Lima Isu Ini Akan Tentukan Pergerakan IHSG Pekan Depan
TEMPO.CO | 12/07/2020 21:44
Ilustrasi saham atau IHSG. TEMPO/Tony Hartawan
Ilustrasi saham atau IHSG. TEMPO/Tony Hartawan

TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Anugerah Mega Investama Hans Kwee mengatakan setidaknya ada lima isu besar yang akan memengaruhi sentimen pasar dalam sepekan ke depan. "Sentimen-sentimen itu mungkin mempengaruhi pergerakan IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) pada pekan depan," ujar dia kepada Tempo, Ahad, 12 Juli 2020.

Pada Jumat, 10 Juli 2020, IHSG ditutup di zona merah kendati investor asing mencatat aksi beli bersih senilai hampir Rp 100 miliar. Pada perdagangan akhir pekan ini, IHSG ditutup ditutup di level 5.031,26 dengan pelemahan 0,43 persen atau 21,54 poin dari perdagangan sehari sebelumnya. 

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), investor asing mencatat aksi beli bersih (net buy) senilai Rp 95,58 miliar, setelah membukukan aksi jual bersih (net sell) pada perdagangan sebelumnya. Aksi beli oleh investor asing pada penghujung pekan ini tercatat sekitar 1,34 miliar lembar saham dengan nilai Rp 1,71 triliun. Adapun, aksi jual oleh investor asing tercatat 1,6 miliar lembar saham senilai Rp 1,62 triliun.

Adapun total nilai transaksi yang terjadi di lantai bursa hari ini mencapai sekitar Rp 6,65 triliun. Sedangkan volume perdagangan tercatat sekitar 8,98 miliar lembar saham.

Hans mengatakan setidaknya ada lima isu yang bakal memberi sentimen dan memengaruhi pergerakan IHSG pekan depan antara lain sebagai berikut.

1. Perkembangan Covid-19

Peningkatan kasus covid-19 di pekan ini dan perkiraan akan berlanjut di pekan depan menjadi sentimen negatif pasar saham. Sentimen negatif tersebut juga bakal ditambah dengan dengan adanya peluang penyebaran virus Corona lewat udara seperti yang disampaikan WHO. 

Kemarin, Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Achmad Yurianto menyatakan adanya penambahan kasus baru Covid-19 sebanyak 1.671 kasus. Dengan demikian, hingga Sabtu, 11 Juli 2020 pukul 12.00 WIB, ada 74.018 kasus Covid-19 di Tanah Air, sejak pertama kali wabah tersebut diumumkan pemerintah.

 

2. Perkembangan obat dan vaksin Covid-19 

Kendati perkembangan virus tersebut menjadi sentimen negatif bagi pasar, Hans mengatakan perkembangan obat remdesivir yang diteliti oleh Gilead Sciences menjadi sentimen positif pasar. Di samping itu, perkembangan vaksin Covid 19, salah satunya dari Moderna yang akan memasuki fase 3, juga menjadi sentimen positif bagi pasar. "Tetapi vaksin harus melewati 4 fase sebelum diproduksi massal," tutur Hans. 

3. Dampak Covid-19 di dunia

Hans mengatakan lonjakan kasus virus Covid-19 dan perintah Mahkamah Agung untuk membuka catatan keuangan Presiden AS Donald Trump, membuat peluang Trump terpilih kembali menjadi lebih sulit karena berpotensi mengungkap sesuatu yang buruk. Hal tersebut menjadi sentimen negatif bagi pasar saham.  

Di sisi lain, pasar punya ekspektasi yang tinggi bahwa dana pemulihan virus Covid 19-sebesar 750 miliar euro atau sekitar US$ 851,70 miliar akan disetujui oleh negara-negara anggota Zona Eropa di bulan Juli. 

4. Laba korporasi di kuartal II 2020 

Sentimen lainnya, kata Hans, adalah data perkembangan perseroan di triwulan II 2020. "Memasuki bulan Juli pelaku pasar menanti data laba korporasi untuk Kuartal kedua," tutur dia. Apabila laporan laba tersebut lebih baik dari harapan pelaku pasar, maka akan mendorong pergerakan yang positif. Namun, apabila terjadi sebaliknya, maka cenderung mendorong pasar saham terkoreksi.

5. Perbaikan data ekonomi di Cina

Hans berujar perbaikan data ekonomi Cina akan membawa sentimen baik pada pasar. Kata dia, spekulasi bahwa Negeri Tirai Bambu sedang menggunakan kekuatan internal domestik untuk mendukung ekonomi yang terdampak pandemi virus corona serta sengketa perdagangan dengan AS menjadi sentimen positif di pasar.

 

CAESAR AKBAR | BISNIS


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT