Bende Kabuyutan, Berkisah tentang Awal Kehidupan di Gunungsungging Sukabumi
SUKABUMIUPDATE.COM | 17/08/2022 14:59
Bende Kabuyutan, Berkisah tentang Awal Kehidupan di Gunungsungging Sukabumi

SUKABUMIUPDATE.com - Tugu Bende Kabuyutan, berdiri kokoh di dataran tinggi Cikabuyutan Desa Gunungsungging, Kecamatan Surade, Kabupaten Sukabumi. Tak sekedar tugu, lokasi tersebut merupakan penanda awal mula kehidupan di wilayah tersebut, terkait banyak kisah salah satunya Kerajaan Jampang Manggung.

Pegiat sejarah Desa Gunungsungging, Mansursyah (44 tahun) menjelaskan bende adalah gong dengan ukuran besar. Benda hitam yang terpasang di tugu adalah gong asli, tetapi bukan Bende Kabuyutan.

"Bende Kabuyutan merupakan gong besar turun temurun, dan cikal bakal seni budaya di Kecamatan Surade, sebagai alat musik tradisional," jelas Mansursyah kepada sukabumiupdate.com, Sabtu 13 Agustus 2022.

Gong bersejarah itu selalu mengiringi acara kebudayaan seperti pencak silat, popeng, serta gondang. Saat ini Bende Kabuyutan masih ada, terawat baik oleh keturunan ke 7 dari pemiliknya.

"Bende Kabuyutan dulu adalah pembawa budaya kesenian di desa Gunungsungging. Leluhur kami menitipkan bende yang disebut bende kabuyutan," beber Mansursyah.

Dari sanalah ada ide membangu Tugu Bende Kabuyutan pada tahun 2021 lalu, kata Mansur. Diameter Gong 2 meter, terbuat dari campuran besi dan tembaga, dilingkari dengan replika gigi megalodon.

"Yang terpasang sekarang adalah replika atau simbol saja, karena yang aslinya tidak boleh dikeluarkan atau digantung, kecuali ada acara besar pemerintahan. Kalau yang asli terbuat dari kuningan, ukuran diameter 1,20 meter, namanya aslinya Bende Bangbara Ngapung," lanjut pria yang juga aktif sebagai pegiat museum megalodon Surade ini lebih jauh.

Ia kemudian bercerita soal sejarah Bende Bangbara Ngapung atau bende kabuyutan. Terkait dengan kisah perjalanan Sungging Dewangkara yang berasal dari Cianjur.

"Itu sejarahnya Jampang Manggung, jejak Sungging Dewangkara. Dari Cianjur ke Cimerang Lengkong, lalu ke Gunungsungging Surade," terangnya.

Masih kata Mansursyah titik yang sekarang dibangun tugu adalah jejak awal dari kisah kehidupan di kawasan tersebut. Disitulah awal pertama ada kehidupan, ada pemukiman warga pertama Gunungsungging.

"Disana tidak jauh dari tugu ada pemakaman para leluhur, dibawahnya ada sumber air yang bernama Cikabuyutan," tuturnya.

"Pemasangan tugu ini, agar generasi penerus tidak melupakan akan sejarah kebudayaan leluhur, yang harus tetap dijaga dan dilestarikan," pungkas Mansursyah.

 

**


BERITA TERKAIT