Gerombolan Garasi Pencipta Imaji
JATIMPLUS.ID | 22/01/2019 14:25
Gerombolan Garasi Pencipta Imaji

Game berbasis android Bomb Riders begitu populer di kalangan remaja dan anak-anak. Melalui layar gadget, mereka mengendalikan sosok animasi pembawa bom untuk memusnahkan lawan. Misi utamanya adalah membuka portal agar bisa keluar.

Keseruan memainkan Bomb Riders ini membuat aplikasi game tersebut mengisi gadget penggemar game atau gamers tanah air. Kebanggaan muncul saat misi mereka tuntas di ujung permainan menantang ini.

Di kalangan gamers aplikasi ini memang populer. Namun tak ada yang tahu jika game itu diproduksi dari ruang kecil di belakang tempat pencucian motor. Serius?!

BACA JUGA: Dari Bengkel Rosok Hingga Museum Spanyol

Robertus Rahardian Haris, Utong Akbar, Kriswin Yuniar, Rizal Catur Pamungkas, Hermawan Andika, dan Budhi Luhur adalah kreator yang membidani game tersebut. Mereka adalah kumpulan anak muda yang setiap hari memproduksi game untuk dibeli perusahaan besar tanah air.

Markas Haris dan kawan-kawan ini bahkan nyaris tak tampak. Di sudut rumah milik orang tuanya di Jalan Tunggulwulung nomor 287 Ngasem, Kabupaten Kediri, Haris menghimpun lima programmer sepantaran untuk membuat rumah produksi. Tahoe Studio dipilih sebagai identitas kelompok mereka yang mulai eksis di tahun 2014. “Kami memanfaatkan garasi rumah sebagai tempat workshop,” kata Haris yang menjadi pemimpin Tahoe Studio.

baca juga: KHF, Segenggam Dedikasi Kaum Muda Kediri

Keenam personil ini memiliki keahlian dan disiplin ilmu berbeda. Sebagian adalah programmer, sementara crew lain membidangi seni grafis. Haris sendiri adalah lulusan Sekolah Tinggi Teknik Surabaya (STTS).

Dunia game bagi Haris bukan hal baru. Sejak kanak-kanak dia sudah berkutat dengan game kawak produksi Nintendo. Kini setelah memiliki kemampuan teknis di balik pembuatan game, Haris tak lagi menjadikan game main-main. “Kami memproduksi rata-rata tiga game per bulan untuk dibeli perusahaan game,” katanya.

BACA JUGA: Dari Kick Andy, Nekd Traveler, Komunitas Hingga Royalti

Bandrolnya pun lumayan besar untuk menjadikan para remaja ini jutawan muda. Setiap game dihargai 600 – 1.000 dollar yang dibeli secara putus oleh perusahaan game. Angka itu setara dengan Rp 15 juta (kurs Rp 15.000) untuk satu game, yang berarti dalam sebulan bisa mengantongi nominal Rp 45 juta. Angka yang fantastis.

Konsekuensinya, mereka tak lagi berhak mendapat royalti jika game yang mereka produksi laris manis di pasaran. Mereka cukup berbangga jika game yang dibuat digemari banyak gamers di dunia.

Beberapa game produksi Tahoe Studio antara lain Risky Trip, Blocky Kick, VI Defender, Pesawat 2020, dan Ouch Finger. Game-game tersebut telah dipubslih oleh beberapa perusahaan penyedia konten game seperti Armor Games dan Nedrago. Di luar itu, mereka juga memproduksi game khusus yang memenuhi selera idealisme Haris cs, yakni Rising Hell.

Selengkapnya baca di JATIMPLUS.ID


BERITA TERKAIT