Pilkada Serentak, Erick Thohir : Bisa Menjadi Gelombang 3 yang Membahayakan
TEMPO.CO | 11/09/2020 19:50
Menteri BUMN Erick Thohir mendatangi rumah duka Pendiri Kompas Gramedia, Jakob Oetama di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta, Rabu, 9 September 2020. Jakob Oetama meninggal pada usia 88 tahun karena mengalami gangguan multiorgan. TEMPO/Nurdiansah
Menteri BUMN Erick Thohir mendatangi rumah duka Pendiri Kompas Gramedia, Jakob Oetama di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta, Rabu, 9 September 2020. Jakob Oetama meninggal pada usia 88 tahun karena mengalami gangguan multiorgan. TEMPO/Nurdiansah

TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Pelaksana Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN) sekaligus Menteri BUMN, Erick Thohir mengimbau, kepada para calon kepala daerah yang mengikuti kontestasi Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pilkada) Serentak tak hanya memikirkan keterpilihannya saja. Tapi dapat menjaga agar ajang kontestasi ini tidak menjadi kluster penyebaran Covid-19 baru.

"Kita menekan situasi Pilkada dan statement kami (KPCPEN) termasuk saya sendiri sangat keras jangan kita bicara sukses Pilkada tapi gagal penanganan covid. Karena ini bisa menjadi gelombang ketiga yang sangat membayangkan," dia kata Erick dalam Dies Natalis 63 Tahun Universitas Padjajaran (UNPAD) secara virtual, Jumat, 11 November 2020.

Dia mengimbau kepada calon kepala daerah juga harus ikut dalam mengkampanyekan pelaksanaan protokol kesehatan. Hal itu dilakukan demi menekan penyebaran pandemi mematikan tersebut.

"Saya tidak ada maksud menakut-nakuti bahwa kita tidak akan melihat penurunan jumlah kasus COVID secara signifikan, kalau perilaku disiplin protokol kesehatan tidak dilakukan bersama-sama," ujar Erick.

Menurut Erick, jika melihat bagaimana kondisi sekarang Indonesia lebih baik jika dibandingkan dengan negara-negara seperti India, Brazil dan Amerika Serikat.

Dia menjelaskan, seperti di India yang mendapatkan angka satu juta kasus terkonfirmasi Covid-19 dalam tempo 12 hari. Bukan tidak mungkin jika tidak berdisiplin protokol kesehatan, Indonesia mendekati capain negara-negara tersebut.

Namun, kata dia, semua pihak tidak mau Indonesia terus mendekati angka kasus negara-negara tersebut.

"Kalau kita berasumsi jelek saja misalkan terjadi 3.000 kasus COVID per hari, maka di akhir Desember 2020 kasus pandemi Indonesia bisa mencapai 500 ribu," tutur Erick.

Dalam menekan angka terkonfimasi Covid-19, Erick mengungkapkan, pemerintah akan kembali mengaktifkan Puskesmas sebagai ujung tombak deteksi dini. Lalu di setiap daerah, akan ditingkatkan rumah sakit rujukan untuk pasien Covid-19. Kemudian, pelayanannya akan ditingkatkan juga dengan pendekatan berkualitas dan terjangkau. "Ini kita coba lakukan," ujarnya.

Baca juga: Siap-siap, Erick Thohir Pastikan Operasi Yustisi Masker Dimulai Senin Depan

 


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT