Penumpang Kapal Laut Jurusan Sampit Turun 20 Persen karena Tiket Dianggap Mahal
BORNEONEWS.CO.ID | 20/09/2022 14:39
Penumpang Kapal Laut Jurusan Sampit Turun 20 Persen karena Tiket Dianggap Mahal
Para pemudik geladak kapal KM Lambelu tujuan Ambon, Ternate, dan Papua, di Pelabuhan Soekarno-Hatta Makassar, (13/8). Puncak arus mudik kapal laut diprediksikan pada H-3 Lebaran. TEMPO/Iqbal Lubis

BORNEONEWS, Sampit - Sejak berlakunya kebijakan pemerintah menaikan harga bahan bakar minyak (BBM) salah satunya berdampak pada sektor transportasi laut di Kabupaten Kotawaringin Timur. Harga tiket kapal melonjak dan mengakibatkan penurunan penumpang.

"Adanya kenaikan BBM berimbas pada pelayaran seperti kami dimana PT Dharma Laut Utama (DLU) terpaksa untuk menaikkan juga dari komposisi itu dari tarif dasar meningkat 20 persen," jelas Manager PT DLU Cabang Sampit, Hendrik Sugiharto, Senin, 19 September 2022.

Jika biasanya penumpang bisa mencapai 60 persen dari kuota kapal namun sejak diberlakukan harga tiket baru pada 12 September 2022 lalu, jumlah penumpang hanya mencapai 40 persen dari kuota kapal.

"Jika bulan-bulan sebelumnya sebanyak 350 sampai 400 penumpang, saat ini hanya 150 sampai 200 penumpang saja," ujarnya.

Untuk tarif saat ini disebutkannya mengalami kenaikan hingga 12,5 persen dari harga awal berkisar di antara Rp245 ribu hingga Rp250 ribu untuk satu tujuan sekarang naik menjadi Rp285 ribu sampai Rp290 ribu.

PT DLU Cabang Sampit mengoperasikan dua kapal di Pelabuhan Sampit yang aktif hingga sekarang. Yakni, Kapal Motor (KM) Kirana I untuk ruta Sampit - Semarang dan KM Kirana III untuk rute Sampit - Surabaya.

Kedua kapal berjenis roll on roll off (roro) tersebut masing-masing memiliki kapasitas standar sebanyak 700 penumpang serta mampu menangkut berbagai jenis kendaraan, baik itu kendaraan pribadi maupun muatan logistik.

 

**


BERITA TERKAIT