4 Kritik Ahok yang Viral Soal Pertamina sampai Isu Lobi Menteri BUMN
TEMPO.CO | 19/09/2020 07:23
Komisaris Utama Pertamina ini melaporkan akun Instagram @ito.kurnia, yang kerap mengunggah konten yang dianggap telah mencemarkan nama baik keluarganya. TEMPO/M Julnis Firmansyah
Komisaris Utama Pertamina ini melaporkan akun Instagram @ito.kurnia, yang kerap mengunggah konten yang dianggap telah mencemarkan nama baik keluarganya. TEMPO/M Julnis Firmansyah

TEMPO.CO, Jakarta - Komisaris Utama PT Pertamina (Persero) Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok melontarkan sejumlah kritik mengenai masalah internal perseroan hingga permasalahan Badan Usaha Milik Negara secara umum. Pernyataan ahok tersebut viral melalui video berjudul “NEKAT! AHOK BERANI LAKUKAN INI” oleh akun Poin di YouTube.

Ahok mengaku tidak mengetahui latar belakang diunggahnya video tersebut. Sebab, ia mengatakan video tersebut bukan diunggah oleh pihaknya. Namun, Ahok mengakui bahwa isi tayangan itu merupakan bagian dari evaluasi untuk internal Pertamina.

Dia pun menyatakan evaluasi terhadap perusahaan telah dilakukan sejak lama, yakni sejak Ahok diangkat sebagai bos perusahaan pelat merah. “Sejak masuk, kami sudah kencang (melakukan evaluasi) dan masukkan chief auditor executive dari luar. Sayangnya kena (imbas) Covid-19, jadi baru dua bulan kemudian mulai audit,” tutur Ahok, Kamis, 17 September 2020.

Ahok menjelaskan, upaya perbaikan tata-kelola Pertamina sebagai reaksi atas hasil evaluasi tersebut diwujudkan dalam berbagai cara. Misalnya bekerja sama dengan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Dia juga memastikan adanya transparansi pengadaan dengan sistem digital untuk menghindari berbagai kecurangan. Bahkan, sistem digital direncanakan merambah ke pelaksanaan tata-kelola manajemen secara keseluruhan. “Kami juga sedang siapkan sampai memo disposisi, semua harus digital,” katanya.

Ada sejumlah kritik yang dilontarkan Ahok, mulai dari perkara internal perusahaan sampai perkara BUMN. Berikut ini adalah ringkasan kritik Ahok dalam video tersebut.

1. Soal kepegawaian di Pertamina
Ahok mendorong terus dipangkasnya birokrasi di Pertamina, di antaranya lewat mekanisme kenaikan pangkat jabatan. Dulu, kata dia, seseorang yang berkarir di perseroan perlu waktu panjang untuk menduduki jabatan tinggi di perusahaan energi pelat merah itu.

"Dulu kalau naik pangkat di Pertamina harus lewat Pertamina Reference Level, untuk bisa jadi SVP harus 20 tahunan. Sekarang saya ubah. Harus lewat lelang terbuka," kata dia.

Ia juga mempersoalkan masih ada yang memanipulasi gaji di Pertamina. Contohnya, orang yang sudah dicopot dari jabatannya, namun standar gajinya masih menggunakan besaran yang lama.

"Ada pejabat yang dicopot, tapi masih dapat gaji dengan besaran seperti di posisi sebelumnya. Padahal semestinya mengikuti jabatan baru. Bayangkan ada yang digaji Rp 75 juta, tidak kerja apa-apa karena gaji pokok dipatok tinggi. Ini yang sedang kita ubah sistemnya," ucapnya

2. Kebijakan utang perseroan hingga perkara eksplorasi
Ahok menyoroti langkah perseroan yang terus menarik utang untuk melakukan akuisisi. Padahal, menurut dia, perseroan bisa memaksimalkan eksplorasi minyak di dalam negeri.

"Minjam duit sudah ngutang US$ 16 miliar, tiap kali otaknya minjam duit terus nih saya sudah kesal ini. Minjam duit terus, mau akuisisi terus. Saya bilang tidak berpikir untuk eksplorasi, kita masih punya 12 cekungan yang berpotensi punya minyak, punya gas. Ngapain di luar negeri? Ini jangan-jangan ada komisi ini, beli-beli minyak ini," ujar dia dalam video tersebut.

Ia pun mengaku kesal perkara proyek kilang perseroan. Bahkan ia mengaku hendak melakukan audit terkait ini. "Makanya nanti saya mau rapat penting soal kilang. Berapa investor yang sudah nawarin mau kerja sama kalian diemin? Terus sudah ditawarin kenapa ditolak? Terus kenapa kerja seperti ini? Saya lagi mau audit. Cuma saya emosi juga kemarin. Mereka lagi mancing saya emosi, saya emosi laporin Presiden apa? Ahok mengganggu keharmonisan," kata Ahok.

3. Kritik soal Kementerian BUMN
Dalam video viral berdurasi 6 menit 39 detik itu, Ahok menyampaikan kekesalannya dalam mengawasi Pertamina. Salah satunya adalah ketika ada direksi yang diganti tanpa sepengetahuan dirinya.

Begitu juga pergantian direksi perusahaan negara yang ditentukan oleh Kementerian BUMN. "Karena semua RUPS yang menentukan KPI (key performance indicator) itu dewan komisaris dan dewan direksi yang ada di Kementerian BUMN," katanya.

Ahok juga menyinggung soal praktik-praktik bagaimana direksi BUMN bermain aman dengan melobi langsung Menteri BUMN. Sejumlah komisaris BUMN pun merupakan titipan dari kementerian.

Tak hanya itu, Ahok pun berpendapat sudah saatnya Kementerian BUMN dibubarkan dan diganti dengan superholding yang menaungi holding-holding perusahaan pelat merah yang ada, seperti sistem Temasek Singapura. "Kementerian BUMN harus dibubarkan sebelum pak Jokowi turun," ucapnya.

Staf Khusus Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Arya Sinulingga mengatakan Menteri BUMN Erick Thohir telah memanggil Ahok ke kantornya, kemarin, 17 September 2020. Pemanggilan itu, kata Arya, dilakukan Erick untuk mengklarifikasi langsung kritik Ahok di dalam video viral tersebut.

"(Erick Thohir) menerima masukan dari Pak Ahok. Jadi pada pertemuan ini Pak Ahok menyampaikan apa yang dia lihat di Pertamina, apa saja kelemahan-kelemahan yang ada dan memberitahu semua ke Pak Menteri. Masukan itu sangat bagus diterima Pak Menteri juga," kata dia melalui pernyataan kepada awak media, Jumat, 18 September 2020.

4. Perum Peruri
Perum Peruri pun tak lepas dari kritik Ahok. Ia kesal dengan perusahaan yang sama-sama milik negara itu malah minta Pertamina membayar Rp 500 miliar untuk sistem paperless di perusahaan migas tersebut.

“Sekarang saya lagi paksakan tanda tangan digital. Tapi Peruri masa minta Rp 500 miliar untuk proses paperless di kantor Pertamina, itu BUMN juga,” ujar Ahok. "Itu sama saja uadah dapat Pertamina enggak mau kerja lagi, tidur sepuluh tahun, jadi ular sanca, ular piton saya bilang. Itu kan enggak masuk akal seperti ini, Anda Peruri sudah dapat Rp 10 miliar, Rp 20 miliar sudah bagus."

Baca juga: Arya Sinulingga: Masukan Ahok Sangat Bagus, Diterima Erick Thohir

CAESAR AKBAR | FRANCISCA CHRISTY



CAESARAKBAR


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT