DPRD Ungkap Penyebab Buruknya Kinerja RSUD Gambiran
BACAINI.ID | 21/11/2022 08:17
DPRD Ungkap Penyebab Buruknya Kinerja RSUD Gambiran

Bacaini.id, KEDIRI – Buruknya manajemen Rumah Sakit Umum Daerah Gambiran Kota Kediri diungkap DPRD setempat. Etos kerja karyawan yang rendah menjadi salah satu penyebab bobroknya kinerja rumah sakit milik Pemerintah Kota Kediri ini.

Wakil Ketua Komisi C DPRD Kota Kediri, Ashari mengatakan buruknya manajemen rumah sakit plat merah ini telah menjadi keluhan masyarakat luas. “Kami banyak menerima keluhan atas layanan rumah sakit Gambiran. Saya sendiri juga pernah mengalami,” kata Ashari kepada Bacaini.id, Minggu, 20 November 2022.

Hasil penelusuran Ashari dalam kunjungan kerjanya di RSUD Gambiran Kamis, 17 November 2022, menemukan sejumlah fakta yang menjadi penyebab buruknya manajemen rumah sakit ini.

“Etos kerja yang jelek menjadi penyakit kronis rumah sakit Gambiran. Paradigma karyawan yang menganggap kerja gak kerja tetap dibayar harus diubah,” katanya.

Upaya Pemerintah Kota Kediri untuk memperbaiki kinerja RSUD Gambiran dengan merekrut direktur dari kalangan non PNS, ternyata belum mampu memperbaiki keadaan. Sebagai badan layanan umum daerah (BLUD), rumah sakit Gambiran mendapatkan keleluasaan untuk menerapkan praktik-praktik bisnis yang sehat guna meningkatkan pelayanan kepada masyarakat.

Menurut Ashari, penunjukan dr. Aditya Bagus Djatmiko, M.Kes. sebagai Direktur Gambiran yang membawa semangat perubahan dan perbaikan ternyata belum diterima sepenuhnya oleh para karyawan. “Ini diakui sendiri oleh Pak Setda (Bagus Alit) yang menyebut terjadi benturan profesionalisme dan disiplin di Gambiran. Para karyawan menganggap bisa berlaku profesional tanpa harus dituntut disiplin waktu,” kata Ashari.

Hal lain yang diungkap Ashari adalah masih adanya tinggalan persoalan dari manajemen sebelumnya yang harus diurai. Seperti ketakutan atasan kepada bawahan yang memiliki akses komunikasi lebih tinggi.  

Berbagai persoalan tersebut telah membuat kinerja pelayanan kesehatan di RSUD Gambiran menjadi buruk. Akibatnya rumah sakit yang dibiayai dari uang pemerintah itu tak mampu bersaing dengan rumah sakit lain yang lebih profesional.

Kritikan yang sama disampaikan Komisi C kepada Rumah Sakit Kilisuci milik Pemkot Kediri. Rumah sakit yang pernah menjadi tempat perawatan pasien Covid 19 ini belum banyak dilirik masyarakat. Selain stigma sebagai rumah sakit Covid, sarana dan prasarana rumah sakit tersebut masih perlu pembenahan. Termasuk jajaran karyawan yang terhitung masih baru.

 

Bacaini.id.


BERITA TERKAIT