Mobil Ambulans GKST Maoti Berubah Jadi Minibus
SULTENGRAYA.COM | 15/04/2021 13:21
Mobil Ambulans GKST Maoti Berubah Jadi Minibus
Ilustrasi mobil Ambulans. Dok.TEMPO/ Agung Rahmadiansyah

SULTENG RAYA – Sejumlah jemaat Gereja Kristen Sulawesi Tengah (GKST) Betlehem Maoti Desa Tindaki, Kecamatan Parigi Selatan, Kabupaten Parigi Moutong (Parmout) mendapat bantuan satu unit mobil ambulans dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulawesi Tengah tahun 2020.

Namun, sayangnya mobil ambulans yang diperuntukkan mengangkut orang sakit tersebut telah berubah bentuk dari mobil ambulans menjadi minibus. Dimana bagian mobil yang biasanya untuk tempat pasien dengan posisi terlentang telah dipasangi kursi layaknya mobil minibus.

Sejumlah jemaat di gereja mempertanyakan perubahan bentuk mobil ambulans tersebut. Salah seorang jemaat yang juga mantan pendeta di gereja itu, Pdt Tamauka mengaku heran dengan perubahan bentuk ambulans tersebut. Dia menyatakan, tidak ada kesempatan dari jemaat untuk melakukan perubahan bentuk ambulans. Perubahan itu katanya dilakukan oleh orang perorang di lingkungan gereja.

“So itu saya juga bingung kenapa dorang robah, itukan bantuan toh. Baru itu kan masih pelat merah kan. Mobil itu kan untuk angkut pasien. Saya heran juga kenapa bisa begitu. Jemaat fikir so bukan model ambulans, so perasaan toh orang mo bapake karena bukan untuk orang sakit,” ujar Tamauka melalui saluran teleponnya, Senin (12/4/2021).

Tamauka mengungkapkan, bagi jemaat yang hendak menggunakan ambulans itu setelah dikembalikan harus diisi bensin full dan dicuci.

“Siapa mo pake pigi pinjam dengan catatan pulang isi full bensin dan mobil harus mengkilat. Jadi kita bilang artinya kalau orang bodoh pe hitungan lebih baik sewa jo mobil umum rental,” jelasnya.

Sumber dari jemaat lain juga mengungkapkan, mobil ambulans disimpan di kediaman salah seorang pengurus gereja sehingga warga agak segan untuk meminjamnya.

“Pernah ada warga yang sakit tengah harus dibawa ke rumah sakit, tapi karena mobil ambulans itu disimpan di rumah salah seorang pengurus gereja sehingga warga tersebut segan untuk membangunkannya. Terpaksa warga yang sakit itu dibawa ke rumah sakit Anuntaloko Parigi menggunakan sepeda motor,” ujar jemaat yang minta identitasnya tidak disebutkan.

Jemaat tersebut juga mengatakan, ketika mantan kepala desa setempat yang meninggal dunia dan hendak dikuburkan di Desa Sumbersari juga tidak dapat diantar menggunakan ambulans karena ambulans tersebut telah berubah bentuk. Terpaksa katanya jenazah mantan kades itu diangkut menggunakan mobil ambulans milik salah satu parpol yang didatangkan dari Parigi.

Sementara, salah seorang pengurus gereja yang juga ketua pembangunan GKST Jemaat Betlehem Maoti, I Ketut Ramia Sucianta membenarkan perubahan bentuk ambulans tersebut. Ketut Ramia yang akrab dipanggil Pak Herman ini mengatakan, keberadaan ambulans itu digunakan untuk pelayanan para jemaat.

“Tempat duduknya saja diubah. Kan kalau kunjungan orang sakit pengurus gereja kadang-kadang berapa orang. Kalau umat disini tidak pernah sakitnya parah-parah. Jadi kalau mau berobat cukup duduk di mobil saja,” ujar Herman.

Ditanya soal ambulans digunakan untuk mengangkut jenazah, Herman mengatakan bahwa ambulans bukan mobil jenazah sehingga tidak digunakan mengangkut jenazah.

“Ini kan bukan ambulans jenazah. Kalau tidak salah kan ada ambulans untuk jenazah,” jelasnya.

sultengraya.com


BERITA TERKAIT