Pemerintah Myanmar Gunakan Edukasi Agama untuk Sebar Radikalisme
TEMPO.CO | 15/01/2019 17:30
Biksu Budha berjalan mengharapkan sedekah dari sekelompok polisi yang berjaga di sisi sebuah rumah yang dirusak di Hlekuu, utara Yangon, Myanmar (5/4). Ratusan polisi dikerahkan setelah massa mulai menggeledah bertingkat tiga rumah yang dimiliki oleh seor
Biksu Budha berjalan mengharapkan sedekah dari sekelompok polisi yang berjaga di sisi sebuah rumah yang dirusak di Hlekuu, utara Yangon, Myanmar (5/4). Ratusan polisi dikerahkan setelah massa mulai menggeledah bertingkat tiga rumah yang dimiliki oleh seorang Muslim di mana dua anak laki-laki Muslim di tengah sengketa itu mencari tempat berlindung. (AP/Gemunu Amarasinghe)

TEMPO.CO, Jakarta - Peneliti dari Universitas Muhammadiyah Jakarta dan University of New South Wales Australia memaparkan cara edukasi agama digunakan menyebarkan paham radikalisme di Myanmar.

 

Baca:

 

Hasil penelitian yang berjudul "An Odyssey of Faith: People, State, and Religious Education in Myanmar", yang disusun oleh Debbie Affianty dari

Universitas Muhammadiyah Jakarta, memaparkan hubungan pemerintah dengan lembaga edukasi religi dalam menyebarkan paham nasionalisme dan radikalisme. Paham ini menyudutkan minoritas dan akhirnya menjadi sumbu konflik.

 

Baca:

 

Menurut Dr. Melissa Crouch dari University of New South Wales, ada lima kelompok yang terlibat dalam bentrokan di Myanmar. Mereka adalah organisasi etnis bersenjata, kelompok milisi Budha (Arakan), kelompok Arsa, Northern Alliance, dan militer beserta faksi dukungan militer.

Debbie Affianty mengatakan persekusi terhadap Muslim, mengutip ketua asosiasi masjid di Yangon, dilakukan secara sistematis dan ini bukan hanya dilakukan terhadap Muslim Rohingya tetapi di seluruh Myanmar.

Salah satu contoh adalah buku sejarah Myanmar. Muslim Myanmar bagaimanapun memiliki andil dalam perjuangan kemerdekaan Myanmar. Namun peran Muslim dalam kemerdekaan Myanmar tidak tercantum dalam buku sejarah di negara itu.

 

Baca:

 

Namun, Debbie melanjutkan, persekusi oleh pemerintah Myanmar bukan hanya ditujukan kepada minoritas Muslim, namun juga minoritas agama lain. Pemerintah menggunakan organisasi Ma Ba Tha untuk menyebarkan paham ultranasionalisme Myanmar.

"Lulusan sekolah Islam (madrasah) susah mendapatkan kerja ketika lulus. Akibatnya mereka hanya menjadi pekerja kasar," tutur Debbie kepada Tempo, Selasa, 15 Januari 2019.

Debbie menambahkan, biasanya lulusan Muslim memilih bekerja di luar negeri seperti ke Malaysia atau Pakistan untuk pekerjaan lebih baik.ca

 

Baca:

 

Ashin Wirathu, biksu radikal, adalah salah satu figur yang dimanfaatkan otoritas Myanmar untuk menyebarkan semangat ultranasionalisme Myanmar. Radikalisme Budha yang didukung pemerintah rupanya juga digunakan untuk tujuan politik. Paham radikalisme ultranasionalisme Ma Ba Tha dan organisasi radikal lain mendapat sokongan dari pemerintah.


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT