Anies: Positivity Rate DKI Lebih Rendah dari Rata-rata Nasional
TEMPO.CO | 25/07/2020 14:40
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan (ketiga kanan) bersama Wali Kota Bogor Bima Arya (kedua kiri) dan Direktur Keuangan PT KAI (Persero) Rivan A Purwantono (kiri) meninjau penumpang KRL Commuter Line di Stasiun Bogor, Jawa Barat, Senin, 15 Juni 2020. Gube
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan (ketiga kanan) bersama Wali Kota Bogor Bima Arya (kedua kiri) dan Direktur Keuangan PT KAI (Persero) Rivan A Purwantono (kiri) meninjau penumpang KRL Commuter Line di Stasiun Bogor, Jawa Barat, Senin, 15 Juni 2020. Gubernur DKI Jakarta melakukan kunjungan kerja untuk meninjau kepadatan penumpang di Stasiun Bogor dan penyediaan layanan bus gratis oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan Pemerintah Kota Bogor untuk penumpang KRL Commuter Line pada masa transisi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). ANTARA

TEMPO.CO, Jakarta - Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengatakan angka positivity rate atau persentase dari pasien dengan hasil tes positif Covid-19 lebih rendah dibandingkan nilai rata-rata secara nasional.

"Nilai positivity rate kita adalah 5,2 persen, ini di bawah angka rata-rata nasional, sebesar 12,3 persen," kata Anies dalam video yang diunggah oleh akun Youtube Pemerintah DKI Jakarta, Jumat petang, 24 Juli 2020.

Menurut Anies, angka positivity rate Jakarta tersebut hanya sedikit lebih tinggi dari rekomendasi ideal yang ditetapkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO, yaitu 5 persen. Namun, angka 5,2 persen itu juga disebut jauh di bawah standar maksimal WHO, yaitu 10 persen.

"Apakah berarti kemudian Jakarta aman? tidak, belum. Mengapa? justru kita sekarang harus waspada karena dalam minggu terakhir ini nilai positivity rate menunjukkan tren meningkat," kata Anies.

Menurut Anies, Jakarta memiliki nilai rasion positif yang lebih baik pada tiga pekan lalu, yakni 4,8 persen. Karena itu menurut dia, terjadi peningkatan dalam beberapa minggu terakhir hingga menyentuh angka 5,2 Persen.

Anies mengatakan pihaknya bakal terus melakukan tes untuk menemukan kasus-kasus positif Covid-19 baru di DKI Jakarta. Selama ini menurut dia, 30 persen temuan kasus positif Corona adalah hasil dari metode active case finding yang dilakukan Puskesmas. Sedangkan metode contact tracing dari kasus-kasus positif Corona sebelumnya menyumbang 20 persen penemuan.

"Lalu 50 persen sisanya adalah dari passive case-finding. Ini artinya orang yang datang ke rumah sakit, orang yang datang ke klinik, orang yang punya gejala, di situ diperiksa," kata Anies Baswedan.


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT