Gara-gara Penumpang Wajib PCR, Citilink Tunda Penerbangan Perdana di Bandara Ngloram
SUARABANYUURIP.COM | 29/10/2021 15:44
Gara-gara Penumpang Wajib PCR, Citilink Tunda Penerbangan Perdana di Bandara Ngloram
Gara-gara Penumpang Wajib PCR, Citilink Tunda Penerbangan Perdana di Bandara Ngloram

SuaraBanyuurip.com - Blora - Rencana penerbangan perdana Maskapai Citilink di Bandara Ngloram, Kecamatan Cepu, Kabupaten Blora, Jawa Tengah batal dilaksanakan pada Jumat (29/10/2021) besok. Penundaan dikarenakan adanya pemberlakukan wajib tes polymerase chain reaction (PCR) bagi para penumpang. Pernerbangan perdana akan dilaksanakan pada November 2021.

Menurut Kepala Bandara Ngloram, Ariadi Widiawan, informasi yang dia terima usai bertemu manajemen Citilink, sementara penerbangan pedana di Bandara Ngloram ditunda.

"Dengan alasan komersil. Jika ada informasi lebih lanjut akan diinformasikan," kata dia kepada suarabanyuurip.com, Kamis (28/10/2021).

Penundaan penerbangan perdana Citilink di Bandara Ngloram karena adanya pemberlakukan wajib PCR bagi para penumpang.

"Tapi dengan adanya SE PCR bertarif Rp275.000 mudah-mudahan ada perubahan," ujar Ariadi.

Dikonfirmasi terpisah, Bupati Blora, Arief Rohman membenarkan adanya penundaan  penerbangan perdana Citilink di Bandara Ngloram pada 29 Oktober 2021 besok.

"Mohon maaf kita sebenarnya sudah siap untuk Jumat besok terbang perdana, tapi karena terkait dengan persoalan teknis tentang PCR dan sebagainya kita akan nego ulang," ujar Arief Rohman.

Sebagai gantinya, lanjut Bupati Arief, Citilink akan melakukan penerbangan pada November bulan depan.

"Dari sisi izin kita sudah clear semua, tinggal mengatur secara teknis sambil nanti kita matangkan lebih lanjut," ujarnya.

Dia menyampaikan, jika pihak Bandar Udara Halim Perdanakusuma sudah memberikan izin bagi Citilink untuk membuka jalur penerbangan ke Bandara Ngloram.

"Terakhir komunikasi dengan Danlanud, yang kebetulan dari Blora, sudah memberikan lampu hijau untuk memberikan izin terkait dengan rute dari Halim ke Cepu," jelasnya.

Bupati Arief mengungkapkan, kendala terbesar batalnya penerbangan komersial perdana ke Ngloram karena syarat PCR bagi calon penumpang yang harganya sekitar Rp 300.000.

"Harapan dari masyarakat ya tidak harus PCR cukup rapid antigen, biar terjangkau. Kalau PCR, ini mengurangi minat dan pasar, tapi kalau kembali ke rapid antigen, saya kira minatnya akan baik sekali," bebernya.

Selain itu, kata dia, akibat pemberlakukan wajib PCR ini menjadikansejumlah Bandara di Jawa, seperti JB Soedirman dan Kertajati sepi penumpang. Kondisi tersebut menjadi atensi khusus agar Bandara Ngloram tidak senasib dengan bandara tersebut.

"Kita siapkan juga kira-kira dari Jakarta ke sini nanti yang terbang siapa, dari sini ke Jakarta yang terbang siapa. Ini secara market sudah kita kaji lebih lanjut, termasuk dengan Pemda sekitar, Bojonegoro, Rembang, Tuban, Ngawi dengan Grobogan. Semua akan kita sinergikan untuk mendukung ini," pungkasnya.(ams)

 


BERITA TERKAIT