Sri Mulyani: Realisasi Pendapatan Negara Semester I 2020 Turun 9,8 Persen
TEMPO.CO | 06/08/2020 02:37
Menteri Keuangan Sri Mulyani memberikan pemaparan saat rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin, 29 Juni 2020. Rapat kerja tersebut beragenda mendengarkan penjelasan tentang PMK No. 70/PMK.05/2020 tentang penempatan
Menteri Keuangan Sri Mulyani memberikan pemaparan saat rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin, 29 Juni 2020. Rapat kerja tersebut beragenda mendengarkan penjelasan tentang PMK No. 70/PMK.05/2020 tentang penempatan uang negara pada bank umum dalam rangka percepatan pemulihan ekonomi nasional. TEMPO/M Taufan Rengganis

TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara atau APBN 2020 hingga akhir semester I tetap terjaga meskipun menghadapi tantangan yang cukup berat.

Realisasi Pendapatan Negara mencapai Rp 811,2 triliun
atau 47,7 persen dari target dalam Perpres Nomor 72 tahun 2020. "Dan mencatatkan pertumbuhan negatif 9,8 persen (yoy)," kata Sri Mulyani dalam siaran langsung Komite Stabilitas Sistem Keuangan, Rabu, 5 Agustus 2020.

Penurunan itu, kata dia, seiring kontraksi pada penerimaan perpajakan dan penerimaan negara bukan pajak atau PNPB sebagai dampak penurunan aktivitas ekonomi, penurunan harga komoditas, dan stimulus fiskal dalam bentuk fasilitas insentif perpajakan bagi dunia usaha.

Sedangkan penyerapan Belanja Negara mencapai Rp 1.068,9 triliun atau 39,0 persen dari anggaran dan mencatatkan pertumbuhan 3,3 persen (yoy). Hal itu didukung oleh pertumbuhan belanja
modal dan realisasi program-program perlindungan sosial dalam rangka penanganan pandemi Covid-19.

Defisit APBN hingga akhir semester I tahun 2020, kata dia, mencapai Rp 257,8 triliun atau 1,57 persen terhadap Produk Domestik Bruto.

Dalam kesempatan itu Sri Mulyani juga mengatakan stabilitas sistem keuangan triwulan II 2020 berada dalam kondisi normal, meskipun kewaspadaan tetap ditingkatkan.

Berbagai indikator menunjukkan stabilitas sistem keuangan tetap baik, meskipun penyebaran Corona Virus
Disease 2019 (Covid-19) yang masih tinggi menuntut perlunya peningkatan
kewaspadaan dan kehati-hatian karena dapat memengaruhi prospek perekonomian dan stabilitas sistem keuangan.

HENDARTYO HANGGI


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT