PERABOI Minta Pasien Kanker Padat Jadi Prioritas Dapat Vaksin Covid-19
TEMPO.CO | 19/02/2021 05:30
Ilustrasi Kanker paru-paru. Shutterstock
Ilustrasi Kanker paru-paru. Shutterstock

TEMPO.CO, Jakarta -  Persatuan Ahli Bedah Onkologi Indonesia (PERABOI) meminta pemerintah memprioritaskan pasien kanker padat dalam program vaksinasi Covid-19. Alasannya, kelompok ini berisiko mengalami gejala berat sampai kematian apabila terinfeksi oleh virus corona.
Kanker padat artinya pertumbuhan sel abnormal atau tumor pada organ 'padat' seperti payudara atau prostat. Sebaliknya kanker padat contohnya leukemia, yaitu kanker yang mempengaruhi darah, yang berbentuk cairan.

Ketua Umum PERABOI, Walta Gautama, mengatakan angka kejadian pasien kanker padat di Indonesia saat ini cukup tinggi. Di Rumah Sakit Kanker Dharmais Jakarta sebagai pusat kanker nasional, dalam setahun masa pandemi ini tercatat 359 pasien kanker dirawat dengan kasus Covid-19.

“Angka kematiannya juga lebih tinggi dari populasi pasien nonkanker. Dari jumlah data itu, tercatat kasus kematian sebanyak 23 persen," kata Walta dalam webinar 'Pentingnya Vaksinasi bagi Pasien Kanker' pada Rabu, 10 Februari 2021 yang diselenggarakan PERABOI

Walta menambahkan angka ini jauh lebih tinggi dari rata-rata kematian pada populasi nonkanker. Saat ini berdasarkan data Satgas Nasional Covid-19, dari seluruh pasien COVID-19 dengan komorbid, kanker menempati urutan kedelapan dengan jumlah 1,8 persen dari total jumlah pasien Covid-19 dengan komorbid.

Direktur Utama RS Kanker Dharmais Jakarta, R. Soeko Werdi Nindito menyebutkan pada awal pandemi Covid-19 lalu, sempat terjadi penurunan kunjungan pasien kanker karena takut berobat ke rumah sakit. Padahal, kanker merupakan penyakit yang tidak boleh ditunda terapinya dan pasian kanker terutama yang sedang menjalani terapi akan mengalami penurunan kekebalan tubuh, sehingga lebih mudah terinfeksi Covid-19.

Baca: Sering Terlambat Terdeteksi, Kanker Prostat Penyebab Terbanyak Kematian Pria

"Untuk itu, Rumah Sakit Kanker Dharmais memutuskan tidak melakukan pembatasan pelayanan, tetapi semua pasien yang datang menjalani penyaringan ketat, agar rumah sakit tidak menjadi sumber penularan Covid-19," kata Soeko.

Juru bicara vaksinasi Covid-19 Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi, M.Epid membenarkan bahwa saat ini pasien kanker belum masuk kelompok prioritas penerima vaksin Covid-19. Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung (Ditjen P2P) Kemenkes itu beralasan, hingga sekarang belum ada data uji klinis vaksin Covid-19 yang beredar di Indonesia pada pasien kanker.

"Bukan tidak boleh, kebijakan pemerintah adalah menunda vaksinasi pada golongan risiko tinggi, sambil menunggu data uji klinis yang terus berlangsung di berbagai negara," kata Nadia.

Sekjen PERABOI, Yadi Permana, menyebut data ekstrapolasi dari organisasi bedah onkologi di Eropa dan Amerika Serikat menunjukkan bahwa vaksinasi pada pasien kanker padat cukup aman selama tidak ada komponen vaksin yang kontraindikasi pada pasien. Jenis vaksin yang aman dan efektif pada populasi normal, kata Yadi, dapat digunakan pada populasi pasien kanker padat.

"Memang data efek samping vaksinasi terhadap pasien kanker masih sangat minimal. Tapi sekarang adalah saat yang tepat untuk mengumpulkan data sebanyak mungkin melalui pemantauan ketat Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) pada pasien kanker padat," kata Yadi.

Masih menurut Yadi, pengumpulan data dapat dilakukan oleh para ahli bedah onkologi di seluruh Indonesia. Sebagai sub spesialisasi bedah yang menangani kanker payudara, kanker kepala dan leher, kanker kulit dan jaringan lunak, serta terapi sistemik, ahli bedah onkologi memiliki akses luas terhadap pasien kanker.

Ilustrasi Kanker. shutterstock.com

"Bila vaksinasi Covid-19 dapat dilakukan pada pasien kanker padat, ahli bedah onkologi dapat berkontribusi untuk melakukan pemantauan ketat dalam hal keamanan dan efikasi vaksin," kata Yadi yang juga Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) cabang Jakarta Selatan.


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT