Era New Normal, Bagaimana Cara Mengatur Keuangan Pribadi?
TEMPO.CO | 01/06/2020 21:32
Mengatur perencanaan keuangan.TEMPO/ Gunawan Wicaksono
Mengatur perencanaan keuangan.TEMPO/ Gunawan Wicaksono

TEMPO.CO, Jakarta - Pemerintah telah berancang-ancang untuk melaksanakan tatanan hidup baru di era pandemi Covid-19 atau yang kerap disebut masa New Normal. Menyikapi era baru ini, bagaimanakah cara kita mengatur keuangan agar dapat berjaga-jaga dari kemungkinan terburuk?

Perencana keuangan dari Finansia Consulting Eko Endarto melihat New Normal ini bisa jadi masih dalam tahap percobaan. Sehingga, masyarakat harus lebih ketat dalam mengelola keuangan, berjaga-jaga apabila kondisi new normal tidak seperti yang diharapkan.

"Jadi yang utama sebenarnya tetap harus jaga-jaga harus punya uang cash atau dana cadangannya cukup. Karena kondisi bisa berubah langsung dari yang diharapkan normal menjadi tidak normal lagi. Itu kan sangat mungkin terjadi," ujar Eko kepada Tempo, Senin, 1 Juni 2020.

Dana cadangan, kata Eko, perlu dipersiapkan sebanyak empat kali pengeluaran bulanan. Ia mengatakan dana ini tidak boleh dipakai kecuali pada keadaan yang mendesak.

Dalam kondisi new normal, Eko memperkirakan alokasi keuangan orang bisa berubah ketimbang sebelumnya. Hal tersebut disebabkan oleh gaya hidup dan prioritas yang bisa berganti di masa pandemi ini. Di samping itu, ia melihat akan banyak juga pola hidup yang berubah dan berimbas ke keuangan.

Misalnya saja, gaya hidup membawa bekal yang bisa menjamur di masa wabah ini. Sehingga, biaya makan siang pun bisa dikurangi. Belum lagi jam kerja maupun hari kerja yang bisa jadi akan lebih singkat dari sebelumnya, sehingga membuat biaya transportasi berkurang. "Jadi prioritas seseorang pasti akan berubah dan alokasi akan ada perubahan."

Untuk merancang keuangan selama sebulan, Eko mengatakan ada empat hal yang wajib diutamakan, antara lain pengeluaran untuk rutinitas sosial dan agama, pembayaran cicilan utang, investasi, dan proteksi. Pengeluaran pada bidang sosial agama misalnya pembayaran BPJS Kesehatan hingga zakat yang alokasinya 2,5-10 persen dari pemasukan bulanan.

Setelah itu, alokasi dana untuk membayar utang yang besarnya maksimal 30 persen dari pemasukan bulanan. Ia menyarankan agar alokasi cicilan utang diperbesar agar bisa segera lunas. Kendati, di era pandemi ini kerap ada pelonggaran pada cicilan utang. "Tapi hati-hati pengurangan ini bisa berakibat baik maupun buruk. Komposisi keuangan bagus tapi bisa lebih panjang masa berutangnya. Kalau punya dana lebih baik diselesaikan."

Terakhir, alokasi untuk investasi dan proteksi yang masing-masing pada kondisi normal adalah sebesar 10 persen. Pada masa pandemi, Eko menyarankan alokasi untuk proteksi ditambahkan karena situasi yang tidak tertebak. Namun, kebutuhan proteksi bisa dikurangi apabila sudah ditanggung oleh tempat bekerja. Alokasi lebih bisa dialihkan ke investasi.


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT