Wisatawan Datang Tengah Malam ke Yogya, Sultan Pilih Buka Destinasi Agar Terawasi
KRJOGJA.COM | 29/09/2021 16:10
Wisatawan Datang Tengah Malam ke Yogya, Sultan Pilih Buka Destinasi Agar Terawasi
Sejumlah Abdi Dalem Keraton Yogyakarta berdoa saat prosesi Grebeg Syawal 1440 H di Masjid Gede Kauman, Yogyakarta, Rabu 5 Juni 2019. Dalam acara yang menjadi simbol sedekah raja kepada rakyatnya itu Keraton Yogyakarta mengeluarkan tujuh gunungan hasil bumi dan diperebutkan oleh warga. ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko

YOGYA, KRJOGJA.com – Beberapa waktu terakhir terutama di akhir pekan, ratusan bus pariwisata mulai memenuhi beberapa sudut Yogyakarta. Wisatawan mulai banyak menyemut di destinasi-destinasi yang sebenarnya belum dibuka sebagai konsekuensi penerapan PPKM Level 3 di DIY.

Menariknya, untuk menyiasati masuk destinasi seperti pantai, bus-bus pariwisata tiba lepas tengah malam. Tak ada pilihan lain karena mereka menghindari petugas agar tak diminta berbalik arah.

Menghadapi situasi tersebut, Gubernur DIY, Sri Sultan HB X mengatakan pihaknya tak punya pilihan lain selain membuka destinasi wisata. Hal tersebut dimaksudkan agar petugas bisa melakukan pengawasan lebih intensif menghindari kemungkinan penularan yang bisa terjadi apabila wisatawan tak bisa dibendung datang.

“Karena bagaimanapun dengan masyarakatnya seperti ini ya pie nek tempat pariwisata isih tutup tapi bus ning jero terus kon pie, sehingga kemarin kita usulkan resikonya terlalu besar sehingga saya minta lebih baik dibuka tapi kita bisa mengawasi daripada ditutup tapi gak bisa mengawasi,” ungkap Sultan, Rabu (29/9/2021).

Saat ini tercatat baru tujuh destinasi wisata di DIY yang buka untuk ujicoba yakni Pinussari Mangunan, Tebing Breksi, GL Zoo, Seribu Batu, Merapo Park, TWC Ratu Boko dan Pinus Pengger Mangunan. Namun, pada faktanya wisata pantai seperti Parangtritis tak kuasa menolak wisatawan yang masuk lepas tengah malam.

“Seperti Parangtritis dan sebagainya kan juga penuh kan gitu, karena masuknya jam 1 malam, sebelum subuh. Ya di Jatim juga gitu, Jabar juga, sehingga kemarin hari Minggu malam itu isu kita sampaikan sehingga dibahas hari Senin. Nanti sore harapan saya sudah ada keputusan (dari pemerintah pusat),” sambung Sultan.

DIY berharap pemerintah pusat mempertimbangkan situasi yang terjadi di lapangan untuk kemudian memutuskan apakah tetap ditutup atau dibuka. Namun, apabila diminta pendapat, Sultan akan menyampaikan lebih baik untuk dibuka dengan pertimbangan petugas bisa melakukan pengawasan secara lebih maksimal.

Apalagi, Sultan menilai DIY tidak bisa melakukan upaya selain melakukan pengawasan. Dibukanya destinasi dengan petugas yang mengawasi, dinilai lebih baik untuk memastikan wisatawan memenuhi protokol kesehatan.

“Kalau saya ya perlu dibuka karena dengan dibuka berarti ada petugas yang ikut ngawasi, kalau ditutup kan ga ada petugas yang ngawasi, gitu lho. Dan dibuka kan ga perlu datang jam 1 malam, di obyek kan gitu. Berarti mungkin bisa lebih aman daripada tidak dikontrol sama sekali. Karena pilihan-pilihan seperti itu yang terjadi, kita juga tidak bisa melarang, ngerti-ngerti baru enak-enaknya tidur, bus masuk. Ya semoga penularan (tidak ada), selama tidak kurang apa,” lanjut Sultan lagi.

krjogja.com


BERITA TERKAIT