Dinkes DKI : Tower 5 Wisma Atlet Sudah Siap Isolasi Pasien Covid-19
TEMPO.CO | 15/09/2020 05:16
Foto aerial suasana Rumah Sakit Darurat Penanganan COVID-19 Wisma Atlet Kemayoran, di Jakarta, Kamis, 11 September 2020. Rencananya dua tower tambahan akan dipergunakan sebagai ruang perawatan pasien. ANTARA/Galih Pradipta
Foto aerial suasana Rumah Sakit Darurat Penanganan COVID-19 Wisma Atlet Kemayoran, di Jakarta, Kamis, 11 September 2020. Rencananya dua tower tambahan akan dipergunakan sebagai ruang perawatan pasien. ANTARA/Galih Pradipta

TEMPO.CO, Jakarta - Dinas Kesehatan DKI menyatakan tower 5 Wisma Atlet Kemayoran sudah siap dijadikan tempat isolasi bagi pasien Covid-19.

"Yang sudah siap tower 5," ujar Kepala Dinas Kesehatan DKI Widyastuti saat ditemui di Balai Kota Jakarta Pusat, Senin 14 September 2020.

Widyastuti mengatakan kapasitas tower 5 Wisma Atlet diperkirakan bisa menampung 2.000 pasien Covid-19. Selain itu, Pemerintah DKI dan Pemerintah Pusat juga tengah menyiapkan tower 4 dan sejumlah hotel untuk tempat isolasi pasien Covid-19.

Widyastuti menyebutkan kebutuhan tempat isolasi pasien Covid-19 diperkirakan hingga 6.000 tempat tidur bila dihitung dari jumlah pasien asimtomatik atau tanpa gejala dari kasus postif aktif saat ini. Berdasarkan laman resmi corona.jakarta.go.id terdapat 12.440 pasien kasus aktif.

"Kebutuhan harian kita mempunyai kasus aktif sekitar 11.000u yang asimtomatik 50 persen," ujarnya.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengatakan saat ini pasien Covid-19 yang menjalani isolasi mandiri sudah mulai dipindahkan ke tempat isolasi yang disiapkan. "Progresnya sudah mulai hari ini," ujarnya.

Baca juga: Wali Kota Jaktim Minta Warganya yang Terpapar Covid-19 Diisolasi di Wisma Atlet

Anies menyebutkan saat ini Pemerintah DKI sedang menunggu keputusan dari Pemerinta Pusat terkait pemanfaatkan hotel sebagai tempat tambahan untuk isolasi pasien Covid-19. "Kalau sudah lengkap nanti kita umumkan," ujarnya.

Anies mengatakan penerapan isolasi terkendali tersebut diberlakukan untuk pasien positif Covid-19 dengan gejala ringan dan pasien tanpa gejala. Dalam Pergub 88 tahun 2020, pasien yang menolak untuk diisolasi akan dijemput paksa oleh petugas kesehatan didampingi aparat penegak hukum.

Sebelumnya Anies menyatakan isolasi terkendali diperlukan untuk meniadakan isolasi mandiri di rumah, karena berpotensi menimbulkan kluster rumah. Menurut dia banyak pasien Covid-19 yang belum memiliki pengetahuan dan kemampuan untuk menjaga dirinya agar tidak menularkan ke anggota keluarga yang lain.


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT