Konsorsium Riset Sebut Belum Ada Obat Sembuhkan Pasien Covid-19
TEMPO.CO | 19/08/2020 05:04
Ilustrasi rapid test Covid-19. REUTERS
Ilustrasi rapid test Covid-19. REUTERS

TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Konsorsium Riset dan Inovasi Covid-19 Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, Ali Ghufron Mukti, menyatakan jika sampai saat ini belum ada obat yang bisa diklaim khusus untuk menyembuhkan pasien Covid-19.

"Jadi sampai sekarang belum ada satu pun yang kita bisa klaim sebetulnya merupakan satu obat. Meski banyak klaim-klaim dari beberapa yang mengatakan penelitian, tapi termasuk dalam konsorsium belum satu pun yang bisa dikatakan obat spesifik khusus untuk Covid-19," kata Ali dalam diskusi BNPB pada Selasa, 18 Agustus 2020.

Anggota Komite Nasional Penilai Obat Badan Pengawas Obat dan Makanan atau BPOM Anwar Santoso, yang berada di acara yang sama pun setuju atas pernyataan tersebut.

“Saya setuju dengan pendapat dari Gufron, bahwa sampai sekarang belum ada satu statement yang menyatakan bahwa ini ada obat yang manjur dan aman untuk Covid-19. Semuanya dalam masih dalam fase uji klinik,” ujar Anwar.

Menurut Anwar, badan kesehatan dunia (WHO) pun belum menyatakan statement resmi terkait obat yang direkomendasikan untuk dipakai atau aman tapi masih dalam status uji klinik.

Di sisi lain, adanya berbagai obat herbal yang dianggap mumpuni dalam penyembuhan Covid-19, kata Anwar, obat tersebut tetap memerlukan uji klinis sehingga aman untuk dikonsumsi.

"Perlu uji klinis sehingga aman untuk dikonsumsi oleh masyarakat dan dapat memberikan nilai saintifik serta nilai sosial yang terjamin," ucap Anwar.

Sebelumnya, Tim gabungan dari Universitas Airlangga (Unair), Badan Intelijen Negara, TNI AD, dan BPOM mengaku telah menyelesaikan uji klinis fase 3 kombinasi obat Covid-19 untuk pasien yang dirawat tanpa ventilator. Obat ini diklaim memiliki efektivitas hingga 98 persen.

Rektor Unair, M. Nasih, mengatakan kombinasi ini menggunakan rujukan dari berbagai jenis obat tunggal yang dipakai di banyak negara termasuk oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). "Ternyata setelah kami kombinasikan daya penyembuhannya meningkat dengan sangat tajam dan baik. Untuk kombinasi tertentu itu sampai 98 persen efektivitasnya," dalam konferensi pers di Mabes TNI AD, Jakarta, Sabtu, 15 Agustus 2020.


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT