Deretan Harga Vaksin Covid-19 Ditawarkan, Mana yang Paling Mahal?
TEMPO.CO | 21/08/2020 07:27
Seorang anggota staf menunjukkan sampel vaksin Covid-19 nonaktif di Sinovac Biotech Ltd., yang berada di Beijing, China, 11 April 2020. (ANTARA FOTO/Xinhua/Zhang Yuwei/pras)
Seorang anggota staf menunjukkan sampel vaksin Covid-19 nonaktif di Sinovac Biotech Ltd., yang berada di Beijing, China, 11 April 2020. (ANTARA FOTO/Xinhua/Zhang Yuwei/pras)

TEMPO.CO, Jakarta - Perusahaan farmasi pelat merah Cina, Sinopharm, membanderol harga dua dosis vaksin Covid-19 sebesar US$ 145 atau sekitar Rp 2,14 juta (kurs Rp 14.700 per dolar AS). Pemimpin Grup Farmasi Nasional Cina atau Sinopharm mengatakan vaksin itu akan beredar pada Desember 2020.

Seperti dikutip dari Guangming Daily dan South China Morning Post, Liu tak menjelaskan menjelaskan lebih lanjut apakah harga vaksin tersebut merupakan harga ritel atau grosir. Namun harga vaksin tersebut lebih mahal dari vaksin yang ditawarkan beberapa perusahaan farmasi lainnya.

Sebelumnya, AstraZeneca dan Johnson & Johnson menyatakan tetap berpegang pada prinsip nirlaba dalam pengembangan vaksin mereka. Namun tiap perusahaan ini didukung oleh pemerintah di tempat mereka bernaung yakni Inggris dan Amerika Serikat.

Sementara itu, pengembang vaksin lainnya seperti Moderna, Pfizer dan Merch mengaku mengharapkan profit dari vaksin Covid-19.

Dilansir ABS CBN News dan South China Morning Post, vaksin termurah ditawarkan oleh Universitas Oxford dan AstraZeneca sebesar US$ 4 atau Rp 59.086 per dosis, ketika mereka menjual kepada pemerintah Inggris. 

Sementara itu, Johnson & Johnson menawarkan harga vaksin sebesar US$ 10 atau Rp 147.723 per dosis dalam perjanjian dengan pemerintah AS. Perusahaan berjanji menyediakan 100 juta dosis.

Sementara Direktur Eksekutif Pfizer Albert Bourla mengungkapkan perusahaan akan menjual vaksinnya sekitar US$ 20 atau Rp 295.446 per dosis. Ia menyatakan pihaknya akan menawarkan harga lebih murah bagi negara berkembang.

Dikutip dari The Wall Street Journal, Pfizer dan perusahaan farmasi Jerman BioNTech menandatangani perjanjian dengan pemerintah AS untuk memasok 100 juta vaksin dari kandidat vaksin mRNA.

Adapun Moderna yang telah mengantongi kesepakatan dengan sejumlah negara menawarkan vaksin dengan harga sedikit lebih tinggi, yakni sekitar US$ 32 hingga US$ 37 per dosis. Menurut perusahaan, harga mahal vaksin tersebut disebabkan karena produksi yang dilakukan dalam jumlah kecil.

Lalu bagaimana rencana penyediaan vaksin Covid-19 di dalam negeri? Perusahaan farmasi pelat merah, PT Bio Farma (Persero) kemarin menyepakati kerja sama penyediaan vaksin Covid-19 dengan Sinovac Biotech Ltd. 

Penandatanganan kerja sama ini dilakukan di Kota Sanya, Cina, Kamis, 20 Agustus 2020 dan disaksikan oleh Menteri Luar Negeri Retno Marsudi serta Menteri BUMN Erick Thohir. “Kami menyaksikan perjanjian Bio Farma dan Sinovac untuk kerja sama vaksin. Ada dua dokumen yang ditandatangani,” kata Retno dalam konferensi virtual, Kamis petang, 20 Agustus 2020. 

Dalam lembar kerja sama yang pertama, kedua perusahaan menyepakati komitmen ketersediaan vaksin Covid-19 hingga 40 juta dosis. Vaksin ini akan disediakan mulai November 2020 hingga Maret 2021.

Sedangkan pada lembar dokumen kedua, Sinovac akan memberikan prioritas penyediaan vaksin kepada Bio Farma setelah Maret 2021 hingga akhir 2021. “Ini kerja sama yang cukup panjang antara Bio Farma dan Sinovac,” ujar Retno.

Adapun Erick Thohir mengatakan kerja sama Bio Farma dan Sinovac bersifat win-win solution. Erick menjelaskan, Sinovac akan memberikan transfer teknologi kepada Bio Farma.

“Jadi Bio Farma bukan tukang jahit,” ucapnya. Erick Thohir menargetkan, imunisasi massal untuk vaksin Corona terselenggara mulai awal tahun depan.

BISNIS | FRANCISCA CHRISTY

Baca juga: Bio Farma - Sinovac Sepakati Produksi 40 Juta Vaksin Covid-19 untuk RI


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT