Unjuk Rasa di India Menolak Narendra Modi Kembali Jadi PM
TEMPO.CO | 20/01/2019 15:00
Massa berunjuk rasa di Kolkota, India pada Sabtu, 19 Januari 2019, menentang pencalonan kembali Perdana Menteri Narendra Modi. Sumber: Rupak De Chowdhuri/Reuters/aljazeera.com
Massa berunjuk rasa di Kolkota, India pada Sabtu, 19 Januari 2019, menentang pencalonan kembali Perdana Menteri Narendra Modi. Sumber: Rupak De Chowdhuri/Reuters/aljazeera.com

TEMPO.CO, Jakarta - Wilayah timur kota Kolkata, India dipenuhi massa setelah partai - partai oposisi di India menyerukan kepada para pendukungnya agar turun ke jalan. Unjuk rasa pada Sabtu, 19 Januari 2019 itu, untuk memprotes pencalonan kembali Perdana Menteri India, Narendra Modi pada pemilu Mei 2019.

"Pemerintahan Modi sudah lewat tanggal kadar luarsa," kata Mamata Banerjee, Kepala Menteri Negara Bagian West Bengal.

Baca: 71 Persen Masyarakat India Dukung Modi

 

Dikutip dari aljazeera.com, Minggu, 20 Januari 2019, demonstrasi pada Sabtu kemarin telah menyatukan para pemimpin dri lebih 20 partai nasional dan regional. Mereka melakukan aksi jalan sebagai bentuk perlawanan terhadap Modi dan Partai Bharatiya Janata sebuah partai yang berkuasa di India.

Baca: Dongkrak Produksi Swift, Suzuki India Bangun Pabrik Baru

Banerjee memperkirakan ada 4 juta orang yang menghadiri unjuk rasa ini. Namun Kepala Polisi Kolkata, Rajeev Kumar mengklaim hanya sekitar 500 ribu orang mengikuti aksi ini.

Menanggapi aksi protes terhadapnya, Perdana Menteri Modi mengatakan kubu oposisi telah mencari kepentingan sendiri. Persatuan para partai oposisi India ini, disebut Modi bukan untuk melawannya, tetapi untuk melawan India.

Modi berasal dari Partai Bharatiya Janata yang memenangkan pemilu 2014 lalu. Dia sudah bertekad akan mencalonkan diri lagi menjadi orang nomor satu India dalam pemilu Mei 2019.

Di bawah pemerintahan Modi, India dihadapkan pada tingginya angka pengangguran dan kesenjangan yang sangat jomplang di sektor ekonomi. Dalam demonstrasi Sabtu, 19 Januari 2019, para pemimpin oposisi meneriakkan slogan 'singkirkan Partai Bharatiya Janata, selamatkan demokrasi'.


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT