Jejak Peserta Ijtima Gowa yang Meninggal Karena Corona Ditelusuri
TEMPO.CO | 09/04/2020 05:57
Anggota kepolisian Polda Sulsel menyemprotkan cairan di lokasi kegiatan Ijtima Ulama Asia di Desa Pakkatto, Kecamatan Bontomarannu, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, Kamis 19 Maret 2020. Penyemprotan disinfektan di lokasi tersebut sebagai upaya untuk menc
Anggota kepolisian Polda Sulsel menyemprotkan cairan di lokasi kegiatan Ijtima Ulama Asia di Desa Pakkatto, Kecamatan Bontomarannu, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, Kamis 19 Maret 2020. Penyemprotan disinfektan di lokasi tersebut sebagai upaya untuk mencegah penyebaran virus Corona (COVID-19) yang telah mewabah di sejumlah wilayah Indonesia. ANTARA FOTO/Abriawan Abhe

TEMPO.CO, Sleman - Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman tengah menelusuri riwayat kontak seorang pasien positif Corona asal Kecamatan Gamping Sleman yang meninggal dunia di RSUP Sardjito pada Senin 6 April 2020.

Pasien berinisial R berusia 60 tahun itu menurut informasi merupakan seorang ustad yang diduga memiliki riwayat perjalanan ke Kabupaten Gowa mengikuti Ijtima Ulama se-Asia beberapa waktu lalu.

Pasien itu mempunyai penyakit lain yaitu diabetes dan hipertensi. Dinas Kesehatan DIY dan RSUP Sardjito sebelumnya menyebut riwayat pasien itu baru pulang dari Jakarta pada 23 Maret 2020 dan masuk RSUP Sardjito sudah dalam kondisi kritis pada 30 Maret 2020.

"Hasil penelusuran kami kepada pasien itu memang baru sampai riwayat perjalanannya dari Jakarta. Tentang (keikutsertaannya di) acara (ijtima) di Gowa, baru kami peroleh secara informal, sedang kami lacak lebih lanjut," ujar Kepala Dinas Kesehatan Sleman, Joko Hastaryo kepada Tempo, Rabu 8 April 2020.

Joko mengatakan dari informasi yang diperoleh, pasien itu sering menjadi imam di masjid tempat tinggalnya di Gamping. Dinas Kesehatan belum mengetahui apakah pasien itu memiliki pondok pesantren sendiri atau tidak.

Yang jelas, kata Joko, pemerintah Kabupaten Sleman sampai kini belum menyimpulkan hasil tracing atas pasien itu karena jumlahnya lebih dari 30 kontak.

Joko mengakui untuk pasien ini pihaknya mengambil sikap hati-hati dalam melakukan penelusuran riwayat. Atas tracing pada 30 kontak pasien itu, sementara, menurut Joko, belum ditemukan yang memiliki gejala ISPA. "Maka protokol untuk mereka (kontak pasien itu) isolasi mandiri di rumah masing-masing," ujarnya.

 


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT