Klaster Covid-19 Sekolah Bermunculan, Satgas: Proses Pembukaan Belum Sempurna
TEMPO.CO | 13/08/2020 18:48
Juru Bicara Satgas COVID-19 yang baru, Wiku Adisasmito saat memberikan keterangan terkait update pandemi tersebut di Indonesia . Pemerintah resmi menunjuk Wiku Adisasmito menjadi juru bicara pemerintah menggantikan Achmad Yurianto. Ketua Tim Pakar GTPPC-1
Juru Bicara Satgas COVID-19 yang baru, Wiku Adisasmito saat memberikan keterangan terkait update pandemi tersebut di Indonesia . Pemerintah resmi menunjuk Wiku Adisasmito menjadi juru bicara pemerintah menggantikan Achmad Yurianto. Ketua Tim Pakar GTPPC-19 (KOMBEN BNPB/M Arfari Dwiatmodjo)

TEMPO.CO, Jakarta - Ketua tim Pakar dan juru bicara Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito, mengatakan sudah mendengar laporan adanya klaster Covid-19 yang berada di sekolah. Hal ini terjadi setelah pemerintah memutuskan membuka kembali pembelajaran tatap muka di zona kuning dan hijau.

"Dilaporkan adanya klaster-klaster baru seperti klaster dari pemukiman dari pasar, dari tempat ibadah, dari perkantoran, dan juga yang terakhir terkini kami mendengar laporan dari klaster sekolah," ujar Wiku dalam konferensi pers, Kamis, 13 Juli 2020.

Wiku tak menjelaskan seberapa besar klaster sekolah yang diketahui. Namun ia menduga penyebaran ini terjadi karena kurangnya persiapan protokol kesehatan. Seharusnya, ia mengatakan sebelum pembukaan sekolah, dilakukan sejumlah langkah.

Pertama adalah prakondisi, kedua adalah timing yang tepat, dan yang ketiga adalah prioritas menentukan mana yang harus dibuka dahulu dan mana yang belum. Selain itu, sekolah juga harus berkonsultasi dan koordinasi dengan Satgas Daerah dan Satgas Pusat. Langkah terakhir adalah monitoring evaluasi.

"Apabila terjadi klaster atau kasus baru di dalam sekolah, itu tentunya terkait dengan proses pembukaan yang mungkin belum sempurna dalam melakukan simulasinya," kata Wiku.

Ia mengatakan selain persetujuan dari orang tua murid, diperlukan persiapan dari sekolahnya itu sendiri. Mulai dari memastikan bahwa transportasi menuju ke sekolah aman, hingga ketersediaan fasilitas yang memadai sehingga potensi penularannya kecil.

"Begitu juga dari komunitas-komunitas nya juga harus dijaga dengan baik agar tidak ada penyakit yang dibawa dari rumah ke sekolah, tidak ada penyakit atau covid yang dibawa dalam menuju ke sekolah, begitu juga tidak ada penyakit yang tersebar di fasilitas sekolah," kata Wiku.

Laporan adanya klaster sekolah ini dilaporkan oleh Lapor Covid-19 di akun twitter mereka. Mulai dari Klaster Sekolah di Tulungagung yang berawal dari salah satu siswa yang tertular dari ayahnya, yang kemudian menulari 5 siswa dan 2 guru, hingga klaster Sekolah Kalimantan Barat, di mana ada 14 siswa dan 8 guru yang terkonfirmasi positif Covid-19.

Selain itu, ada juga Klaster Sekolah Pati, yang 26 santri Pondok Pesantren di Kajen, dinyatakan positif Covid-19. Ada pula klaster Sekolah di Sumedang, di mana dua pelajar tertular pedagang Pasar Situraja, saat perjalanan ke/dari sekolah.


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT