ABK di Kapal Cina Long Xin Awalnya Tak Tahu Ada Pandemi Covid-19
TEMPO.CO | 11/05/2020 08:13
Warga Negara Indonesia (WNI) yang menjadi anak buah kapal (ABK) Long Xing 629 tiba di Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Jumat 8 Mei 2020. Sebanyak 14 WNI ABK yang diduga mengalami eksploitasi di kapal berbendera China tersebut tiba di
Warga Negara Indonesia (WNI) yang menjadi anak buah kapal (ABK) Long Xing 629 tiba di Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Jumat 8 Mei 2020. Sebanyak 14 WNI ABK yang diduga mengalami eksploitasi di kapal berbendera China tersebut tiba di Indonesia dan akan menjalani karantina kesehatan di asrama milik Kementerian Sosial. ANTARA FOTO/Hasnugara

TEMPO.CO, Jakarta - Anak Buah Kapal atau ABK Long Xin tak mengetahui bahwa dunia tengah dilanda Covid-19. Sejak mulai melaut pada Februari 2019, tak satu kali pun kapal itu pernah berlabuh. “Selama 14 bulan kami enggak pernah mendarat sama sekali,” kata RF, salah satu ABK saat dihubungi, Sabtu, 9 Mei 2020.

Pria berumur 27 tahun ini mengatakan selama di kapal tak memiliki akses komunikasi ke luar. Ponsel yang dibawanya tidak mendapatkan sinyal. Komunikasi dengan darat, kata dia, hanya dilakukan oleh kapten kapal.

RF mengaku kapten kapal pernah menyinggung soal adanya virus pada November 2019. “Tapi kapten enggak kasih tahu itu virus Corona.”

Pembicaraan soal virus yang mewabah bermula dari berjangkitnya penyakit misterius yang menyerang para ABK. Penyakit itu, kata dia, punya gejala pembengkakan di sekujur tubuh, dan menyebabkan sesak nafas. Menjangkitnya penyakit ini membuat kapal berhenti beroperasi mencari ikan.

Tiga ABK asal Indonesia meninggal karena penyakit ini. Jasad mereka dilarung ke laut. Video pelarungan itu kemudian viral, hingga muncul desakan untuk mengusut dugaan tindakan tidak manusiawi yang dialami oleh para ABK Indonesia itu.

Kematian tiga kawannya oleh penyakit misterius, membuat para ABK khawatir tertular. Mereka mendesak kapten kapal memulangkan mereka. Pada proses pemulangan, para ABK dibawa ke Pelabuhan Busan, Korea Selatan menggunakan Kapal Tian Yu 8.

Tiba di Busan pada April 2020, RF kaget karena banyak papan peringatan tentang wabah virus Covid-19 atau Corona. Ini pertama kalinya ia dan ABK yang lainnya mendengar istilah itu.

Di Korea Selatan, para ABK dikarantina selama 14 hari sesuai protokol kesehatan pencegahan penyebaran Covid-19. Dalam proses karantina itu, satu ABK lagi tewas dengan gejala sesak dan batuk berdarah. “Pas kami sampai di Busan, baru kenal namanya virus Corona,” kata dia.

 


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT