Hidupkan Museum Di Malam Hari, Sonobudoyo Gelar Pagelaran Kesenian Kerakyatan
KRJOGJA.COM | 26/06/2021 17:34
Hidupkan Museum Di Malam Hari, Sonobudoyo Gelar Pagelaran Kesenian Kerakyatan
Koleksi gamelan Riris Manis di MSB (Febriyanto)

YOGYA, KRJOGJA.com– Museum Sonobudoyo Yogyakarta menggelar Pagelaran Kesenian Kerakyatan setiap Rabu dan Kamis mulai pukul 20.00 – 21.00 WIB di Pendopo Timur Museum Sonobudoyo Yogyakarta. Pagelaran meliputi kesenian Jathilan, Badui, Kethek Ogleng, Tayub, Reog, dan Angguk.

Pengamat Seni dan Budaya, Dr Kuswarsantyo mengatakan, kesenian tradisional yang dimasukkan ke Museum Sonobudoyo mengusung konsep Shadow Tradition Art, yakni seni yang meniru atau mengadopsi dari bentuk aslinya.
Hal ini dilakukan agar pengemasan kesenian lebih sederhana mengingat masih masa pandemi Covid-19 yang memaksa ada pembatasan sehingga tidak boleh berkerumun dan patuh protokol kesehatan Covid-19.

“Masalah estetika seni rakyat memang mengacu pada konsep shadow tradition art jadi seni tradisional tiruan dari bentuk aslinya. Jadi kalau jathilan terbuka seperti itu, dengan banyak personil dan pendukungnya banyak. Ketika dimasukkan ke Sonobudoyo dikemas menjadi seni wisata, lebih simple dengan durasi yang pendek dan personel tidak banyak,” jelasnya, Rabu (24/6/2021) di Museum Sonobudoyo Yogyakarta.

Dia mengatakan sejak semula para seniman telah bersepakat untuk berkesenian dengan tetap disiplin protokol kesehatan Covid-19. Apabila ada kesenian yang melibatkan penonton juga dilakukan dengan hati-hati misalnya pada saat mengajak penonton ikut serta menari.

“Kita tetap prokes dengan face shiled bagi penari dan penabuh dengan masker dan semua sudah sepakat. Semua sepakat. Kalau (kesenian) tayub, penonton diajak ikut menari tapi tetap jaga jarak,” imbuhnya.


Dia berharap kegiatan kesenian kerakyatan yang sudah masuk putaran ketiga pada masa pandemi dapat menumbuhkan antusias masyarakat dalam kesenian. Di sisi lain, dapat menghidupkan museum di malam hari sehingga museum tidak sebatas tempat menyimpan barang antik.
“Bagaimana menghidupkan museum malam hari sehingga kesannya jadi tidak hanya menyimpan benda antik saja, misalnya bagaimana topeng dihidupkan dalam pertunjukan, saat siang pengunjung melihat di museum, saat malam mereka bisa melihat visualisasinya seperti apa,” jelasnya. “Sehingga ke depan memang museum akan menjadi betul-betul living museum karena hidup, tidak hanya benda mati tapi bisa bercerita sesuatu di saat tertentu,” imbuhnya.

Adapun keenam jenis kesenian lokal dari pelbagai Desa di Yogyakarta yang ditampilkan diharapkan dapat menunjukkan kearifan lokal desa tersebut, dan dapat memperkenalkan kepada kaum muda milenial. Seperti kesenian Tari Badui yang merupakan jenis kesenian Shoolawatan yang berkembang dan populer di Kabupaten Sleman.


Keberadaannya dikenal sebagai seni religius yang berfungsi sebagai media dakwah Islam. Tari Badui menggambarkan gerakan bela diri yang dipadu dengan iringan rebana dan jidhor.
Seni jathilan merupakan salah satu kesenian yang populer di Yogyakarta. Pasalnya hampir setiap desa memiliki grup kesenian jathilan. Seni jathilan yang ditampilkan bertajuk Bretya Jalu Aswa yang menggambarkan upaya pencarian jati diri dalam rangka membangun bangsa.

Adapun kesenian Kethek Ogleng mengisahkan Dewi Ragil Kuning yang meninggalkan Kraton Jenggala untuk mencari kakanda Paji Asmarabangun dengan menyamar menjadi Endang Loro Tompe.

Suatu hari saat Raden Putra bersama abdinya bercengkrama di tengah hutan, datanglah Endang Loro Tompe yang dikejar seekor kera putih. Lalu terjadilah pertenngkaran kera putih dan Raden Putra yang akhirnya kera putih berubah menjadi Satriya Bagus bernama Gunungsari, Raden Putra berubah menjadi Panji Asmarabangun, dan Endang Loro Tompe ternyata Dewi Ragil Kuning. Ketiganya adalah saudara sendiri dan akhirnya kembali ke Kraton Jenggala.


Sementara itu seni tayub merupakan kesenian tari yang guyub rukun dan di tata sedemikian rupa dengan mengedepankan unsur keindahan. Reog juga terdiri dari tarian tradisional namun mengandung unsur magis dengan penari utama berkepala singa dengan hiasan bulu merak. Sedangkan tari angguk asal Kulon Progo juga ditampilkan dan menggambarkan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan setelah panen padi.

krjogja.com


BERITA TERKAIT