Ancaman Sampah Laut: Perubahan Perilaku dan Penyakit Aneh
DARILAUT.ID | 13/06/2021 16:50
Ancaman Sampah Laut: Perubahan Perilaku dan Penyakit Aneh
Anak-anak bermain di antara tumpukan sampah di Teluk Jakarta, kawasan Cilincing, Jakarta Utara, Sabtu, 23 Januari 2021. Penelitian LIPI menemukan, bahwa 16 persen dari limbah yang ada di muara sungai di Teluk Jakarta berupa limbah medis, seperti alat pelindung diri bekas pakai. TEMPO/Hilman Fathurrahman W

Darilaut – Peneliti Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga llmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Muhammad Reza Cordova, mengatakan, ancaman pencemaran sampah laut tidak akan langsung dirasakan.

Namun, ada perubahan perilaku yang tanpa disadari, kemudian gangguan hormon serta kelainan genetik. Bahkan penyakit kanker dan tidak menutup kemungkinan penyakit yang lebih aneh.

Perlu diketahui bersama bahwa 80% sampah laut berasal dari daratan. Hal ini akan berakibat pada pencemaran air, laut, tanah, udara oleh polusi sampah plastik.

Akibat yang lebih parah lagi adalah dari polusi ini akan berdampak bagi kesehatan, keanekaragaman hayati dan ekonomi.

Dalam webinar Jatuh Cinta (lagi) dengan Bumi Edisi 4, Senin 17 Mei 2021, dengan tema “Sampah Laut dan Kebangkitan Bangsa”, Reza mengatakan, ada hal yang lebih mengerikan lagi dari sampah plastik yang tidak terurai yaitu terbentuknya mikroplastik.

Mikroplastik terdiri dari tiga jenis yaitu mikroplastik yang berada di air, mikroplastik yang berada di sedimen, dan mikroplastik yang berada di ikan.

Menurut Reza, mikroplastik yang berada di dalam perut ikan sejumlah 0,25-1,5 partikel/gram ikan. Saat ikan dikonsumsi oleh manusia maka secara tidak langsung telah mengonsumsi mikroplastik yang berada di dalam perut ikan yang kemungkinan juga sudah tercemar dengan polutan lain yang menempel pada mikroplastik tersebut.

“Inilah yang dikhawatirkan akan berpengaruh pada kesehatan manusia. Jadi, mikroplastik ini merupakan bom waktu bagi kesehatan umat manusia,” kata Reza, seperti dikutip dari Oseanografi.lipi.go.id.

Bahkan pencemaran yang terus terjadi dikhawatirkan akan berakibat terganggunya kekayaan laut Indonesia.

Menurut Reza, sejauh ini sudah terjadi kenaikan produksi plastik sekitar 380 mio tons pada tahun 2020 dari 15 mio tons pada tahun 1964.

Berdasarkan data UNEP 2018 bahwa terdapat 79% terakumulasi di tempat pembuangan sampah atau berserakan di lingkungan dengan rincian hanya 9% sampah plastik yang dapat didaur ulang dan 12% dengan dibakar.

Lebih parah lagi lapisan plastik di lapisan sedimen dapat menjadi indikator antroposen yang berakibat pada pencemaran tanah yang berkelanjutan.

Reza mengatakan, pencemaran plastik juga menyebabkan kerugian ekonomi sebesar $13 miliar pada ekosistem laut per tahun.

“Sampah plastik laut di Indonesia menurut NPAP adalah 650 ribu ton, sementara menurut World Bank adalah 201-552 ribu ton dan menurut data dari LIPI adalah 270-590 ribu ton,” ujar Reza.

Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia yang terdiri dari 17.499 dengan panjang garis pantai 108.000 km. Terdapat 50.875 km2 yang menyumbang 18% luas total terumbu karang dunia dan 65% luas total di Coral Triangle.

Luas mangrove Indonesia 3,49 juta Ha sementara nilai keanekaragaman ekosistem laut lebih dari Rp 1300 triliun dan ini diharapkan menjadi sumber pangan masa depan.

darilaut.id