Indonesia Menggigil, Pendaki Gunung Gede Diminta Siaga Embun Es
TEMPO.CO | 09/07/2018 08:00
Indonesia Menggigil, Pendaki Gunung Gede Diminta Siaga Embun Es

TEMPO.CO, Bandung - Para pendaki Gunung Gede diminta melakukan persiapan khusus untuk menghadapi fenomena embun es. Imbauan ini disampaikan setelah pada Kamis pekan lalu seorang pendaki melaporkan fenomena tersebut. Embun es menujukkan bahwa suhu anjlok hingga di bawah 0 derajat. 

Gunung Gede di Jawa Barat beberapa kali diliputi embun es saat puncak musim kemarau. Pendaki seringkali menemukannya menempel di dedaunan yang berada di Alun-alun Surya Kencana Gunung Gede. Menurut relawan Gede Pangrango Operation Agus Mulyana, 34 tahun, fenomena embun es muncul terutama ketika masa puncak kemarau, sekitar Juli-Agustus.

"Saya sudah mengalami kondisi es itu tiga kali, jadi hapal kondisinya," ujar Agus yang dihubungi Minggu, 8 Juli 2018. Ia mengalaminya pada 2004, 2005, dan 2007 ketika kemarau panjang selama tujuh bulan.

Tahun ini, fenomena embun es itu muncul kembali pada Kamis pagi, 5 Juli 2018. Seorang pendaki merekamnya dan beredar di media sosial baru-baru ini.

Embun es, menurut Agus, biasanya terjadi antara pukul 04.00-06.30 ketika suhu menurun drastis. Kejadian terbaru direkam sekitar pukul 06.00 WIB.

Temperatur  saat embun es turun dibawah 0 derajat hingga kisaran minus 5 derajat Celcius. Lokasi embun es yang biasa ditemui pendaki berada di area Alun-alun Surya Kencana, Gunung Gede.

"Belakangan baru terangkat (menyebar infonya) karena adanya handphone sudah maju, sebenarnya tiap tahun juga kadang ada embun es," tuturnya.

Relawan Gede Pangrango Operation (GPO) mengimbau para pendaki Gunung Gede lewat media sosial terkait persiapan perbekalan, fisik dan mental serta peralatan yang memadai untuk pendakian di musim kemarau seperti sekarang ini. "Kalau suhu normal rata-rata dibawah 10 sampai 5 derajat Celcius. Waktu kemarau bisa dibawah lagi bahkan minus," ujarnya.

Baca Juga: 

Kepala BMKG Bandung Tony Agus Wijaya mengatakan, pada musim kemarau, permukaan bumi lebih kering. Kandungan air di dalam tanah menipis dan uap air di udara pun sangat sedikit jumlahnya. yang menyebabkan kelembaban udara lebih rendah.

Pada kondisi demikian, panas matahari akan lebih banyak terbuang dan hilang ke angkasa. Itu yang menyebabkan suhu udara di malam hari, pada musim kemarau, lebih dingin daripada suhu udara musim hujan.

Pada kondisi kemarau saat ini di Jawa, beberapa tempat yang berada pada ketinggian, terutama di daerah pegunungan, akan berpeluang untuk mengalami kondisi suhu udara di permukaan lebih rendah dari titik beku 0 derajat Celcius. Hal itu disebabkan molekul udara di daerah pegunungan lebih renggang dari pada dataran rendah sehingga sangat cepat mengalami pendinginan, terutama pada saat cuaca cerah tidak tertutup awan.

Pada malam hari uap air di udara akan mengalami kondensasi dan kemudian mengembun untuk menempel jatuh di tanah, dedaunan atau rumput. Air embun yang menempel dipucuk daun atau rumput akan segera membeku dan jadilah embun es. 

ANWAR SISWADI


BERITA TERKAIT