Pernikahan Dini Berpotensi Naikkan Angka Stunting
KRJOGJA.COM | 18/11/2021 12:40
Pernikahan Dini Berpotensi Naikkan Angka Stunting
Ilustrasi stunting. freepik.com

PEKALONGAN, KRJOGJA.com – Angka stunting secara nasional sangat tinggi, sehingga menjadi salah fokus kegiatan dari BKKBN. Tingginya angka stunting apalagi di masa pandemi nenjadi hal yang sangat memprihatinkan.

Koordinator Bidang Adpin Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Tengah, Farida Sumarlin mengatakan butuh kerjasama beberapa pihak untuk menurunkan angka stunting. BKKBN RI bersama Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Tengah dan juga Mitra Kerja Komisi IX DPR RI Terus berkolaborasi dalam percepatan penurunan angka stunting di Jawa Tengah. Bersama mitra Komisi IX DPR RI, yang diwakili oleh H Bisri Romly anggota komisi X DPR RI, Minggu (14/11/2021) menggelar Sosialisasi Pengendalian Pencegahan Stunting di Kecamatan Kajen Kabupaten Pekalongan.

“BKKBN saat ini salah satu fokus utamanya adalah penurunan angka stunting di Indonesia. Secara nasional angka stunting ini masih sangat tinggi, apalagi di masa pandemi, stunting harus terus diperhatikan karena dapat membahayakan,” ujar Farida.

Menurutnya, salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan cara mencegah terjadinya pernikahan dini. “Salah satu langkah untuk mencegahnya adalah dengan pencegahan pernikahan di usia dini, BKKBN harus terus ber koordinasi dengan KUA untuk memantau agar kasus pernikahan dini ini dapat dikendalikan,” lanjutnya

Sementara itu Sukaryo Teguh Santoso Deputi Advokasi Penggerakan dan Informasi BKKBN RI mengajak masyarakat untuk ikut serta membantu percepatan stunting di lingkungannya masing-masing, karena menurutnya upaya percepatan penurunan stunting ini tidak dapat dilakukan hanya oleh pemerintah saja. “Harus ada keterlibatan dari semua sektor, pemerintah, pihak swasta, kalangan Pendidikan, masyarakat . termasuk diantaranya adalah media” ujar Teguh.

Teguh mengajak masyarakat untuk ikut mengawasi lingkungan di sekitarnya, setidaknya untuk penurunan stunting perlu pengawalan dan pengawasan terhadap 3 (tiga) kelompok keluarga. Pertama, adalah kelompok yang dalam masa pra nikah. “Tiga bulan sebelum menikah calon pasangan harus dipersiapkan jangan sampai menjalani pola hidup tidak sehat bagi pria bisa mempengaruhi kualitas sperma bila calon pengantin sering menjalani pola hidup tidak sehat seperti minum-minuman keras, merokok, dll, selain itu mereka juga harus melakukan skrining dan mendapatkan pembekalan kesehatan reproduksi,” ujar Teguh.

Selain itu, Kata Teguh adalah kelompok Ibu Hamil, harus didampingi dan di awasi apakah mereka secara rutin sudah melakukan monitor pertumbuhan janinnya (ANC) dan memenuhi nutrisi yang cukup selama masa kehamilan. “Selanjutnya yang terakhir adalah kelompok keluarga yang memasuki pasca persalinan masa interval, jangan sampai setelah melahirkan lupa untuk tidak ber KB, karena bila nanti jarak melahirkannya terlalu dekat ini juga akan beresiko untuk melahirkan balita stunting,” jekas Teguh.

Sementara itu Kepala Dinas PPKB Kabupaten Pekalongan, Abdul Kholiq menuturkan bahwa angka stunting di Kabupaten Pekalongan sudah menunjukkan kecenderungan penurunan yang signifikan dibandingkan dengan Tahun 2020. “Berdasarkan data bulan timbang tahun 2021, angka stunting di Kabupaten Malang sudah menunjukkan penurunan, hal ini tidak lepas dari program Keluarga Berencana yang menunjukkan peningkatan di Kabupaten Pekalongan, Angka kesertaan Ber KB di Kabupaten Pekalongan juga semakin baik,” Kholiq.

Pihaknya menegaskan akan terus menurunkan angka stunting dengan mengoptimalkan kolaborasi dengan lintas sektor di Kabupaten Pekalongan meskipun jumlah tenaga penyuluh di Kabupaten Pekalongan tidak sebanding bila dibandingkan dengan luas wilayah dan jumlah penduduk.

”Tenaga Penyuluh KB di Kabupaten Pekalongan terbatas, untuk itu kami harus menggerakkan semua sektor untuk membantu percepatan penurunan stunting ini, kami terus mengoptimalkan kolaborasi dengan mitra lintas sektor di Kabupaten Pekalongan,” lanjutnya.

krjogja.com


BERITA TERKAIT