kurang lebih tetap sama dengan gejala pertama. Namun, karena varian dan mutasi virus corona yang lebih baru beredar, dan gejala yang lebih baru ditemukan, kita semua harus berhati-hati.

Secara umum, pasien yang berisiko mengalami infeksi ulang virus corona harus mewaspadai tanda-tanda masalah berikut:
-Sulit bernapas
-Nyeri otot yang tidak biasa
-Demam tinggi, batuk-batuk
-Trombosis
- Sakit jantung/dada
-Ruam yang tidak dapat dijelaskan, tanda-tanda pembengkakan pada kulit.


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT