2023, Menkominfo: RI Punya Satelit Multifungsi Berkapasitas Besar
TEMPO.CO | 30/08/2020 15:27
Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Johnny G. Plate dalam acara digital Peluncuran Google Cloud Platform (GCP) Region Jakarta, Rabu, 24 Juni 2020. (cloudonair.withgoogle.com)
Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Johnny G. Plate dalam acara digital Peluncuran Google Cloud Platform (GCP) Region Jakarta, Rabu, 24 Juni 2020. (cloudonair.withgoogle.com)

TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Johnny G Plate mengatakan, Indonesia akan mempunyai satelit multifungsi dengan kapasitas yang besar pada 2023. Satelit tersebut akan membuat masyarakat di seluruh Indonesia mendapatkan akses internet.

Pada awal September 2020, Johnny mengatakan  dirinya akan mengumumkan sindikasi pembiayaan satelit multifungsi sebesar US$ 400 juta. Adapun, satelit yang dimaksud adalah Satelit Republik Indonesia atau Satria.

"Itu berarti kita akan mempunyai satu satelit besar yang akan siap digunakan pada 2023 dengan kapasitas 150 giga byte per second," kata dia saat acara kickoff Program Bank Indonesia dalam Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia secara virtual, Ahad, 30 Agustus 2020.

Sebagai gambaran, kata Johnny, satelit yang akan digunakan pada tahun 2023 itu kapasitasnya lebih besar tiga kali lipat jika dibandingkan dengan sembilan satelit nasional yang saat ini masih digunakan.  "Saat ini kita gunakan ada lima nasional dan empat (milik) asing itu kapasitasnya sekitar 50 giga byte pe rsecond," ucapnya.

Dengan peluncuran satelit tersebut, Johnny mengharapkan dapat meningkatkan pengguna dari internet di Indonesia. Hingga saat ini, menurut catatannya pengguna Internet di Indonesia sudah mencapai 175 juta orang atau sekitar 64 persen dari total penduduk Indonesia.

"Internet user itu sebagian peluang yang begitu besar dan kami akan menyediakan bandwith yang cukup dan kesiapan infrastruktur telekomunikasi yang memadai dari seluruh layer," tutur Johnny.

Johnny mengatakan, Indonesia juga terus mengembangkan teknologi lainnya untuk mendukung kebutuhan digital. Kebutuhan yang tinggi serta biaya yang tidak murah, Indonesia mendapat dukungan dari sejumlah negara.

Pihaknya telah bertemu dengan delegasi negara sahabat dan telah menerima komitmen untuk membantu pengembangan sarana digital Indonesia.

"Seperti, pemerintah Perancis memberikan dukungan dalam pembangunan pusat data sekitar US$ 400 juta, Amerika Serikat juga akan mendukung digitalisasi broadcasting Indonesia, Jepang juga sama," ujar Johnny.

Oleh karena itu, dengan situasi pandemi, menurut dia, harus bisa mengambil peluang guna melakukan reformasi di seluruh sektor. Satelit tersebut direncanakan akan meluncur pada 2023 dengan menggandeng perusahaan transportasi luar angkasa milik Elon Musk, SpaceX, sebagai pabrikan untuk satelit peluncur.

Ia berharap peluncuran satelit tersebut dapat menjangkau setidaknya sekitar 150 ribu titik layanan publik yang saat ini belum memiliki atau belum mendapatkan akses internet yang memadai.

Baca juga: Satelit Nusantara 2 yang Gagal Orbit Sudah Diasuransikan Penuh


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT