Ketua MPR Soroti Maraknya Hoaks Selama Pandemi Covid-19
TEMPO.CO | 25/07/2020 21:06
Ketua MPR RI Bambang Soesatyo secara simbolis memberi bantuan pada karyawan Bandung Zoological Garden di Bandung, Jawa Barat, Jumat 15 Mei 2020. Bambang Soesatyo memberikan donasi paket sembako untuk semua karyawan dan pemelihara satwa di Bandung Zoo sert
Ketua MPR RI Bambang Soesatyo secara simbolis memberi bantuan pada karyawan Bandung Zoological Garden di Bandung, Jawa Barat, Jumat 15 Mei 2020. Bambang Soesatyo memberikan donasi paket sembako untuk semua karyawan dan pemelihara satwa di Bandung Zoo serta 1.000 ekor ayam untuk satwa karnivora setelah mendengar beberapa kebun binatang terancam bangkrut selama pandemi Covid-19. TEMPO/Prima Mulia

TEMPO.CO, JakartaKetua MPR RI Bambang Soesatyo menyoroti maraknya informasi salah dan hoaks di saat pandemi Covid-19 yang telah memakan korban, salah satunya para  tenaga medis.

Pria yang biasa disapa Bamsoet itu mencontohkan korban hoaks dan misinformasi ini, yakni hasil jajak pendapat yang dilakukan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 terhadap 2.050 tenaga medis di seluruh Indonesia pada April 2020. Jajak pendapat itu menemukan 135 tenaga medis mengaku diusir dari tempat tinggalnya.

"Lalu ada 66 tenaga medis mendapat ancaman pengusiran, 140 tenaga medis dipermalukan karena bekerja di rumah sakit penanganan Covid-19, 160 tenaga medis dijauhi orang sekitar, dan 71 tenaga medis dijauhi keluarganya," kata Bamsoet saat Sosialisasi Empat Pilar MPR RI kepada pelajar pecinta alam SMA 68 Jakarta.

Dia menjelaskan respons masyarakat terhadap para tenaga medis tidak lepas dari banyaknya hoaks dan misinformasi yang berseliweran di media sosial bahwa tenaga medis merupakan penyebar Covid-19.

Menurut dia, masyarakat bukan menyaring, namun malah mempercayai begitu saja.

Dia mengatakan misinformasi terbaru yang saat ini sedang hangat di media sosial adalah terkait termometer infrared atau thermo gun yang diklaim berbahaya bagi manusia.

"Mudahnya masyarakat percaya dengan informasi serampangan tanpa dasar yang kuat, menandakan daya nalar kritis bangsa ini sedang di ujung tanduk," katanya.

Karena itu dia mendorong sekolah sebagai benteng ilmu pengetahuan senantiasa mengedepankan prinsip pendidikan literasi generik agar para siswa tidak hanya disibukan dengan hafalan, tetapi juga mampu memiliki daya nalar kritis.


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT