Ritus Rurumat, Saat Tujuh Juru Kunci Desa Rapat dengan Arwah Leluhur
SATELITPOST.COM | 01/02/2019 16:36
Ritus Rurumat, Saat Tujuh Juru Kunci Desa Rapat dengan Arwah Leluhur
RITUAL akhir rapat kecil para tetua adat dengan arwah leluhur desa dengan media tongkat yang dibentangkan di kedua tangan kanan dan kiri untuk meminta petunjuk dan jawaban sebagai pertimbangan, Kamis pekan lalu.

Wilayah Kecamatan Dayeuhluhur kaya dengan budaya dan tradisi yang terus dipertahankan secara  turun-temurun yang lestari hingga kini. Satu di antaranya adalah tradisi Ritus Rurumat yakni sebuah ritual di Desa Kutaagung, Kecamatan Dayeuhluhur, Kabupaten Cilacap.

Pada Ritus Rurumput itu para juru kunci desa secara bersama-sama membersihkan dan mengirim doa di tujuh tempat keramat yang disakralkan. Tujuh tempat itu letaknya persis mengelilingi Balai Desa Kutaagung.

BACA JUGA: Berumur 49 Tahun, Kondisi Jembatan Gantung Memprihatinkan

Ketua adat sekaligus ketua juru kunci Desa Kutaagung Cardi (72) mengatakan, Ritus Rurumat dilakukan setiap Kamis Wage mulai  jam 07.00 sampai 11.00 WIB. Prosesi Ritual Rurumat dilakukan para juru kunci desa yang berjumlah tujuh orang. Mereka adalah ketua juru kunci desa, juru kunci Dusun Kutaagung, juru kunci Gerumbul Kutaagung Awal, juru kunci Dusun Citatah, juru kunci Dusun Cinongkob, juru kunci muda, dan pembantu juru kunci desa.

Mereka berkumpul di Balai Desa Kutaagung dengan berpakaian hitam-hitam membawa alat kebersihan seperti parang dan sapu, serta membawa dupa kemenyan. Prosesi diawali dengan membersihkan, membakar kemenyan, dan doa di sebuah situs yang terdekat dengan balai desa yakni Situs Ki Santri. Setelahnya mereka berkeliling berlawanan dengan arah jarum jam untuk mendatangi enam situs lain.

Situs Keramat Batu Datar digunakan untuk  urusan masalah kesehatan di masyarakat. Situs Keramat Arca Batu Datar digunakan urusan tanda-tanda mau ada kejadian besar di desa. Situs Keramat Pancuran Cibeubeulik merupakan tempat menyepuh pusaka. Situs Keramat Cigoong  merupakan mataair untuk pemandian para perempuan. Situs Keramat Cisuri tempat mandi para laki-laki.

Terakhir mendatangi Situs Keramat Gunung Kutaagung. Di Situs Keramat Gunung Kutaagung ini para juru kunci bersidang atau rapat dengan arwah leluhur desa dengan media “Nepus” atau mendepa tongkat. Tongkat dibentangkan sepanjang kedua tangan.

Rapat tersebut biasanya membahas tentang tanda-tanda bencana, upacara adat, solusi penyakit, solusi permasalahan di desa, masalah masyarakat, bahkan situasi pemerintahan yang lebih luas juga dibahas. “Semua sikap dan keputusan dari ke tujuh juru kunci sepenuhnya berdasar hasil mendepa tongkat dari para tetua adat tersebut,” kata Cardi.

Setelah selesai mereka kembali ke balai desa. Hasil keputusan Ritus Rurumat tersebut disampaikan kepada orang terdekat atau orang kepercayaan kepala desa untuk selanjutnya jadi bahan pertimbangan.

BACA JUGA: Tanah Ambles di Dayeuhluhur, Dinding Rumah Ambrol

Sementara itu aktivis pemerhati budaya Kecamatan Dayeuhluhur Ceceng Rusmana saat dikonfirmasi menyampaikan, masyarakat Dayeuhluhur secara umum taat menjalankan agama. Selain itu juga sangat menjunjung budaya dan adat istiadat yang diyakini sebagai media pemersatu menyatu dengan alam dan menghormati para leluhur.

Adat istiadat tersebut menjadi tercermin dalam kehidupan sehari-hari masyarakat dalam bermasyarakat. Misalnya menjaga kerukunan dengan saling menghormati, bergotong royong, dan persaudaaraan yang sangat kuat. “Selain ketokohan atau figur, adat istiadat sangat melekat dalam menjaga kerukunan bermasyarakat sehingga jauh dari perselisihan,” kata Ceceng, Rabu (30/1). (lim)

SATELITPOST.COM