Jumlah Penumpang Lewat Bandara Malang Anjlok Hampir 30 Persen
TEMPO.CO | 30/05/2019 15:51
Bandara Abdulrachman Saleh, Malang, Jawa Timur, diambil pada 25 Juni 2015. TEMPO/Aris Novia Hidayat
Bandara Abdulrachman Saleh, Malang, Jawa Timur, diambil pada 25 Juni 2015. TEMPO/Aris Novia Hidayat

TEMPO.CO, Malang — Harga tiket pesawat yang mahal berdampak terhadap anjloknya jumlah penumpang melalui bandara di Kabupaten Malang, Jawa Timur. 

BACA: Mudik 2019, Penumpang Pesawat Bandara Sepinggan Turun 40 Persen

Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Bandar Udara Abdulrachman Saleh Suharno mengatakan, penurunan jumlah penumpang pesawat rata-rata per bulan (month to month) dalam periode Januari-April tahun ini mencapai 29,8 persen atau berkurang 127.269 orang penumpang. 

“Kalau bahasa pasarannya, ya memang sepi. Enggak usah jauh-jauh kalau mau melihat volume penumpang berkurang, lihat saja lapangan parkir kendaraan di bandara. Walaupun begitu, standar pelayanan kami tetap sama,” kata Suharno yang dihubungi Tempo, Kamis siang, 30 Mei 2019. 

BACA: Masa Mudik, Lima Bandara AP I Beroperasi 24 Jam

Suharno merinci, penumpang yang datang dan pergi melalui Bandara Malang Pada Januari-April 2018 berjumlah 426.795 orang. Jumlah penumpang menyusut jadi 299.526 orang sepanjang Januari-April 2019 atau menyusut 127.269 orang atau menyusut hampir 30 persen. 

Penurunan jumlah penumpang sudah dirasakan sejak Januari 2019, dengan jumlah penumpang 84.733 orang atau berkurang 21.322 orang (20,1 persen) dari jumlah penumpang 106.055 orang pada Januari 2018. 

Penurunan jumlah penumpang pesawat paling dirasakan pada Maret dan April 2019. Pada Maret 2018, total penumpang berangkat dan tiba sebanyak 111.986 orang. Tapi pada Maret 2019 jumlah penumpangnya hanya 74.978 orang atau melorot 33 persen. Sedangkan pada April 2019 tercatat ada 71.372 orang penumpang. Setahun lalu jumlah penumpang 113.136 orang. 

Menurut Suharno, prediksi jumlah pemudik dari tahun ke tahun sebenarnya tidak banyak berubah. Hanya pilihan moda transportasinya saja yang berbeda dan berubah. Di saat harga tiket pesawat murah di tahun-tahun sebelumnya, maka ramai-ramailah pemudik naik pesawat. Di saat harga tiket mahal seperti sekarang, para pemudik kembali ke kebiasaan lama, yakni naik bus dan kapal laut, serta menempuh perjalanan darat. 

Harga tiket kapal laut jelas lebih murah dari harga tiket pesawat. Sangat mungkin ada pemudik dari dan ke wilayah Malang Raya (Kabupaten Malang, Kota Malang, dan Kota Batu) naik kapal laut lewat Pelabuhan Tanjung Perak di Surabaya, terus melanjutkan perjalanan lewat jalan tol. 

Kehadiran jalan tol Transjawa memang sangat mendukung kebiasaan lama pemudik itu. Durasi 1 jam sampai 1,5 jam perjalanan Surabaya-Malang atau Malang-Surabaya bisa saja dipilih pemudik yang ingin naik kapal laut dengan alasan mencari tiket murah. 

Selain naik kapal laut, naik bus bisa jadi pilihan paling rasional bagi pemudik. Pemudik dari Jakarta ke Malang atau sebaliknya bisa memanfaatkan Tol Transjawa. Ongkos bus Malang-Jakarta atau Jakarta-Malang kurang dari Rp 400 ribu. Jika pun nantinya penumpang dikenai tambahan ongkos karena bus lewat Tol Transjawa, ongkosnya diperkirakan masih kurang dari Rp 500 ribu per orang dengan durasi perjalanan jauh lebih cepat dibanding tanpa lewat tol.

Biaya mudik juga masih lebih murah pakai kendaraan pribadi lewat jalan tol dibanding naik pesawat. Dikatakan lebih murah asal berangkatnya rombongan. 

Dengan alasan mencari tiket murah pula, mungkin pula pemudik dari Kediri dan Malang Raya tidak lagi memanfaatkan Bandar Udara Abdulrachman Saleh alias Bandara Malang, melainkan lewat Bandar Udara Internasional Juanda. Tapi kemungkinan ini kecil dilakukan pemudik karena harga mahal tiket pesawat merata secara nasional. 


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT