Menlu Iran Temui Pimpinan Hizbullah Pasca Ledakan di Beirut
TEMPO.CO | 15/08/2020 19:33
Seorang tentara berdiri di lokasi ledakan di pelabuhan Beirut, Lebanon, 6 Agustus 2020. [Thibault Camus / Pool via REUTERS]
Seorang tentara berdiri di lokasi ledakan di pelabuhan Beirut, Lebanon, 6 Agustus 2020. [Thibault Camus / Pool via REUTERS]

TEMPO.CO, Beirut -- Menteri Luar Negeri Iran, Mohammed Javad Zarif, bertemu dengan pemimpin Hizbullah, Hassan Nasrallah, di Lebanon pasca ledakan di Beirut, pada Jumat, 14 Agustus 2020.

Zarif mengatakan komunitas internasional sebaiknya membantu Lebanon dari pada memaksakan keinginan mereka kepada negara ini.

“Tidak manusiawi mengeksploitasi penderitaan dan rasa sakit rakyat untuk tujuan politik tertentu,” kata Zarif sambil mengatakan rakyat Lebanon harus memutuskan sendiri masa depannya seperti dilansir Reuters pada Jumat, 14 Agustus 2020.

Iran berpengaruh besar di Lebanon dengan mendukung, melatih dan mempersenjatai kelompok Hizbullah, yang didirikan oleh Garda Revolusi Iran pada 1982.

Pemerintah Amerika Serikat menyebut kelompok Hizbullah sebagai teroris.

Saat ini, peran Iran di Lebanon membuat sejumlah negara Arab yang menjadi sekutu AS menjauh dari memberikan dukungan keuangan.

Zarif bertemu dengan Presiden Lebanon, Michel Aoun,  yang juga bertemu diplomat utusan Prancis dan Amerika Serikat.

Kedua diplomat Barat mendesak Lebanon memerangi korupsi dan segera melakukan reformasi untuk bisa menerima bantuan finansial dari negara donor. Bantuan ini untuk mengurangi dampak krisis ekonomi terparah dalam sejarah Lebanon, yang sedang berlangsung.

Secara terpisah, pemimpin Hizbullah, Hassan Nasrallah, mengatakan kelompoknya akan bersikap jika ledakan di Beirut, Lebanon, sebagai bentuk sabotase.

“Jika Israel terlibat, maka tidak hanya Hizbullah yang merespon tapi juga seluruh rakyat dan negara Lebanon harus merespon,” kata Hassan Nasrallah seperti dilansir Reuters pada Jumat, 14 Agustus 2020.

Hassan Nasrallah menambahkan,"Israel akan membayar harga sebesar kejahatan yang dilakukannya.”

Pasca ledakan, yang terjadi pada 4 Agustus 2020, pemerintah Israel telah mengatakan negaranya tidak terlibat dalam insiden itu.

Israel juga menawarkan bantuan kepada Lebanon, yang juga sedang menghadapi multi-krisis seperti ekonomi dan keuangan.

Seorang ahli seismologi dari Israel mengatakan terjadi sejumlah ledakan kecil sebelum terjadi ledakan besar amonium nitrat di gudang pelabuhan itu. Dia menduga ledakan awal itu dipicu oleh petasan.

Seorang pejabat di Beirut mengatakan petugas pemadam kebakaran sempat dikirim ke lokasi gudang tempat penyimpangan amonium nitrat karena terjadi kebakaran. Seperti dilansir CNN, gudang itu lalu meledak beberapa saat kemudian. 

Ledakan di Beirut ini menewaskan 178 orang dengan sekitar 6 ribu warga mengalami luka ringan hingga berat. Sekitar 300 ribu warga kehilangan rumah, yang rusak akibat ledakan dahsyat setara 3.3 magnitudo itu.


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT