Rantai Dingin untuk Mengatasi Krisis Pangan dan Iklim
DARILAUT.ID | 17/11/2022 11:17
Rantai Dingin untuk Mengatasi Krisis Pangan dan Iklim
FAO: Plastik dalam Tanah Ancam Pangan, Lingkungan, dan Kesehatan

Darilaut – Rantai dingin makanan (food cold chain) memiliki implikasi serius bagi perubahan iklim dan lingkungan. Emisi dari kehilangan makanan dan limbah karena kurangnya pendinginan berjumlah sekitar 1 gigaton.

Jumlah ini setara karbon dioksida (CO2) pada tahun 2017 – sekitar 2 persen dari total emisi gas rumah kaca global.

Karena itu, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyerukan agar semua kalangan berinvestasi dalam rantai dingin makanan yang berkelanjutan. Hal ini untuk mengurangi kelaparan, menyediakan mata pencaharian bagi masyarakat, serta beradaptasi dengan perubahan iklim

Ketika kerawanan pangan dan pemanasan global meningkat, pemerintah, mitra pembangunan internasional, dan industri harus berinvestasi dalam rantai dingin makanan yang berkelanjutan, kata PBB Sabtu (12/11) dalam Konferensi Perubahan Iklim ke- 27 di Sharm El-Sheikh, Mesir.

Laporan Rantai Dingin Makanan Berkelanjutan yang disampaikan Program Lingkungan PBB (UNEP) dan Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) menemukan bahwa rantai dingin makanan sangat penting untuk memenuhi tantangan memberi makan tambahan dua miliar orang pada tahun 2050 dan memanfaatkan ketahanan masyarakat pedesaan, sambil menghindari peningkatan emisi gas rumah kaca.

Laporan ini dikembangkan Cool Coalition yang dipimpin UNEP yang bermitra dengan FAO, Sekretariat Ozon, Program Aksi Ozon UNEP, dan Koalisi Iklim dan Udara Bersih.

“Pada saat masyarakat internasional harus bertindak untuk mengatasi krisis iklim dan pangan, rantai dingin makanan yang berkelanjutan dapat membuat perbedaan besar,” kata Direktur Eksekutif UNEP, Inger Andersen, mengutip siaran pers Unep.org.

“Mereka memungkinkan kita mengurangi kehilangan pangan, meningkatkan ketahanan pangan, memperlambat emisi gas rumah kaca, menciptakan lapangan kerja, mengurangi kemiskinan, dan membangun ketahanan – semuanya dalam satu gerakan.”

Dampak iklim

Rantai dingin makanan bertanggung jawab atas sekitar empat persen dari total emisi gas rumah kaca global.

Makanan yang hilang juga merusak alam dengan mendorong konversi lahan yang tidak perlu untuk tujuan pertanian dan penggunaan sumber daya seperti air, bahan bakar fosil, dan energi.

Mengurangi kehilangan dan pemborosan makanan dapat memberikan dampak positif pada perubahan iklim. Akan tetapi hal ini jika infrastruktur terkait pendinginan baru dirancang untuk menggunakan gas dengan potensi pemanasan global yang rendah, hemat energi, dan menggunakan energi terbarukan.

Adopsi Amandemen Kigali pada Protokol Montreal dan Deklarasi Roma tentang “kontribusi Protokol Montreal terhadap pengembangan rantai dingin berkelanjutan untuk pengurangan limbah makanan” memberikan peluang unik untuk mempercepat penyebaran rantai dingin makanan berkelanjutan.

Proyek di seluruh dunia menemukan bahwa rantai dingin makanan yang berkelanjutan menunjukkan adanya perbedaan. Di India, proyek percontohan rantai dingin makanan mengurangi kehilangan buah kiwi sebesar 76 persen, sekaligus mengurangi emisi melalui perluasan penggunaan transportasi berpendingin.

Di Nigeria, sebuah proyek untuk memasang 54 ColdHubs operasional mencegah pembusukan 42.024 ton makanan dan meningkatkan pendapatan rumah tangga dari 5.240 petani skala kecil, pengecer dan pedagang grosir sebesar 50 persen.

Akan tetapi proyek-proyek ini, yang diilustrasikan di antara banyak studi kasus lainnya dalam laporan terbaru, masih merupakan pengecualian.

Menurut laporan tersebut, negara berkembang dapat menghemat 144 juta ton makanan setiap tahunnya jika mereka mencapai tingkat infrastruktur rantai dingin makanan yang sama dengan negara maju.

Kehilangan pangan pascapanen mengurangi pendapatan 470 juta petani skala kecil sebesar 15 persen, terutama di negara berkembang.

Berinvestasi dalam rantai dingin makanan berkelanjutan akan membantu mengangkat keluarga petani ini keluar dari kemiskinan.

Direktur Jenderal FAO, QU Dongyu, mengutip siaran pers Unep.org, mengatakan rantai dingin makanan berkelanjutan dapat membuat perbedaan penting dalam upaya kolektif kita untuk mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan.

“Semua pemangku kepentingan dapat membantu mengimplementasikan temuan laporan ini, untuk mengubah sistem pertanian pangan menjadi lebih efisien, lebih inklusif, lebih tangguh, dan lebih berkelanjutan – untuk produksi yang lebih baik, nutrisi yang lebih baik, lingkungan yang lebih baik, dan kehidupan yang lebih baik untuk semua, tanpa meninggalkan siapa pun,” ujarnya.

Untuk memperluas rantai dingin makanan yang berkelanjutan secara global, laporan ini mengeluarkan serangkaian rekomendasi untuk pemerintah dan pemangku kepentingan:

• Ambil pendekatan sistem holistik untuk penyediaan rantai makanan dingin, hal ini dengan menyadari bahwa penyediaan teknologi pendingin saja tidak cukup.

• Mengukur dan membandingkan penggunaan energi dan emisi gas rumah kaca dalam rantai makanan dingin yang ada dan mengidentifikasi peluang untuk pengurangan.

• Berkolaborasi dan melakukan penilaian kebutuhan rantai makanan dingin dan mengembangkan Rencana Aksi Pendinginan Nasional (National Cooling Action Plans) yang dibiayai dan diurutkan, didukung dengan tindakan dan pembiayaan khusus.

• Menerapkan standar efisiensi minimum yang ambisius, serta pemantauan dan penegakan hukum untuk mencegah impor ilegal peralatan rantai dingin dan pendingin makanan yang tidak efisien.

• Menjalankan sistem skala besar untuk menunjukkan dampak positif dari rantai dingin makanan berkelanjutan, dan bagaimana intervensi dapat menciptakan solusi skala yang berkelanjutan dan tangguh.

• Lembaga pusat multidisiplin untuk pengembangan rantai dingin makanan di tingkat nasional atau regional.

 

**


BERITA TERKAIT