Hingga Oktober 2021, Terdapat 100 Kasus HIV-AIDS di Bojonegoro
SUARABANYUURIP.COM | 03/12/2021 13:47
Hingga Oktober 2021, Terdapat 100 Kasus HIV-AIDS di Bojonegoro
Obat antiretroviral virus (ARV) untuk HIV tergeletak di atas meja salah satu rumah di desa Tuol Sambo, Kamboja, 6 September 2014. Komunitas ini bergantung kepada satu klinik yang menyediakan obat ARV gratis seminggu sekali. Omar Havana/Getty Images

SuaraBanyuurip.com - Bojonegoro - Sebanyak 100 kasus baru Orang Dengan HIV-AIDS (ODHA) ditemukan di Bojonegoro, Jawa Timur sejak Januari hingga Oktober 2021. Tiga penderita ODHA lainnya meninggal dunia karena penyakit menular ini.

Kepala Bidang (Kabid) P2P Dinkes Bojonegoro Wheny Dyah Prajanti mengatakan, semakin banyak jumlah penduduk risiko penularan HIV juga tinggi karena adanya mobiltas masyarakat.

"Selama Januari hingga Oktober 2021 ini ada sebanyak 100 kasus baru HIV-AIDS tiga di antaranya meninggal dunia," katanya, Kamis (2/12/2021).

Dia mengatakan, jumlah itu didominasi laki-laki yakni sebanyak 53 ODHA sisanya, yakni 47 ODHA perempuan. Di Bojonegoro sendiri ada lima besar kecamatan yang memiliki penderita HIV-AIDS tertinggi di antaranya Bojonegoro, Dander, Kapas Ngasem, dan Trucuk.

Namun, jika dihitung semenjak 2002 hingga Oktober 2021 ini jumlah penderita sebanyak 1.610 kasus HIV-AIDS. Sementara, lanjut dia, ada 256 penderita yang tercatat meninggal dunia.

Penderita HIV-AIDS banyak yang tidak diketahui sehingga belum bisa tercatat keseluruhan. Kini, fasilitas kesehatan (faskes) Bojonegoro seperti Pukesmas siap memberikan layanan kepada ODHA. 

"Ya kemungkinan takut saat menderita HIV-AIDS masyarakat akan mengucilkan dan memberikan stigma negatif," jelasnya.

Dia menjelaskan, rata-rata 90 persen penularan HIV-AIDS ini dari hubungan seksual bebas dan dari ibu ke anak serta narkoba. Karena itu, setia terhadap pasangan sangat penting agar jauh dari penyakit HIV-AIDS ini.

"Memakai kondom saat berhubungan bagi yang bersuami dan jangan berganti-ganti pasangan," kata Wheny.

Masyarakat, kata dia, jangan sampai menstigma negatif penderita HIV-AIDS bahkan mengucilkan atau menjauhi. Karena, yang dijauhi itu penyakitnya bukan orangnya. 

"Karena penderita penyakit ini harus kita bantu dan  diobati. Yakni dengan meminum obat ARV yang harus diminum rutin," tambahnya.(jk)


BERITA TERKAIT