Lembaga Survei Ungkap Strategi Dulang Suara di Pilkada 2020
TEMPO.CO | 27/09/2020 19:16
(kiri ke kanan) Sekjen DPP Partai Gerindra, Ahmad Muzani, Ketua DPP PDI Perjuangan Maruarar Sirait, Direktur Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi dan Wasekjen Partai Demokrat Saan Mustofa menjadi pembicara pada rilis survey tentang Efek Kampany
(kiri ke kanan) Sekjen DPP Partai Gerindra, Ahmad Muzani, Ketua DPP PDI Perjuangan Maruarar Sirait, Direktur Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi dan Wasekjen Partai Demokrat Saan Mustofa menjadi pembicara pada rilis survey tentang Efek Kampanye dan Efek Jokowi: Elektabilitas Partai Jelang Pemilu Legislatif 2014 di Jakarta (4/4).ANTARA/Wahyu Putro

TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia, Burhanuddin Muhtadi, mengatakan Pilkada 2020 di tengah pandemi Covid-19 memunculkan dua tantangan besar. Menurut dia, tantangan itu ialah meningkatnya politik uang dan potensi rendahnya partisipasi pemilih.

Ia menyarankan dua hal bagi calon kepala daerah perempuan dalam menghadapi tantangan itu guna meraih hasil maksimal. Burhanuddin menjelaskan toleransi terhadap politik uang bakal meningkat di masa pandemi Covid-19 karena masyarakat merasakan tekanan ekonomi semakin menguat. "Uang sekecil apapun jadi penting buat warga," katanya dalam diskusi Pilkada dan Perempuan, Ahad, 27 September 2020.

Untuk menghadapi hal itu, Burhan menyarankan, para kandidat membuat posko-posko pengaduan antipolitik uang atau sayembara bagi siapa saja yang bisa menangkap pelaku. "Ini efektif dalam pengertian Anda tidak melakukan politik uang," tuturnya.

Adapun tantangan kedua adalah potensi tingginya angka Golput karena masyarakat enggan ke TPS lantaran khawatir tertular Covid-19. Solusinya, kata dia, calon perempuan harus membangun sentimen ke pemilih perempuan.

Caranya adalah memastikan para pemilih yang ramah terhadap calon perempuan mendapatkan akses yang mudah untuk datang ke TPS. "Sehingga mudah untuk menyalurkan pilihannya di masa pandemi," ucap dia.

Selain itu, kata Burhan, faktor penting untuk memenangkan Pilkada adalah popularitas yang tinggi. Namun Pilkada 2020 di tengah pandemi Covid-19 membatasi calon kepala daerah untuk bertemu langsung dengan pemilih. Oleh karena itu, kandidat dituntut kreatif dan memaksimalkan jaringan sosial di tengah masyarakat.

Di Pulau Jawa, kata dia, bisa dengan mendekati para ketua rukun tetangga (RT). Sementara di luar Pulau Jawa bisa memaksimalkan kepala desa. Burhan menilai RT maupun kepala desa sering dijadikan sumber referensi penting oleh masyarakat setempat. Cara lainnya dengan masuk melalui arisan warga atau pengajian.

"Kalau ditanya apa yang paling mudah untuk mengenalkan diri? ya, spanduk atau baliho. Tapi apa yang paling meyakinkan buat perempuan untuk bisa dipilih? ya, tatap muka. Mau gak mau," ucap dia.

"Tapi kita sedang hadapi situasi di mana selincah apapun politikus perempuan gak mungkin mencapai 100 persen dari populasi. Mau gak mau butuh jaringan tim sukses," kata Burhan.

AHMAD FAIZ


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT