Pesan Perawat di Hari Lebaran: Hargai Kami Jangan Sampai Masuk RS
TEMPO.CO | 25/05/2020 07:02
Dokter dan tenaga medis memastikan kenyamanan dan keamanan Alat Pelindung Diri (APD) sebelum memasuki ruang isolasi di Rumah Sakit Darurat (RSD) Covid-19 Wisma Atlet Jakarta, Jumat 15 Mei 2020. Dokter dan tenaga medis harus dipastikan keamanan APD, mulai
Dokter dan tenaga medis memastikan kenyamanan dan keamanan Alat Pelindung Diri (APD) sebelum memasuki ruang isolasi di Rumah Sakit Darurat (RSD) Covid-19 Wisma Atlet Jakarta, Jumat 15 Mei 2020. Dokter dan tenaga medis harus dipastikan keamanan APD, mulai dari memakai hingga melepas melalui prosedur yang ketat untuk menghindari tertular virus Covid-19, selain itu petugas medis juga memerlukan usaha yang besar karena harus menahan panas hingga buang air kecil selama kurang lebih 8 jam lamanya. TEMPO/Nurdiansah

TEMPO.CO, Jakarta - Salah satu perawat Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Sulianti Saroso, Anitha Supriono, merasakan Idul Fitri tahun ini amat berbeda lantaran terjadi di tengah pandemi Covid-19.

Anitha, yang bertugas merawat pasien positif Covid-19 di ruang Intensive Care Unit (ICU) RSPI Sulianti Saroso tetap bertugas di momen Lebaran ini. "Kebetulan saya dapat tugas jaga di hari Lebaran, saya masuk sore ini," kata Anitha kepada Tempo, Ahad, 24 Mei 2020.

Anitha bercerita, di tahun-tahun biasa, ia pasti mengambil cuti lebaran. Kalaupun tak mudik ke kampung halamannya di Soroako, Sulawesi Selatan, ia biasa bertandang ke rumah saudara untuk silaturahmi.

Menurut Anitha, selama pandemi Covid-19 rumah sakit tak memberikan jatah cuti kepada para tenaga medis. Mereka pun tetap bertugas seperti hari biasa untuk merawat pasien.

Anitha pun mengakui ada sedih yang dia rasakan di momen Idul Fitri hari ini. Ia kangen menyantap ketupat dan opor masakan ibundanya yang biasa menjadi hidangan khas Lebaran. Namun hari ini, selain salat Idul Fitri dari rumah, tak ada lagi yang dia lakukan selain mempersiapkan diri untuk pergi bertugas.

"Sedih begitu rasanya lebaran sendiri, biasanya berkumpul," ujar perempuan lajang yang juga tinggal seorang diri ini.

Meski begitu, Anitha berujar para tenaga medis yang kebagian dinas jaga biasanya membuat perayaan kecil. Ada saja yang membawakan makanan untuk disantap bersama. Pihak rumah sakit pun membagikan makanan.

"Kalau sampai rumah sakit biasanya ada beberapa teman yang bawa makanan, opor ayam, ketupat. Jadi (rindu) terobati sedikit," ucap Anitha.

Pagebluk Covid-19 ini, kata Anitha, benar-benar menyebabkan perubahan besar. Menjadi perawat RSPI sejak 2010, ia merasakan betul perbedaan dengan situasi kala virus flu burung (H5N1) dan MERS CoV melanda Indonesia pada 2012 lalu dengan saat ini.

Menurut Anitha, SARS-CoV-2 yang menjadi penyebab Covid-19 merupakan yang terparah di antara virus-virus sebelumnya. Ia menyebut virus ini 'jahat' ketika sudah menyerang tubuh seseorang.

Bertugas di ruang ICU, Anitha tak mengingat lagi berapa banyak pasien yang sudah ia rawat. Dia bahkan sudah ikut merawat pasien Covid-19 pertama di Indonesia yang diumumkan pada 2 Maret 2020. 

Bukan cuma merawat, Anitha juga menyaksikan banyak pasien positif Covid-19 yang meninggal. Penyakit ini bahkan merenggut nyawa seorang koleganya sesama perawat RSPI Sulianti Saroso.

"Kalau dulu dibilang MERS CoV parah, ternyata ini lebih parah, jahat sekali," ujar Anitha.

Covid-19 telah merenggut nyawa 1.351 orang di Indonesia hingga Sabtu, 23 Mei 2020. Jumlah orang positif terinfeksi sebanyak 21.745 dan sembuh 5.249 orang.

Selama ini telah banyak seruan yang dilontarkan perawat, termasuk perawat, agar pemerintah dan masyarakat disiplin berusaha memutus mata rantai penyebaran virus. Sebab jika penularan terus terjadi, dikhawatirkan akan banyak pasien yang memerlukan perawatan. Padahal jumlah rumah sakit dan tenaga medis terbatas.

"Kalau perlu ingin ngomong ke masyarakat, memang kami tugasnya merawat, tapi hargailah kami, jangan sampai masuk ke rumah sakit," kata Anitha.


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT