Bikin Kalung Antivirus, Kementan: Secara Ilmiah Bisa Dibuktikan
TEMPO.CO | 05/07/2020 09:26
Kalung kesehatan andari tanaman eucalyptus. (Dok. Kementan)
Kalung kesehatan andari tanaman eucalyptus. (Dok. Kementan)

TEMPO.CO, Jakarta - Kementerian Pertanian (Kementan) telah meluncurkan inovasi antivirus berbasis Eucalyptus, yang salah satunya berbentuk kalung. Kementan mengklaim, antivirus ini ampuh membunuh virus corona.

Kepala Badan Litbang Pertanian (Balitbang) Kementan, Fadjry Djufry mengatakan, produksi kalung antivirus dan sejeninsya ini adalah bagian dari ikhtiar pemerintah dan masyarakat Indonesia untuk menyikapi pandemi Covid-19.

"Ini bukan obat oral, ini bukan vaksin, tapi kita sudah lakukan uji efektivitas, secara laboratorium secara ilmiah kita bisa buktikan. Paling tidak, ini bagian dari upaya kita. Minyak Eucalyptus ini juga sudah turun-menurun digunakan orang dan sampai sekarang tidak ada masalah, sudah puluhan tahun lalu orang mengenal Eucalyptus atau minyak kayu putih, meskipun berbeda sebenarnya, tetapi masih satu famili hanya beda genus di taksonomi," kata dia melalui keterangan tertulis, Sabtu 4 Juli 2020.

Antivirus buatan Balitbangtan Kementan ini bahkan telah berhasil mendapatkan hak patennya. Kementan pun juga menggandeng PT Eagle Indo Pharma untuk pengembangan dan produksinya. Penandatanganan perjanjian Lisensi Formula Antivirus Berbasis Minyak Eucalyptus antara perwakilan Balitbangtan dan PT Eagle Indo Pharma (Cap Lang) dilaksanakan di Bogor pada pertengahan Mei lalu.

Eucalyptus selama ini dikenal mampu bekerja melegakan saluran pernapasan, kemudian menghilangkan lendir, mengusir serangga, disinfektan luka, penghilang nyeri, mengurangi mual, dan mencegah penyakit mulut. Menurut Fadjry, minyak atsiri Eucalyptus citridora bisa menjadi antivirus bagi virus avian influenza atau flu burung subtipe H5N1, gamma corona virus, dan beta corona virus.

Kemudian, penemuan tersebut telah disimpulkan melalui uji molecular docking dan uji in vitro di Laboratorium Balitbangtan. Fadjry menjelaskan, laboratorium tempat penelitian Eucalyptus telah mengantongi sertifikat level keselamatan biologi atau biosavety level 3 (BSL 3) milik Balai Besar Penelitian Veteriner. Virologi Kementan pun sudah melakukan penelitan sejak 10 tahun lalu dan tak asing dalam menguji golongan virus corona seperti influenza, beta corona dan gamma corona.

"Setelah kita uji, ternyata Eucalyptus sp. yang kita uji bisa membunuh 80-100 persen virus, mulai dari avian influenza hingga virus corona. Setelah hasilnya kita lihat bagus, kita lanjutkan ke penggunaan nanoteknologi agar kualitas hasil produknya lebih bagus” ungkap Fadjry.

Dalam berbagai studi dikatakan, ia mengklaim, obat ini hanya cukup 5-15 menit diinhalasi akan efektif bekerja sampai ke alveolus. Artinya dengan konsentrasi 1 persen saja, produk yang akan diproduksi massal oleh Kementan ini sudah cukup membunuh virus 80-100 persen.

Bahan aktif utamanya, terdapat pada cineol-1,8 yang memiliki manfaat sebagai antimikroba dan antivirus melalui mekanisme M pro. M pro adalah main protease (3CLPro) dari virus corona yang menjadi target potensial dalam penghambatan replikasi virus corona.

Penelitian menunjukkan Eucalyptol ini berpotensi mengikat protein Mpro sehingga menghambat replikasi virus. Manfaat tersebut dapat terjadi karena 1,8 cineol dari Eucalyptus yang disebut eucalyptol dapat berinteraksi dengan transient receptor potential ion chanel yang terletak di saluran pernapasan.

EKO WAHYUDI

 


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT